Saturday, May 12, 2007

Seri Diskusi

Musa, Adam dan Iblis

Saya sering mendengarkan penceramah Muslim bercerita tentang Nabi Musa (as.) yang minta izin untuk melihat Tuhan. Dijelaskan kepada Nabi Musa (as.) bahwa dia tidak akan sanggup melihat Tuhannya. Bisa saja Allah swt. berhenti dengan pernyataan itu saja, akan tetapi Allah malah melakukan lebih dengan memberikan “bukti” kepada Nabi Musa (as.). Allah mulai menampakkan diri di belakang sebuah gunung, dan pada saat cahaya dari Allah baru mulai kelihatan maka gunung itu meledak karena tidak tahan terhadap cahaya dari Allah. Nabi Musa (as.) jatuh pingsan karena ternyata dia juga tidak sanggup melihat cahayanya Allah, apalagi Allah sendiri.

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung kepadanya), berkatalah Musa:"Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman:"Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata:"Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang pertama-tama beriman".

(Surah A’raaf, QS. 7:143)

Kejadian ini memberi kita pengertian bahwa manusia tidak bisa melihat Tuhan karena kita memang tidak sanggup. Di sini saya akan memberikan satu alasan yang insya Allah akan menjelaskan tentang kenapa kita tidak bisa melihat Tuhan yang Maha Esa, dan bagaimana hal itu merupakan rahmat bagi kita semua. Kita mulai dari waktu Nabi Adam (as.) diciptakan, dan Allah perintahkan semua malaikat untuk bersujud kepadanya sebagai suatu tanda kehormatan.

11. Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam"; maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud.

12. Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis: "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". 13. Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina". (Surah Al-A’raf, QS. 7:11-13)

Dalam ayat ini kita diperkenalkan dengan suatu mahluk yang tidak mau bersujud dan menunjukkan kesombongannya karena dia berani membantah dengan Allah swt. dan mengatakan bahwa dirinya lebih baik dari Nabi Adam (as.). Mahluk ini dinamakan Iblis di dalam Al Qur’an. Setelah membantah dengan Tuhan yang Maha Esa dan menolak perintahnya, dia menjadi mahluk yang pertama yang dikutuk untuk selama-lamanya. Kejadian ini sangat istimewa karena ini pertama kali (setahu kita) bahwa seorang mahluk dikutuk untuk selama-lamanya. Dan sekali lagi kejadian ini juga istimewa karena pengutukan sepanjang masa ini juga tidak terulang lagi di dalam Al Qur’an.

Allah berfirman:"Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk,
dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat".

(Surah Al-Hijr, QS. 15:34-35)

Yang bisa kita pertanyakan adalah kenapa Iblis langsung kena kutukan dari Allah swt. dan kemudian hukuman dari Allah itu ditangguhkan sampai hari kiamat? Pada saat dinyatakan sebagai mahluk yang terkutuk, sangat menarik bahwa Iblis tidak berprotes. Dia tidak menuduh bahwa Tuhan tidak adil. Tidak ada bantahan Iblis di dalam Al Quran bahwa dia tidak bersalah dan tidak pantas mendapat hukuman yang begitu berat. Kalau seorang manusia kena hukuman yang sama, saya kira orang mana saja pasti akan berprotes dan mencari jalan keluar dari hukuman tersebut. Sebaliknya, Iblis ternyata langsung menerima hukumannya, tetapi dengan memohon agar hukuman itu ditangguhkan sampai hari kiamat supaya ada waktu untuk menyesatkan manusia.

14. Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan". 15. Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh." 16. Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,
(Surah Al-A’raf, QS. 7:11-16)

Yang jelas, Iblis mempunyai keinginan untuk mengajak bani Adam mengikutinya masuk neraka, supaya dia bisa membuktikan kepada Allah swt. bahwa dia memang lebih baik daripada Adam (as.) atau paling sedikit supaya dia bisa membuktikan bahwa Adam (as.) dan ummatnya hanya sederajat dengan Iblis dan tidak lebih.

Sekarang, ada suatu keadaan yang menarik. Allah swt. telah mengutuk Iblis, tetapi daripada langsung membuangnya ke dalam neraka, Allah malah memberikan waktu kepadanya untuk menyesatkan manusia yang mau mengikutinya. Kalau kita percaya bahwa Allah swt. selalu mengetahui semua hal yang akan terjadi, berarti Allah juga tahu bahwa Iblis akan menunjukkan kesombongannya, menjadi mahluk terkutuk, dan kemudian akan diberi waktu untuk menyesatkan manusia yang mau mengikutinya. Kalau hal itu memang benar, berarti kita harus menerima kenyataan bahwa adanya Iblis dan pengikutnya, dan pengaruh mereka terhadap manusia adalah suatu hal yang diketahui Allah sebelum menciptakan jin atau manusia. Dan karena hal ini diizinkan Allah, berarti pasti ada hikmahnya.

Kita bisa menerima kenyataan bahwa semua ini berlangsung sesuai dengan rencana Allah karena semua hal selalu berlangsung sesuai dengan rencana Allah. Sekarang kita bisa melihat sebuah hubungan khusus antara manusia dan Iblis yang akan menyesatkan manusia, dimulai dari Nabi Adam (as.) sendiri. Allah tahu bahwa Iblis akan mempengaruhi Adam (as.) dan Allah memang mengizinkan kejadian itu. Soalnya, kalau kejadian itu tidak sesuai dengan rencana Allah dan tanpa izin Allah, maka bagaimana mungkin hal itu bisa terwujud? Bukankah Allah yang berkuasa atas segala-galanya?

Katakanlah:"Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui". Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Ali Imran:29)

Sekarang, di dalam sorga, ada Nabi Adam (as.) bersama Hawa dan juga Iblis! Iblis telah dikutuk dan tidak lagi memiliki tujuan hidup kecuali menyesatkan keturunan Bani Adam supaya sebanyak mungkin akan menemaninya masuk neraka. Dengan izin Allah swt. (karena tidak mungkin terjadi tanpa izin Allah) Iblis bisa masuk sorga untuk mengganggu Adam (as.) dan Hawa. Dan dia berhasil. Dia meyakinkan mereka untuk makan buah yang terlarang, yang menyebabkan mereka dikeluarkan dari sorga dan ditempatkan di bumi.

35. Dan Kami berfirman:"Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.

36. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman:"Turunlah kamu! Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan".
(Surah Al-Baqarah, QS. 2:35-36)

Dalam contoh ini, kesalahannya Iblis hanya satu dan sebagai akibatnya, dia dikutuk sepanjang masa. Kesalahan Nabi Adam (as.) dan Siti Hawa juga hanya satu, dan sebagai akibatnya, mereka dikeluarkan dari sorga tapi tidak dikutuk sepanjang masa. Kenapa ada perbedaan dalam kedua kasus ini? Kalau Allah Maha Adil maka harus ada keadilan di dalam keputusannya ini. Kenapa Nabi Adam (as.) dan Iblis menerima hukuman yang berbeda sebagai akibat dari kesalahannya?

Mungkin suatu hal yang mempengaruhi hukuman dari Allah ini adalah kenyataan bahwa hanya Iblis yang membantah dengan Allah. Pada saat Adam (as.) dan Siti Hawa diberitahu bahwa mereka telah berbuat salah, mereka bertaubat dan mohon ampun. Iblis tidak. Dia tidak mau bertaubat dan tidak pula minta ampun.

37. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
(Surah Al Baqarah, QS. 2:37)

Drama ini antara Iblis dan Nabi Adam (as.) telah terjadi sebelum kita lahir, tetapi Allah memastikan bahwa kita mengetahui kejadian ini lewat ayat-ayat yang dilestarikan di dalam al Qur’an. Kenapa? Mungkin ada sebuah hikmah di belakang cerita tersebut, sebuah hikmah yang akan membantu kita lebih memahami Allah atau menjadi lebih dekat kepada-Nya.

Pertama adalah kasusnya Iblis. Pada saat Allah perintahkan semua malaikat bersujud kepada Adam (as.), Iblis menolak dan membantah dengan Allah. Dia menyatakan bahwa dirinya lebih baik dari Adam (as.) karena dia dibuat dari api padahal Adam (as.) dibuat dari tanah. Menurut Iblis, api lebih baik dari tanah, jadi dia menolak untuk bersujud. Kesombongan ini diikuti dengan sebuah kejadian yang lebih serius lagi. Sudah cukup berbuat salah dan menentang Allah swt., Iblis membuat keadaanya lebih buruk lagi dengan tidak langsung bertaubat dan minta ampun, seperti halnya Adam (as.) dan Hawa. Iblis melawan Allah seperti prajurit yang melawan “musuhnya”. Tanpa merasa bersalah. Tanpa merasa harus minta maaf. Apapun yang dia pikirkan adalah benar menurut dia. Iblis menunjukan sebuah sikap dan dia siap bertanggungjawab 100% atas sikap itu. Tidak ada yang mempengaruhinya. Tidak ada yang membujuknya untuk berbuat salah. Hal ini berbeda dengan kasus Adam (as.), di mana Adam (as.) dipengaruhi Iblis dan oleh karena itu bisa dikatakan bahwa dia tidak bertanggungjawab 100% atas kesalahannya. Iblis berbuat salah dan bertanggunjawab 100% atas kesalahan itu dan dia juga menerima hukumannya 100% tanpa pengampunan atau suatu kekurangan dari hukuman tersebut.

Kedua adalah kasusnya Nabi Adam (as.). Nabi Adam (as.) adalah manusia pertama dan sebagai seorang manusia, dia memiliki semua kekuatan dan kelemahan yang dimiliki kita semua. Allah telah memberikan ilmu kepadanya dan juga memberikan kebebasan kepadanya. Nabi Adam (as.) bebas untuk memilih, dan dalam kasus di atas, dia memilih yang salah. Dia dipengaruhi Iblis dan dia memilih suatu tindakan yang sebelumnya tidak dipikirkan. Hanya pengaruh dari Iblis yang membuatnya menjadi orang yang berdosa. Tetapi, setelah dinyatakan sebagai orang yang berdosa dia bertaubat dan mohon ampun. Dan hal inilah yang membuatnya berbeda dengan Iblis. Dia bersedia untuk mengakui kesalahannya itu dan mau mohon ampun dari Allah swt.. Allah menagampuni Adam (as.) dan tidak menjatuhkan kepadanya hukuman yang berat seperti yang diberikan kepada Iblis. Akan tetapi, Adam (as.) dikeluarkan dari sorga dan ditempatkan di dunia. Sekarang, semuanya sudah siap untuk menjalankan rencana Allah: sebuah ujian bagi setiap manusia. Bagi yang memilih untuk beriman, ada kesempatan untuk kembali ke sorga. Bagi yang tidak mau beriman, ada tempat satu lagi yang telah disediakan.

-------------------------------------------------------------------------

Diskusi :

Kajian yang menarik dari seorang Gene Netto, muallaf dari Selandia Baru yang telah menetap di Indonesia selama 10 tahun.

Dia mengkritisi ttg. hukuman yang dijatuhkan ALLAH kepada iblis karena menentang perintah ALLAH untuk sujud kapada Adam a.s. Iblis berargumen bahwa dirinya diciptakan ALLAH dari api yang menurut dirinya api lebih mulia dari tanah. Gene Netto menyebutkan bahwa, semua kejadian di alam semesta ini tak akan luput dari ALLAH swt. atau kata lain bahwa semua itu adalah rencana ALLAH swt.

Pendapatku, Iblis tidak tahu, bahkan Malaikat-pun tidak tahu bahwa semuanya ini sebenarnya sudah termasuk dalam skenario ALLAH yang akan menjadikan mahluk di bumi.

Ingat ayat Al Qur’an tentang firma ALLAH kepada para Malaikat QS 2:30 :

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Jadi sebenarnya, menciptakan Adam a.s. dan menempatkan Adam a.s. di syurga hanya sebatas sementara saja, dan sengaja didampingkan dengan Iblis supaya Adam a.s. tergoda oleh bisikan Iblis yang menyesatkan. Pada hakikatnya jauh sebelum itu, ALLAH punya rencana untuk menciptakan makhluk yang nantinya akan ditempatkan di bumi dan akan menerima amanah ALLAH untuk menjadi khalifah di bumi, makhluk lainnya tak ada yang sanggup menerima amanah tersebut dan......makhluk yang namanya manusia lah menyatakan sanggup menerimanya.

QS 30:72 : Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,

Jadi, sengaja ALLAH membuat sifat iblis itu sombong supaya dia membangkang terhadap perintah sujudnya dia kepada Adam a.s. Skenario inilah yang dibuat ALLAH untuk menempatkan manusia di bumi.

Atas kesombongan itu Iblis dikutuk, atas kutukan itu Iblis bersumpah untuk menjerumuskan manusia, atas sumpah Iblis itu manusia terjerumus kelembah yang hina sehingga karenanya jadi bersama-sama Iblis masuk neraka. Jadi itu sebetulnya sudah dalam rencana ALLAH! Untuk terhindar dari bencana itu, ALLAH membuat buku “manual” bagi manusia dalam menjalani hidupnya yaitu berupa Al Qur’an yang mulia, agar manusia terhindar dari bujukan Iblis yang menyesatkan.

Subhanallah, beruntung aku dilahirkan dan ditaqdirkan untuk menjadi muslim. Mudah-mudahan taqdir ini berjalan dan DIA tidak memalingkan aku daripadaNYA setelah IA meng-iman-kanku kepadaNYA, sampai aku dipanggilNYA kelak.......

Ya ALLAH, teguhkanlah imanku dan janganlah engkau palingkan aku sesudahnya...........Amin.

Friday, April 13, 2007

Basa ka Ciamis tea - mulang...

Ba’da Maghrib, poe Kemis, 5 April 2007 (jadi malem Juma’ah), acara ngariung dulur jeung tatangga pikeun tahlilan Bi Nunung diayakeun di Masjid Cilulut, teu di imah Nunung da di imah mah loba jalma, dulur-dulur tea.

Breng tahlilan, loba pisan geuning tatangga anu datang, ti Citapen lolobana mah – kaciri marawa lampu senter, poek da di jalanna. Ari sugan teh rek ngan aya 10 atawa 20 urang, ari heg teh mani jul jol teu eureun eureun nepi ka pinuh eta masjid, tangtu dulur mah kabeh oge datang. Biasa, anduk anduk papaku teh dimimitian ku Mang Munir samemeh tahlilan. Rengse tahlilan diteruskeun kana shalat ‘Isya.

Basa tahlilan harita, keur meumeujeuhna maca “Laa ilaaha illallaah”, karasa HP teh ngageter, kusabab dijero calana – hararese lamun dikaluarkeun atuda keur sila, diantep bae heula. Ari rengse tahlil, ditenjo teh, wah ti ozi. Langsung di telepon, seneng kan Ang?. He..he.. Lantaran diuk deukeut Mang Ujang, sakalian we diserahkeun ka tuang ramana ambeh uplek. Ngan hanjakalna, pas ngobrol…pas Mang Cucu adzan, jadi teu kakuping, tungtungna telepon teh usai. Karunya……..

Rengse tahlil, uplek deui ngobrol di imah Nunung. Barudak ABG, anak Ai ceu Een, Anak euis Ceu Een, anak Nunung jeung barudak anu lain campur jeung bebenyit leutik, wah… pokona mah rame, duka iraha deui bisa kumpul kawas kitu. Mani waas jeung reugreug.

Jam 21:00 meureun karek bubar teh, mulang ka desa, ka imah Nini…….

(Lamun mang Aang baca ieu, tah aya hiji deui foto tuang rama waktu atara Asep di rapalan)

---------------

Poe ieu poe Juma’ah, 6 April 2007. Numut kana tanggalan, poe ieu teh beureum anu hartina pere. Cenah mah pere poe paskah, poe sucina umat Kristen, duka naon hartina – pokona mah pere we….
Teu disangka, nikahna Asep kamari 5 April 2007 teh pas pisan jeung ulang tahunna Epi, a
dina Asep. Atuh mani rame ngucapin salamet jarig (yareh?) ke Epi. Traktir….traktir…traktir ceuk sarerea teh. Belenyeh Ade Epi teh mesem. “Kieu we lah, sok enjing urang ngadamel ikan bakar, enjing kadarieu deui!” ceuk Mang Rahman teh. “Satujuuuuuuuu…” ceuk sarerea.
Tapi…. Eta acara teu jadi dijieun di imah Yayah, jadina teh di imah Nunung di Cilulut. Barabe cenah, da Yayahna ongkoh riweuh nguruskeun bubungkusan keur oleh-oleh anu baralik engke lamun pada bubar, mulang ka lembur masing-masing.

Saba’da Juma’ahan harita teh, Mang Ujang telepon ka imah,

“Araya di bumi?” cenah.

Anu narima teh ua Fe’i.

“Aya” saur ua teh.

“Sok amang bade kadinya, hayang ngobrol” cenah deui.

Teu lila teh, jebul bae anjeuna sumping nyalira. Ngobrol rame-rame, ua Fe’i, Mang Umuh (Malang), Sabar jeung kuring. Ngalor ngidul bae sagala diobrolkeun. Giliran Sabar ngobrol Jepang, anjeuna teh nyaritakeun Ozi.

“Mang, iraha Aang mulang?” ceuk kuring teh

“Tahun payun, 2008” cenah.

“Koq Aad henteu sakalian ngiring kaditu, sakola diditu?”

“Henteu. Kapan eta oge kosi kaditu, kenging 6 sasih, liburan”

“Oh….”

Pas jam kudu ka Cilulut, sarerea kan iwer, hayu…hayu… cenah. Mang Ujang teh nanya, bade ka Cilulut ieu sarera?

“Muhun”.

Atuh Mang ujang uih, punten nya Mang… Karunya, sadidinten teh cenah di bumi bae, mangka lamun aya anu mulang teh mani sok disumpingan da hayang ngobrol. Butuh batur ngobrol tah anjeunanana teh.

Sarerea ngariung di Cilulut bari mawa beuteung kempes, ke ngawaregan mah di Cilulut bae, kan aya ikan bakar. Ikan bakar geus datang kiriman ti Yayah, 2 gurame jeung sababaraha lauk red beli. Cenah mah enak, tapi dahar teh nyokot gurame bae da eta anu apal, lauk liana acan wawuh jadi ragu-ragu.

Ah resep, mani rame. Dariuk teh diluar, sisi balong – malah aya anu di saung di tengah balong. Mani kawas di “little house on the praire” Nikmaaaaat teh…. Hanjakal henteu di foto, poho bakat keu resep. Harita Yayah jeung mang Rahman mah teu milu, nyaeta tadi, keur mungkusan bakal oleh-oleh cenah da Yayah teh mani bungah anu kacida pisan wirehna sarerea dulurna tiasa datang nyaksian Asep dirapalan. Anu wareg mah ngadahar dukuh, aduh eta dukuh mani loba pisan. Duka kunaon kana dukuh teh resep pisan. Ari batur mah resep teh kana kadu, kuring mah kana dukuh! Sok, apal henteu kadu? Duren ceuk urang Jakarta mah.

Bubar ba’da ‘asar, langsung ka imah Nini deui di desa, kapan engke peuting aya tahlil nini sakalian muludan. Ade Heri (anak ua Fe’i) langsung mulang ka Jakarta, aya acara isuk cenah.

Tahlil di imah Nini mani pinuh, biasa baca yasin jeung tahlil. Tapi harita teh poho teu nyiapkeun Yasin, tapi untungna pada hafal tuh kana Yasin, euweuh fisikna surat Yasin oge lancar, anu teu apal kapan bisa nuturkeun anu apal.

Puncakna, ba’da ‘Isya, mimiti tiap “kloter” mulang. Kuring balik ka Jakarta jam 21:30 peuting naik beus, Ceu Euis (Malang) miang ka lembur Mang Umuh ka Dayeuh luhur. Isukna cenah Ua Fe’i jeung Iwan, Yati, abring-abringan ngantay mulang ka Jakarta.

Samemeh bubar, difoto bareng - mumpung ngumpul, tapi kurang hiji........

Mudah-mudahan acara kawas kieu teh bakal aya deui, someday – Insya ALLAH…..
Amin.

Tuesday, April 10, 2007

Basa ka Ciamis tea.... dirapalan

Isuk-isuk, poe ieu – Kemis 5 April 2007 geus rame, parebut pamandian. Poe ieu Asep rek di rapalan, ngadahup nya ngarana teh, diresmikeun lah jadi salaki. Cenah acara dirapalannana teh kana jam salapan. Atuh mani pahibut, da jelemana loba, untung bae pamandian di imah Yayah aya tilu, tapi teu kitu oge – tetep bae ngantri. Nikmat tapi geuning ngantri rek mandi teh, dulur kabeh. Saenyana mah geus ti jam tilu harudang teh, aya anu tahajud heula ongkoh. Anu matak rame teh eta barudak leutik, ari enggeus aya keneh anu leutik pisan, anak Ade Heri, anak Elsa, anak Eneng, mani sapantar eta teh - bangsa sataunan leuwih. Resep lah…..

Rengse sarapan, siap-siap barangkat ka imahna panganten awewe, nya kana 3 kilometer meureun. Antrian teh da pake voor riyder (kitu nulisna? – duka lah teu nyaho) eta geuning di mimitian ku motor ti hareupeun rombongan, polisina kapan babaturan Mang Dudin. Mani iwer jalma anu sisi jalan teh sapanjang jalan anu diliwatan, meureun aya naon nya ?

Nepi ka tempat, parkir mani ngaderet sisi jalan, rada jeblog taneuhna teh, kan eunggeus hujan gede kamari. Rombongan baris bari mawa babawaan panganten, mani panjang geuning da jalan anu diliwatan kawas gang, leutik. Horeng teh imahnya dijieun mani dina tungtung gawir, kaluar ti dapur teh mani lewang, luhur pisan gawirna, tapi jadi alus nya – waas ningali ka handap.

Anggahota kulawarga anu nampi rombongan geus siap di tempat upacara, di hareupeun imah da, balandongan dijieun hareupeun imah, jarareblog da kamari hujan. Di tungtung wetan aya panggung. Dina panggung geus aya organ pikeun maen organ tunggal meuruen. Dahareun geus dipajang di tukang, sigana aya sangu timbel, siomay, cendol jeung sotomi. Barudak mani pating jarerit, bungah sigana mah da loba anu dagang, balon gas, aromanis jeung es cream. Sok inget jaman budak baheula ….

Lantaran korsi anu disayagikeun teu cukup, diuk teh di emperan imah batur, rame-rame jeung anu sejen. Geuning kitu ari di kampung mah, pada guyub sasama tatanggga teh, ngeunah. Jadi imah-imah anu deukeut kana imah anu boga hajat, pasti maranehna pada “welcome” lamun rek dipake ku semah teh, mana bisa lamun di kota gede mah siga kitu. Pada hare-hare bae geuning ari di kota mah, sigana mah berhubungan jeung gegek atawa carangna penduduk meurun nya. Beuki gegek jiwa satiap meter persegi, beuki hare-hare, sabalikna beuki carang, malah beuki sauyunan. Kitu Mang Aang ? Tah geuning tingali, kuring jeung Sabar, alo anu karak balik ti Jepang, eta teh hareupeun imah batur, imah deukeut anu hajatan.

Jam satengah sapuluh, protocol ngumumkeun acara akad nikah bade di mimitian, biasa, pak lebe muka acara bari naliti kabeh syarat anu kudu aya. Protokolna lucu, mani ger-geran ngadenge omongannana, saenyana mah omongan biasa tapi bari direumbeuy ku omongan soal hubungan salaki jeung pamajikan. Eta Asep, mani lancar di rapalan teh, basa ijab, ari beres mitoha sasauran, ari celengkeung teh :

“Tarima abdi nikah sareng kawinna kuring ka Yuni binti….…”

“Sah….sah…sah “ ceuk anu hadir mani rame. Lampu blitz mani pating gurileng ngabadikeun peristiwa penting ieu. Panganten mani sumringah, bungah. Para bapak jeung Ibu masing-masing panganten pada ngusap cipanon anu ngalembereh kana pipi.

Inget tah ka dulur anu jauh di luar, harita keneh ngirim sms ngabejakeun yen Asep anak ceu Yayah ayeuna kawin. Ari horeng manehannana teh cenah enggeus telepon ka Yayahna, wilujeng cenah, ngiring bingah. Teu kaburu ngobrol lila jeung Mang ujang teh, da rariweuh, ongkoh bari moto terus da resep. Ngan katingalina sehat pisan, ibi-na oge kitu. Ngan kari dua puguh oge pupuhu teh, keun muga-muga sing paranjang yuswana.

Lancar acara akad teh, anduk-anduk papalaku samemehna, ti pihak kulawarga Ciamis diwakilan ku Mang Munir. Ngaler ngidul geuning sasaurannana, mani panjang bari jeung pake bahasa Indonesia, lamun mah nya ku basa Sunda bae.. Jeprat – jepret moto the, sugan bae aya anu alus. Di barisan hareup, baraya kabeh – aya Mang Ujang, Bi Enok, Bi Neneng.

Beres di rapalan, atuh dutuluykeun kana upacara adat cenah, nincak endog dina cowet, meupeuskeun kendi anu aya cai-an, sawer bari jeung tembangna jeung anu sajabana. Rame mani parebut duit jeung es bon bon basa di sawer teh. Para juru kamera mani riweuh moto da sieun leungit peristiwa langka kawas kieu. Anu lucu mah eta protokolna, nyaritakeun maksud sawer jeung naon hartina kendi, cowet jeung endog. Maklum, kolot jaman baheula mah rea kacida siloka. Horeng teh kitu geuning caritana, mani matak ger-geran, cenah eta kabeh deukeut pisan patalina kana panganten anyar….

Breng atuh tuluy dahar mani ecrak sarerea. Aya siomay Bandung, aya sotomi, sangu jeung rencangna anu biasa, aya sangu timbel – eta sangu anu dibungkus ku daun cau anu duleumpeuh heula geuning, ah nikmat kacida. Dahar teh tangtu atuh kana sangu timbel, raos, da dahar ge henteu jauh ti tempat dahareun, sok sieun hese nambah! Heu..heu.. Desert (wah ieu ngarana dina basa sunda teh naon nya?) anu pang resepna teh ngadahar dukuh, ah mani amis jeung loba deui. Eta oge aya anu liana, aya cau, rambutan jeung sajabana.

Bari dalahar, organ tunggal mimiti disada. Aya opatan tah sinden teh, anu matak aneh mah, kunaon nya manggung di kampung kitu mani pake pakaian aneh-aneh eta sinden? Bat teuing. Eh enya, lamun aya Nunung, meureun Nunung nyanyi nya da sok didorong-dorong ku sarerea dititah nyanyi……………

Bersambung....

Sunday, April 08, 2007

Basa ka Ciamis tea - departure..

Basa kamari 4 April 2007 mulang ka lembur, basa rek ngahadiran Yayah ngawinkeun Asep, balik teh ngaligincing bae sorangan da kulawarga the pada teu bisa, Enca ngahareupan mid test, mamahna ngawurukan enca, oq keur meumeujeuhna ujian semester. Nya eunggeus naik beus bae ka lembur teh.

Miang ti imah jam 10:00 ka Kampung Rambutan heula, maksud teh rek naek beus anu pake AC supaya heunteu cape, da lumayan jauh. Tepi ka terminal Kampung Rambutan jam 11:00, culang cileung neangan anu ka Ciamis, geuning euweuh ? Rek tatanya ka anu didinya, hoream engke sok loba kacida calo! Ditanya kunu pake baju seragam oge, cicing bae. “Kemana pak?” cenah, keun bae diantep.

Jero pikir, baca Koran ah nungguan beus teh ambeh teu pati kesel. Culang-cileung neangan anu jualan Koran, meuli dua – Kompas jeung Republika. Ari dibuka, Masya ALLAH, aya deui eta siswa IPDN (anu baheula ngarana STPDN, da diganti ngaran teh kusabab ngerakeun, aya siswana paeh gara-gara disiksa ku senorna) anu paeh deui. Ayeuna sisa urang Manado, mani budak keneh, kakara 19 taun umurna teh. Eta sakola kumaha nya, koq diantepkeun barudakna jadi kitu?

Geu hampir sa-jam nungguan beus anu ka Ciamis, euweuh bae, aya oge anu ka Tasik. Keun bae lah, naek anu ka Tasik bae, engke nyambung. Cat naek ka beus, di jero beus teh memang masih kosong, meureun aya bangsa 15 atawa 20 urang mah, da aya penumpang anus are bari rada lonjoran da bangku dua dipake sorangan. Hayang eta oge kawas kita, eh aya penumpang anu gek bae diuk sabeulah katuhu, atuh teu bias sare selonjoran.

Ari tepi the ka Tasik, meureun kana jam 17:00, horeng the terminal anyar pisan, karangan bunga ucapan selamat oge aya keneh. Saba’da sholat ‘asar, rada bingung ieu, rek ka Ciamis kana naon? Euweuh bis ka Ciamis, omprengan komo. Lamun terminal baheula mah aya, ieu tempatna dimana? Horeng ieu di daerah ..jadi masih rada jauh ke Tasik the. Keur mikiran kitu, ari breg the hujan, masya ALLAH, gede pisan! Mani gandeng eta ku sora hujan anu ragrag kana suhunan, maklum suhunannana asbes tea, lah mani teu kadenge nanaon. Atuh kumaha ieu ka Ciamis, mana hujan, poek, ieu dimana? Ahj telepon bae ka urang Ciamis ambeh di teang kadieu. Kurang leuwih maghrib, Eneng jeung salakina, Asep, datang neang. Alhamdulillah, salamet. Maghrib heula ah, kakara indit.

Bari huhujanan, tepi ka imah Yayah teh ba’da ‘Isya. Keur dalahar sarerea, mai ecrak, becek-becek oge rame. Resep lah, ngumpul oba jalma. Ngobrol ka hilir ka girang jeung baraya – mani asa reugreug, da hese atuh ngumpulan dulur sakitu jararauh! Anu can datang the kulawarga ceu Euis ti Malang, cenah geus aya di Banjar, sakeudeung deui ge meureun jol. Enya, jam 22:00 rombongan Malang datang. Atuh beuki rame da sa anak incu milu kabeh…Ah Yayah gede rejekina, sarerea dulur sakandung datang! Kakara rerep the bangsa kana jam 2:00 meureun, ma’lum atuh sono da carang panggih. Aya bae anu diomongkeun the, soal budak, incu, sakola, lah aya we lah…

Hese nyaritakeunana, kumaha ieu hate bakat ku bungah. Coba we pikir, lebaran kamari sigana Ciamis teh sepi euweuh anu balik, kudua kutilu tuda meureun, sakalian bae lah engke ari Yayah ngawinkeun. Sarerea mikir kitu, jadi we Ciamis sepi. Tapi kamari, ngadadak sarerea mulang ka Ciamis basa Nunung maot. Tos ah, ulah nyarios masalah Nunung, sedih…..

Sok, sakieu heula dongeng ka Ciamis, engke di tambahan deui terusanana, laun ceuk sinetron mah……..”bersambung”.

Wednesday, April 04, 2007

Trip to Bali - day three

Pagi ini, minggu 28 Jan 2007, Pak Dewa dari travel biro yang kita sewa telepon:

“Saya sudah di lobby pak” katanya.

“Pak, anak-anak maunya agak siang. Tunggu sebentar ya, sekitar jam 9:30 kita berangkat” jawabku.

“Kemana kita hari ini ?” tanyaku.

“ Kita ke Bedugul pak, bagus disana tempatnya, sejuk – enak dan nyaman” katanya. “Tapi sebelumnya kita mampir dulu di tempat kerajinan perak ya pak” katanya lagi.

Karena hari ini adalah hari terakhir, kita langsung berkemas dan akan langsung check out dari hotel, jadi nggak perlu balik karena pasti sudah sore dan tentunya akan menambah biaya hotel. Setelah bermalas-malasan sambil nonton TV di kamar, jam 9:30 kita berangkat.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, sampailah kami di lokasi tempat kerajinan perak. Aku nggak tahu itu di daerah mana, tempatnya rada sepi dan turis datang dan pergi secara berombongan, kebanyakannya mobil-mobil mini bus – dan kebanyakan turis asing.

Dihalaman depan, terluhat berjejer para pengrajin sedang mengerjakan apa-apa yang nantinya dipajang dan dijual di dalam. Sengaja ada stand pengerjaan di luar sebagai promosi atau agar supaya para turis lihat dan tahu bagaimana souvenit itu dibuat. Kebanyakan para pengrajin tersebut perempuan, mungkin mereka lebih teliti ? Banyak macam ragam yang dibuat, cukup bagus hasilnya sampai detil yang kecilpun dibuat mirip. Warnahnya perak dan di gosok sampai kelihatan bersih mengkilat. Jenis yang dipajang di dalam sa ngat beragam dan unik, ada beca, andong, perahu phinisi, burung dan lain-lain. Mirip lah di Jogja. Tapi jangan tanya soal harga, wow, harga turis asing bo…… Ujung-ujungnya kita cuman lihat-lihat saja.

Bosan disini, kami lanjut ke Bedugul. Jalanan menuju Bedugul sangat bagus dan mulus seperti jalanan di dalam kota, maklum kota turis ya, belum lagi turis asing yang datang – jadi sangat wajar kalau jalannya memang kudu begitu. Setelah mulai agak keluar kota, mulai kelihatan sawah-sawah yang sedang baru 30 centu tinggi padinya. Ingat waktu SD, sistim pengairan di Bali namanya subak. Bagus dan asri. Masyarakat Bali sangat menjaga lingkungan (karena ada hubungannya dengan kepercayaan mereka tentang Dewa Kala), itu berimbas dengan ramahnya lingkungan terhadap manusia juga. Jarang di Bali ada musibah longsor, banjir dan lain sebagainya. Berhubung Bedugul ada diatas, perjalanan menuju kesana nanjak terus.

Kurang lebih setengah perjalanan, tiba-tiba HP ada alert sms, begitu aku baca : masya ALLAH, pemberitahuan tentang jadwal penerbangan ! Disana dikatakan, keberangkatan diubah ke jam 02:00. Mati aku, sementara sekarang kita on the way to Bedugul dan tak bakal bias ngejar ke bandara walaupun ngebut karena saat itu sudah jam 11:30. Gimana nih, waktu itu kesel juga sama maskapai penerbangannya, koq bisa berubah-ubah begini? Waktu berangkat, maju 1 jam, sekarang berubah lagi…. Kalau ketinggalan, apa yang terjadi ? Reza ulangan hari Selasa! Langsung aku telepon ke kantornya di Jakarta. “Mohon maaf, betul pak ada perubahan. Berhubung ada kendala pesawat, penerbangan ditunda ke jam 02:00 pagi” jelasnya. Ah….jam 02:00 pagi, rupanya ditunda, bukan maju – jadi kita masih sempet ke Bedugul. Payah nih Air Asia, terkenal penerbangannya dengan sering berubah-ubah jadual, menakutkan!

“Bapak nanti saya antar ke rumah makan, enak makannya disana pak. Bapak nggak usah bayar, itu sudah termasuk dalam paket”, pak Dewa menjelaskan. OK, itu lebih baik. Begitu sampai, benar, sejuk tempatnya dan enak. Rumah makan berdiri diatas bukit dan menghadap ke danau yang cukup luas. Di sebelah kiri rumah makan, nun jauh disana berdiri gunung yang ditutupi kabut. Tapi berhubung saat itu bukan hari libur di dalam negeri, suasana tidak hiruk pikuk – tidak terlalu rame, namun agak sedikit longgar jadinya. Tempatnya sih tidak begitu banyak pernaak-pernik atau bangunan-banguna lain, hanya satu rumah makan itu diatas dan beberapa warung disebelahnya.

Persoalan kembali menghadang saat mau makan, halalkah ? Setelah aku Tanya, halal pak disini tidak memasak makanan yang diharamkan agama Islam, sambungnya. Aku percaya sama omongan dia, kulihat ada meja yang diisi oleh sekeluarga orang pake jilbab -ah amanlah pikirku. Kami duduk persis di sebelah meja makanan yang disusun memanjang. Rupanya makanannya ambil sendiri dan milih sendiri. Setelah duduk istirahat barang 5 menit, kami baru antri makan. Jenis lauk pauk cukup beragam, ada sate, gado-gado, ikan bakar, ayam bakar dan beberapa jenis penganan untuk desert. Lumayan enak dan nyaman makanan dan makannya. OQ kulihat lahap banget, bolak balik dia ambil makanan – Enca sih biasa aja, cool.

Lagi enak-enak makan, tiba-tiba mamahnya Enca cekikikan, eh ….ada apa?

“Kenapa Mah ?”

Dia terus ketawa cekikikan. “Lucu” katanya, sambil matanya terus melihat kea rah meja desert. Disana berdiri beberapa turis bule sedang antri makanan, ada combro, pastel, bubur kacang, ketan item, puding, cairan puding, air santan kuah bubur kacang dan lain-lain.

“Geli dan bego” katanya. “Rasain lu, bego kita sama bego kalian” lanjutnya

“Tuh lihat orang bule, dia kebingungan. Ada yang ambil combro di piring kecil (pisin) lalu mungkin pikirnya, ini kuah apa ya ? Eh, combronya dikuah cairan untuk puding! Ada yang ambil ketan item, celingak celinguk, diapain ya ini ketang item? Eh, diguyur cairan pudding juga! Yang gila, ada yang nyelupin telunjuknya ke dalam cairan pudding lalu di cicipi! Tadi malah ada bule yang mengendus sate yang belum dibumbuin, digigit, ditarik, eh…disimpan lagi!” Jorok…. Kata mamahnya Enca, sama ya orang bule juga bingung melihat makanan asing, diapain nih makanan. Kita juga begitu kalau makan di tempat makanan asing luar negeri di hotel-hotel, diapain nih makanan begitu melihat ada beberapa jenis cairan dan serbuk. Bingung………

Haaa…haaa.haaa

Kenyang makan, bingung lagi…. Shalat dimana?

Aku ingat keluarga yang jilbab tadi, aku samperin mereka :

“Maaf, Bapak muslim kan ?”

“Iya, kenapa?”

“Bapak dan Ibu sudah shalat?”

“Oh sudah, disamping kiri rumah makan ini pak, Bapak keluar dan lihat ke kiri, disana ada masjid besar pak”

Begitu keluar, Alhamdulillaah….ternyata benar, ada Masjid yang cukup besar. Tapi diatas banget, tinggiiiiiiiiii diatas bukit. Aku nggak periksa waktu datang, ternyata bangunan besar di depan danau itu ada dua, rumah makan dan Masjid. Tidak Nampak rumah penduduk disana.

Setelah ngos-ngosan, sampailah kita di masjid, ternyata banyak orang disana. Rupanya keluarga yang di rumah makan itu kelihatannya seperti anggota rombongan yang berada di masjid, mereka turis dari daerah sekitar Surabaya.

Karena masjidnya diatas bukit, disamping hawanya yang sejuk, pemandangannya juga asyik punya. Didepannya terbentang danau yang luas dan tenang. Nampak orang yang sedang naik parasailing, speed boat dan jet ski. Sambil menunggu OQ dan istri, aku bareng Enca duduk-duduk dipinggir danau, walaupun waktu itu tangah hari bolong, tapi tidak merasa kepanasan, yang ada adalah tiupan angin yang sejuk. Didepan terhampar luasnya danau yang hijau. Perahu dan speed boat yang hilir mudik nganterin turis local yang naik berseliweran jauh disana.

Begitu OQ dan mamah nya datang, kita lanjut ke “terminal” danau. OQ mau naik jet ski katanya.

Ticket Rp. 120,000.0 kalau tidak salah untuk 10 menit. Ceritanya, jalanlah dia – langsung ngebut. Ira-kira berjalan 10 menit, eh dia nggak baik-balik di tengah-tengah danau. Diem aja ngambang disana. Ada apa? Kulihat petugas teriak-teriak sesame mereka, kulihat lagi ada yang ngebut ke tengah nyamperin OQ, nggak lama kemudia OQ jalan lagi, pulang menepi. Lega aku…. Begitu kutanya sesudahnya, katanya mesinnya mati nggak bisa di start. Emang udah waktunya pulang kali, udah 10 menit, jadi.

Pulang, turun lagi balik ke Kuta. Hari udah sore. Rupanya hari itu kita di drop lagi di tempat pertunjukan tari kecak. Sampai disana hari sudah hampir maghrib. Masuk nggak ya, udah hampir maghrib soalnya. Tapi setelah berfikir bahwa musafir memiliki kemudahan dalam shalat melalui jama’, akhirnya kita masuk ke gedung pertunjukan setelah membayar Rp. 50,000 per orang. Gedung pertunjukannya seperti yang kemarin, berbentuk bangku panjang dan bertingkat ke atas. Tak banyak yang aku ingat disini, masalahnya aku nggak begitu suka dengannya. Yang ada hanya gerak gerak dan nyayian dan….seperti kemarin, ada orang dimasukin jin!

Beres dari situ, langsung ke rumah makan. Yang ini rumah makan sea food, ikan melulu. Repotnya aku nggak suka ikan laut. Walhasil, setelah menunggu makanan datang yang cukup lama, anak-anak makan dengan lahap. Aku? Gigit jari, akhirnya aku makan cuman pake tumis kangkung aja….yang belakangan malah jadi masalah. Gara-gara kangkung, besoknya di hamper nggak masuk kantor. Asam urat kumat……….

Sengaja makan dilambat-lambatin, sup aya membuang waktu. Habis take off dari jam 23:00 diundur ke jam 02:00 ? Abis makan dan shalat, bingung lagi…bingung terus ya? Iya mau kemana, ke bandara, ke mall atau kemana? Hari baru jam 20:00, sementara di Kuta, Denpasar sini j am segitu took-toko udah mau tutup seperti kejadian malam sebelumnya yang nggak jadi makan.

Akhirnya diputusin, Bandara! Tidur, tidur deh disana. Bayangin, dari jam 20:00 sampai jam 02:00 – enam jam! Jadilah kita orang yang terlunta-lunta, untungnya udah malam begitu sepi, banyak bangku kosong. Sepi banget deh…. Lihat aja gambarnya. Kumal, kucel, de el el.

Sampe rumah, begitu naroh tas, azan subuh. Walhasil Enca bolos……….

Ha…ha…ha…

Friday, March 16, 2007

Bi Nunung yang baik.........

Nunung,

Engkau adalah adikku yang sangat kusayangi, sangat kucintai, terlebih pada saat-saat terakhir, engkau memainkan peran yang sangat tinggi. Engkau seperti manjadi ibu bagiku, mungkin juga bagi saudara-saudaraku yang lain yang tinggal di luar kota. Betapa tingginya engkau, betapa sangat berharganya engkau dihadapanku. Banyak sudah, banyak sekali engkau berbuat untukku, untuk keluargaku, sampai-sampai aku tak dapat menyebutknnya satu persatu.

Nunung, harap engkau jangan salah mengerti, ibu disini bulan sebagaimana ibu kandung, peran engkau di Ciamis layaknya seperti ibu semasa masih ada. Engkau sibuk manakala mendapat berita aku mau mudik, engkau sibuk manakala mendapat berita kakak sulungmu mau mudik, mungkin juga sibuk manakala mendengan siapapun yang di luar kota mau mudik.

Aku tahu, engkau menjalankan fungsi itu dengan ikhlas, tulus dan lain-lainnya. Engkau mungkin tidak menyadari bahwa hal itu adalah menjalankan fungsi sebagaimana yang ibu dulu jalankan. Aku tahu, itupun engkau secara lahiriah tidak menyadarinya, hanya yang ada dalam benakmu, bahwa engkau ingin menciptakan suasana nyaman bagiku, bagi saudara-saudara yang lain bila mereka mudik, suasana yang menyenangkan. Engkau akan merasa sangat bersalah bila dalam pnerimaan seolah-olah engkau mengecewakan kita para pendatang. Mana mungkin begitu Nung ? Nunung dapat aku katakan disini, engkau telah sempurna menjalankan fungsi itu…………….. Ah, betapa baik dan tulusnya engkau…

Nunung, aku sangat-sangat kehilanganmu………. Kehilangan figur pengganti ibu……..

Nung,

Maafkan Ang Dudung yah…..
Ang Dudung yang telah sedemikian banyak merepotkanmu!
Sungguh Nung, Ang Dudung ini bicara dengan sebenarnya, setulusnya, apa adanya…….
Betapa banyak Ang Dudung berhutang padamu…. Betapa banyak Ang Dudung membuatmu menjadi sibuk, pusing bahkan saat terakhir engkau merasa disalahkan sama Ang dudung gara-gara Ang Dudung telat menjawab sms-mu. Mana mungkin Ang Dudung marah padamu? Nggak mungkin adikku……

Maafkan Ang Dudung…..

Maafkan Ang Dudung, Ang Dudung hanya mampu berbuat seperti ini…… Bener, Ang Dudung iri pada sikapmu, pada kebiasaanmu, pada sifatmu, pada tabiatmu.

Nunung, dihadapan Ang Dudung engkau begitu sempurna, baik, tulus, ikhlas… Nung, Ang Dudung tak punya itu semua………

Nunung,
Kini engkau telah meninggalkan kami, engkau telah pulang kepadaNYA. Engkau telah bahagia karena jejakmu telah nyata penuh dengan amal kebaikan yang ikhlas yang tak semua manusia mampu berbuat seperti itu. Berbahagialah Nung disisiNYA. DIA tidak pernah ingkar akan janjiNYA, setiap amal perbuatan baik yang ikhlas apalagi didasari karena iman dan islam, akan mendapat ganjaran yang setimpal. Nunung yakin kan dengan yang itu? Satu hal yang aku bersyukur dan bahagia di menit-menit terakhirmu bahwa, saat engkau hendak pergi dipanggilNYA, engkau shalat dulu, mengunjungi orang-orang yang engkau anggap engkau punya satu kewajiban yang harus ditunaikan, engkau baru jalan sampai pada malapetaka itu…..

Engkau telah selesaikan semuanya Nung sebelumnya…….

Secara jujur aku menghargai “project” yang telah dibebankan padamu saat-saat terakhirmu dan engkau jalankan itu dengan ikhlas, riang dan tanpa beban walaupun project tersebut sesungghnya agak “kelaki-lakian”

Project dariku tentang pembuatan benteng pemisah antara rumah ibu dangan rumah sebelah yang rusak akibat hantaman angina putting beliung baru-baru ini. Project dari Pondok Gede untuk memperkuat bibir kolam agar tidak roboh dan project-project yang lain dan ternyata selesai pada waktunya yang…………. Ternyata itu adalah karya terakhirmu!

Nunung,

Aku teringata saat aku pulang “Lebaran Haji” persis akhir tahun 2006 lalu. Begitu sampe di rumah nampaknya engkau sedikit khawatir engkau tidak bisa “men-serve” kami dengan baik, sampai-sampai engkau bilang : “Ang Dung, kumaha nya, bade bobo dimana? Nunung meureun teu tiasa maturan, kan Nunung kedah masak kanggo enjing motong Qurban?”

Begitu khawatirnya engkau mengecewakan kami yang datang dari Jakarta.

Nung, Ang Dudung pulang ke Ciamis bukan mengharap apa-apa darimu, tidak, sama sekali tidak. Aku tahu, engkau sudah berusaha maksimal, aku tahu itu. Tapi Ang Dudung pulang karena mau lihat motong sapi qurban karena kan Ang Dudung sekeluarga ber-qurban di Ciamis? Kebetulan pas akhir tahun dan juga anak-anak bisa ikut, Ang Dudung akhirnya ke Ciamis. Tidak ada didalam hati tentang permintaan Nunung harus men-serve kita dengan baik. No, itu konyol kalau demikian.

Nung,
Sebentar lagi kakakmu akan mantu, tentu saja dia telah berdiskusi denganmu karena engkau adalah partner yang sangat cocok bagi dia dan juga engkau. Kayaknya kalian berdua telah sedemikian erat sehingga diantara kalian bisa saling curhat tentang hal apa saja. Tentu, kakakmu merasa sangat kehilangan dengan kepergianmu.

Nunung,
Sebetulnya banyak sekali kenangan atasmu yang ingin aku tulis disini, tapi dimulai dari mana dan atau diakhiri dimana tentang engkau? Aku sulit memulainya karena begitu banyak yang aku harus tulis dan aku tak mampu melakukan itu……

Terakhir, aku mendo’akanmu,

“Ya ALLAH terimalah dia dengan segala kebaikanMU, segala ridhaMU atasnya, terimalah semua amal ibadahnya, pertinggilah derajatnya, ampunkan segala dosanya dan masukkan ia kedalam syurgaMU.”

Nunung, maafkan ang Dudung…………..

Thursday, March 01, 2007

Trip to Bali - Day Two

Hari Sabtu ini 27/2/07 kita “dibawa” tournya ke Kintamani, suatu tempat yang tinggi. Hawanya sejuk dan pemandangannya cukup indah. Mungkin seindah Puncak, Cianjur kali. Masih terlihat kabut tipis walaupun sudah siang. Tapi sebelumnya kita di drop di suatu daerah (lupa namanya) untuk nonton pertunjukan tari barong. Tari tersebut mengisahkan cerita yang sampai saat inipun diyakini mereka belum selesai dan akan tetap berlangsung sampai akhir jaman : perang kebenaran melawan kebathilan. Disini “tertahan” kurang lebih 1 jam. Dalam adegan-adegannya katanya para pemainnya ada yang kemasukkan (si supir mobil travel yang orang Balikan di dalam mobil ada sajen, waktu OQ Tanya ini apa, dia bilang ini sajen untuk Batara Kala katanya. Waktu ditanya diganti tiap hari, dia bilang iya pasti. Menurut dia, orang Bali – seluruh orang bali (kalau dia ngaku orang Bali katanya) harus melakukan seperti yang ia lakukan. Setidaknya setiap hari sedikitnya harus membuat sajen 3 kali, sementara harga setiap sajen itu Rp. 20 ribu, jadi setiap hari untuk sajen saja sudah menghabiskan duit Rp. 60 ribu.

Kembali ke Kintamani, lumayan juga jauhnya, makan waktu 2 jam dari tempat tari barong, jalannya mulus tapi mendaki. Maklum Kintamani diatas gunung.

Kita di drop lagi di rumah makan, katanya makannya di bayarin travelnya. Bingung juga saat mau makan, halal nggak ?

Begitu masuk, kita ambil posisi duduk di luar gedung, diatas teras yang langsung pemandangan ke gunung Batur dan sebelahnya ada danau Kintamani. Sejuk, indah dan enak gitu bo….

Kita tanya ke pelayannya,

“Saya muslim, apakah makanan disini halal?”

“Halal pak, itu musholla di bawah kalau nanti Bapak mau sholat” jawabnya.

Syukur Alhamdulillah, aman untuk makan siang ini.

Cukup lama disini, makan sambil ngobrol. Foto sana foto sini. Balik ke Kuta sekitar jam 15:00.

Waktu jalan pulang, SMS ke teman yang istrinya orang (Chinese) Bali, dia setiap liburan sekolah pasti ke Bali, mudik. Nah, kali ini maksudnya cuman mau ngabarin kalau kita lagi di Bali.

Eh… dia telepon: “Yang bener” katanya. “Saya juga lagi di bali nih”.

Kaget juga ngedengernya.

“Bener, sekeluarga”

“OK, nanti ketemuan ya di Kuta, kita makan bareng”

“OK”

Lepas Maghrib, kita berempat bubar, tapi bubar beneran nggak bareng2. masing-masing punya rencana sendiri-sendiri. Lucu ya ? OQ pengen jalan sendiri ke Kuta jalan kaki, Enca sama Mamahnya mau beli celana. Nah, aku pergi juga nemuin temen yang SMS tadi.

Karena janjian di Kuta, jalan kaki deh kita dari hotel. Eh ternyata jauh juga, keringetan tuh…

Setelah jalan keringetan, rupanya kurang beruntung, jalanan pantai sangat muacettt, temen akhirnya hamper batal melihat macet kayak gitu. Akhirnya disuruh ke Mall di pantai lainnya, wah nggak bisa kan disini orang baru nggak begitu hapal dimana itu Mall. Akhirnya dia ngalah, seelah lama ditunggu dia nongol pake mobil sewaan. Lanjut deh jalan sambil nanyain mau makan apa, yang jlas mau makan yang halal.

Puter-puter Kuta, Denpasar dalam macetnya jalan. Akhirnya….. nggak makan…. Warungnya udah pada tutup. Nasib, perut sampe balik hotel kosong…. Untuk jangan sampe terlalu kosong, beli roti deh di super market, mau makan takut…

Sampe di hotel ada cerita lucu lagi ttg OQ, dia nyasar….

Ceritanya dia jalan kaki kan ke Kuta, jalanan macet banget. Dia nyukurin orang yang bawa mobil. Syukurin lu, emang enak macet-macetan. Sepanjang jalan dia ngomong begitu di hatinya, tahu-tahu dia bingung, ini dimana koq gelap? Nah lho… dia buru-buru telpon Mamahnya, Mamah dimana katanya, OQ nyasar nih takut nggak bisa balik. Katanya mamahnya, mangkanya jangan suka sirik……….

Haa.haa.. haa

Monday, February 26, 2007

Trip to Bali - day one

Persis satu minggu sebelum banjir melanda Jakarta yang heboh itu, kami sekeluarga berempat pergi ke Bali (26/01/07), sekedar berlibur ngilangin penatnya Jakarta. Berangkat hari jum’at 26/01/07 malam, jadi pulang kantor dipercepat, jam 14:30. Rencananya memang jalan-jalan singkat, cuman 2 hari doang. Kalau ngingetin itu sekarang, beruntung juga perginya sebelum banjir, kalau pas banjir ? Wah, kasihan kita dan kasihan juga para bedinde di rumah. Kita di Bali bingung dan yang dirumah juga mungkin bingung.

Setelah berkemas, berangkatlah kita dari rumah sekitar jam 16:30 dengan sedikit cemas karena Enca waktu mau berangkat masih main di rumah temennya. Kita akhirnya memutuskan untuk bawa mobil saja ketimbang naik taxi karena saat pulang diperkirakan tengah malam, sekitar jam 01:00 dinihari. Untuk amannya, sebaiknya kita bawa mobil aja, parker nginep di Bandara Sukarno Hatta.

Setelah shalat ‘Isya di Bandara, kami take off jam 19:50 malam pake Air Asia. Ngeri juga sih pergi-pergi pake pesawat, masalahnya awal Januari lalu ada pesawat Adam Air yang jatuh yang, sampai sekarangpun belum ketemu! Na’udzubillaah….

Udah ngeri begitu, memang pas musim hujan, eh baru berangkat pramugarinya ngumunimn, cuaca diatas sedang tidak bersahabat, kencangkan safety belt! Aduh… dan nggak lama kemudian pesawat berguncang-guncang……. Dicoba menenangkan hati sambil lihatin Enca, dia anteng-anteng saja (mungkin nggak ngikutin berita sekitar pesawat Adam Air). Cukup lama juga (padahal mungkin cuman beberapa detik atau menit saja, tapai rasanya luamaaaa banget).

Lanjut sampe menjelang Ngurah Rai, eh.. guncangan datang lagi, pengumuman lagi.. ngeri lagi… Sadar-sadar begitu lihat jendela koq kelihatan laut ? Aduh,,, apakah kita mau mendarat dilaut karena cuaca buruk? Sambil tetap berdoa, tahu-tahu terasa pesawat membentur sesuatu dibawahnya! Ah…. Ternyata pesawat landing di Bandara Ngurah Rai dengan selamat. Alhamdulillaah… Terima kasih ya ALLAH….

Begitu mendarat sekitar jam 23:00, karena kita nggak ada bagasi (semuanya dibawa ke Cabin), jadi kita cepat langsung keluar nggak nungguin bagasi. Setelah celingak celinguk cari yang mau jemput (travel biro), terlihat diluar ada orang bawa-bawa tulisan “Mr. Dudung”, ah udah ada rupanya yang jemput. Syukur… Kita langsung dibawa ke Hotel “Bounty” di Kuta.

Hotel ini cukup strategis, di daerah Kuta tempat ngumpulnya para turis, utamanya turis bule Ozi. Begitu masuk, kayaknya cuman kita doang yang domestic, hamper seluruhnya bule.

Ceritanya masuk deh kita ke Hotel. Biasa, buka-buka koper, ganti baju – mandi – nonton TV. Karena hotel di daerah Kuta, OQ keluar hotel katanya mau jalan-jalan. Besok paginya ada berita yang lucu banget…. Istri cerita kalau OQ kira-kira jam 01:00 pulang dengan tergopoh-gopoh minta dibukain pintu.

“Mamah…buka cepet, buka cepet!” katanya.
Mamahnya bangun dan buka pintu sambil heran.
Ada apa sih pake teriak-teriak segala?”
“OQ takut!”
“Takut apa?”
“Tadi OQ lagi telpon di deket kolam renang dibawah (di Hotel), tahu-tahu OQ ditubruk dan dipeluk cewek bule, dia bilang tolongin – ada orang ngejar-ngejar!. OQ takut, mangkanya lari”
Mamahnya dari heran jadi ketawa ngakak.
“Ada-ada saja kamu, kan dipeluk cewek bule?”
“Enak aja, pasti itu cewek bule nggak bener, mana ada di Bali orang ngejer-ngejer cewek bule? Di Bali itu aman” katanya.

Ha..ha..ha..

Wednesday, February 07, 2007

Banjirrrrrrr

Aku cerita dari awal (mestinya aku upload awal2, tapi aku bisa “meyentuh” internet baru sekarang, ya sekaranglah aku uploadnya…)

Senin, 29/1/07

Pak Ketuan Umum Yayasan, Haji Marah Sakti Siregar mengirim SMS, mengabarkan tentang ramalan cuaca dari BMG yang mengatakan, diperkirakan 3 hari dari sekarang (jadi 29 – 30 dan 31/1/07) akan turun hujan lebat dan kemungkinan banjir bisa terjadi. Waspadalah, katanya (he.. he.. kayak Bang Napi)

Rabu, 31/1/07

Maghrib, hujan cukup deras dan hujan ini sudah berlangsung sejak sore hari. Istriku bilang begini : “Wah kalau hujan begini lagi, besok ke kantor repot – air di RT 03 bakalan naek lagi dan mobil gak bakalan bisa lewat” katanya.

Kamis, 1/2/07

Seharian ini rupanya hujan terus menerus turun dengan intensitas yang cukup tinggi. Aku jadi ingat SMS pak Ketua, ah ini ramalan mungkin benar, bisa jadi banjir nih. Kamis malam, hujan turun terus dengan deras, kembali istri mengatakan hal yang sama.


Jum’at 2/2/07

Waktu mau pergi ke kantor, jalan depan rumah tergenang sedikit. Aman pikirku. Biasanya dengan genangan air sedemikian, tempatku jauh dari perkara banjir, tapi sebagaimana biasa, jalan depan RT03 itu kalau genagangan air didepanku sedemikian, mobil kudu harus berani menyeberang karena tingginya sebetis.

OK, benar sebetis, setelah berhasil menyeberang, aku melenggang pergi ke kantor, demikian juga dengan istri, dia juga pergi nekat ke kantor setelah sama-sama berenang.

Sampe di kantor, cuaca sedikit terang dan tidak hujan. Aman pikirku. Akau terus monitor ke rumah. Setiap ditelepon, pembantuku bilang aman tapi hujan deras banget katanya. Hujan ? Wow, dikantor Cikarang kering!

Telepon lagi 1 jam kemudian, hujan tambah deras dan air di jalanan naik! Mulai khawatir….
Setelah itu, hubungan komunikasi sulit, telepon rumah maupun HP tidak bias, kabar rumah jadi dag dig dug…
Terakhir sekitar 9:45, pembantu telepon : “Bapak nggak pulang? Pak Pairan sudah pulang, rumahnya sudah masuk air”. Kaget bercampur khawatir, ru
mah gimana ? Dia bilang, masih aman, tapi air sudah mulai mau masuk garasi. Nggak pake mikir lagi, aku kemas-kemas dan langsung ngabur pulang.

Dikantor kering, begitu sampe di Cibitung, hujan deras banget, perjalanan pulang terhambat karena jarak pandang paling 20 meteran. Ternyata hujan itu rata sampai ke rumah dan mungkin seluruh Jakarta! Waktu sampe di gerbang toll keluar Bintara, aku berhasil menghubungi OQ, dia bilang dengan datar, air sudah masuk rumah dengan ketinggian diatas mata kaki. Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun…

Sampe di komplek perumahanku, mobil sudah berderet di pinggir jalan, rupanya penghuni yang lain sudah mengungsikan kendaraannya ke jalanan diluar komplek. Istri sudah pula jalan pulang, tapi toll macet berat (mungkin semua pada pulang). Yang menakutkan, kata istri, jalan toll pun airnya setinggi ban! Sebenernya dia takut juga mau pulang, tapi karena darurat, apa boleh buat! Mobil berjalan seperti di sampahan katanya, banyak sampah2 yang menempel di grill depan, botol aqua, kaleng coca cola dll. Yang dia takutkan, bagaimana kalau mogok di tengah hujan begitu?

Setelah parkir di jalanan diluar komplek, orang banyak sekali yang nonton (hmmm, komplek perumahanku jadi tontonan). Sebelum turun aku berpikir, laptop aku tinggal di mobil nggak? Wah karena ini bakalan lama, kemungkinan berhari-hari sebaiknya kubawa. Tapi bagaimana hujan begini ? Nekat saja, setelah celana kugulung, dengan bismillah aku turun untuk ke rumah. Problem lagi, jalan mana masuknya? Orang banyak banget yang berdiri menonton diluar komplek, air kulihat sepinggang di jalanan komplek. Aku mau masuk komplek bawa laptop dengan air sepinggang? Gak mungkin!

Akhirnya aku harus berjalan cukup jauh ngambil jalan berputar, lumayan, pintu satunya agak tinggi, sepaha airnya… aku memaksa masuk dengan pelan-pelan (emang bisa jalan cepet dijalanan penuh air?). Sampe dirumah, benar…… Rumah sudah terendam air sebatas 20 cm. Sedih….. Selama lebih dari 20 tahun tinggal di Bintara Jaya, baru sekarang ini aku mengalami banjir yang masuk rumah…. Dirumah ada mbok berikut menantu berikut bayinya numpang neduh.

Setelah kulihat banyak yang dinaikin ke lantai atas, aku sedikit rada terhibur, surat-surat penting, elektronik dan lain-lain yang dikira cukup bias diangkat ternyata sdh diatas. Untungnya OQ ada dirumah kemarin itu (masih libur kuliah). Yang tertinggal, tempat tidur, kulkas, Komputer, kursi-kursi dan lemari. Pasrah…. Bagaimana mau diangkat dengan kondisi mendadak seperti itu? Nggak nyangka sama sekali kalau rumah mau kebanjiran, selama ini jauh dari banjir! Rasanya suasana sangat tidak menentu, utamanya perasaan….

Hal membuat lebih sulit adalah, aliran listrik mati! Jadi situasi menjadi gelap, nggak ada air, nggak ada penerangan. Malam-malam gelap dan sunyi… Yang kedengeran cuman bunyi air kalau ada orang lewat. Yang aku syukuri adalah, untungnya rumahku punya lantai atas, kalau nggak….
Terima kasih ya ALLAH…

Baru aku mengalami dan menyadari kalau dalam situasi seperti ini, di berita-berita TV – Koran dan lain-lain, suka diberitakan begini : “belum ada bantuan makanan dari pemerintah, obat-obatan dan lain-lain” Eh bener, sekarang aku mengalaminya. Makanan dan minuman nggak ada, jalan kemana-mana mau beli pun nggak bisa. Listrik mau masukpun nggak bisa. Sulit….

Yang sedih lagi, udah makanan dan minuman susah, sekalinya mau makan supermi pun takut. Kenapa ? Takut pingin buang air…. Masalahnya, septic tank nya kerendem - jadi air closet nggak mau jalan. Terpaksa kita nahan makan dan minum…. Ya ALLAH….

Di dalam rumah sudah jijik, sumpek dan lain-lain, begitu melihat ke kamar mandi ? Ah, lebih sedih lagi. Kotor sekali….. Bau, kotor, lumpur, lembab…. Dan yang lebih menyedihkan, karena air tinggi di jalan depan rumah, air berbaik dari jalan ke rumah lewat pipa buangan air dan ….. Kepiting, keong, tikus dan lain-lain yang menjijikkan keluar dari pipa tersebut….

Kepalang basah, aku keluar dan bergabung dengan orang lain yang sama-sama senasib, ah beginilah rasanya kalau kena musibah. Tapi ini kupikir tidak seberapa dengan penderitaan oran glain yang rumahnya kerendem sampai ke leher. Banyak sekali yang kerendem sampai setinggi itu, sampai Masjid di komplek pun ikut terendam sebatas mata kaki.

Sabtu, 3/2/07

Tidurpun nggak tenang, baru sekitar jam 12:30 tidur, cape dan tegang…

Jam 02:00 dikejutkan dengan goyangan OQ, “Pah, mah kita turun yuk, kita angkat banjo-baju yang masih tersisa di lemari, hujan deres banget” katanya.

Ya ALLAH, hujan deres banget, deres…..

Aku turun rame-rame, lihat air di jalanan belum terlalu surut. Lihat langit lagi, masih tebal mendungnya. Ya ALLAH…..Setelah dipikir lebih lanjut, akhirnya diputuskan, nggak usah diangkut ke atas, Insya ALLAH air nggak bakalan naik lebih tinggi lagi.

Keceprek, keceprek….. itulah bunyi yang terdengan ketika turn ke lantai bawah. Ih…….

Situasi belum berubah banyak, rumah masih berantakan dan penerangan nggak ada. Perut belum terisi dengan baik, cuman makan kue kecil yang ada dan aqua yang masih punya 1 botol besar. Mau keluar air setinggi paha dijalan, dingin dan kotor. Air bercampur sampah, olie, solar dan lain-lain karena banyak mobil yang nggak sempat di keluarin ke tempat yang lebih tinggi. Walhasil mobilnya terendam sampai ada yang sebatas kaca pintu dan bahkan ada yang tinggal kelihatan atapnya saja, utamanya mobil sedan. Beruntuk kita (aku dan istri) pergi ke kantor dulu, jadi mobil tertahan diluar saat balik. Tiga malam jadinya nginep di jalanan.

Dengan “berenang”, kita jalan melihat-lihat rumah lain yang terendam, ada yang sepaha, ada yang sepinggang. Yang kasihan yang rumahnya nggak punya lantai atas. Ada tetangga yang rumahnya terendam sebatas pinggang, akhirnya malam pertama (malam sabtu) nginap di mobil yang diparkir di garasi, padahal mobilnya pun kerendem sampai batas ban! Dia bertiga nginep disitu, dia, istrinya dan anak gadisnya. Anak lakinya dianjurkan tidak usah pulang karena rumah kerendem.

Hari ini hamper seluruh pemukim komplek perumahan keluar rumah bergabung menceritakan pengalaman masing-masing sambil bercanda. Ya, bercanda aja sambil mengusir rasa sedih. Karena sedihnya ada sorang ibu-ibu yang stress ngelihat ada air masuk dalam rumahnya. Air….air….air…. kenapa masuk rumah? Terus dia nangis dan bilang, kalau sudah surut, beresihin ini rumah dan …jual ! Mau pindah kemana ? Wong hampir seluruh Jakarta terendam!

Hujan masih terus turun dengan intensitas yang agak berkurang…..

Siang-siang, mantunya si mbok pulang dengan membawa bayinya. Mau kemana, ini kan masih hujan dan masih banjir? Mau nginep di Masjid dekat rumah aja katanya. Belakangan dari mbok bilang, katanya dia malu sama tuan rumah. Kasihan bayinya….

Pak Air Hartanto ngobrol di rumah, dia bawain nasi + gado2 dua bungkus untuk aku dan OQ dari rumah pak RW. Lumayan….

Anak-anak bikin rakit dari bamboo yang dijejerin dan diiket, tapi nggak bisa nahan berat badan satu orangpun, kudu banyak kali bambunya. Foto sana, foto sini, sementara air masih tetap belum surut sedikitpun….

Lepas maghrib, istriku berikut anak-anak dan 2 orang tetangga gelap-gelap pergi menerobos air menuju mobil yang diparkir +/- 400 mete dari rumah. Mereka udah nggak tahan kepingin mandi, rencananya mau mandi di Masjid Al Azhar di Kalimalang. Aku tinggal sendirian di rumah yang gelap, dingin dan sunyi. Aku Cuma titip tolong beliin makanan walaupun rada takut makan karena takut pingin buang air besar.

Keceprek, keceprek, keceprek…..

Setengah jam mereka berangkat, ada tukang nasi goreng lewat depan rumah, eh nekat bener ini si abang! Aku Tanya : “Bang, lewat mana masuknya?” Dia jawab : “Nekat aja pak, kalau nggak begini kan bisa nggak makan. Cuman tadi kompornya tersiram mobil lewat” katanya.

Selagi aku dibikinin nasi goring, dating seorang Bapak dari RT 03, dia juga lagi cari makanan. “Bang pesen satu, dibungkus” katanya. Begitu nasiku selesai, giliran dia mau bikin untuk si bapak dari RT 03, kompornya ngadat nggak mau nyala. “Maaf pak, nggak bisa, kompornya ngadat bekas kena siram tadi” katanya. Alhamdulillah aku sempet dibuatkan satu……Tetangga depan rumahku yang tukang bercanda bilang :”Mangkanya, kalau temennya Fir’aun mah kagak bakalan mau kompornya kerja, banyak dosa!” katanya. Kita bertiga tertawa, masalahnya mereka jamaah maen gapleh setiap malem minggu…..

Anak istriku dating jam 21:00, nasi gorangnya tidak aku makan karena perutku sudah terisi dan lagi takut mau ke belakang. Repot….

Minggu 4/2/07

Tadi malam tidur jam 23:00, karena mungkin cape baru bangun jam 05:00. Itupun karena hujan deras. Kamar Enca dimana kami tidur ada air meleleh lewat dinding kamar. Aduh…. Lagi banjir begini, rumah pun bocor? Alhamdulillah, bocornya sebentar, seterusnya nggak. Alangkah kompplit kalau bocornya gede, mana ba njir diluar, mana banjir didalam……. Nuhun Gusti…..

Kulihat air dijalanan agak surut, namun belum terlalu signifikan tapi di dalam rumah sudah mulai menipis tidak lagi diatas mata kaki. Mudah-mudahan cepet surut ya ALLAH…

Sekitar jam 07:00 rumahku sudah tidak ada air banjir lagi, para pembantu langsung mengusir kotorang sisa peninggalan air banjir, mengepel dan menggosok bekas kotoran yang menempel di dinding. Seneng rasanya….

Jam 08:00 hujan deras lagi ketika air di jalanan tinggal sebatas betis ! Ya ALLAH….

Karena aku belum mandi sejak Jum’at dan….akhirnya dengan membuka baju dan hanya memakai celana pendek, aku mandi di jalanan dengan air hujan! Pake sabun mandi dan shampoo. Istri geleng kepala, Papah gila katanya….Abis…?

Tidak banyak dilakukan hari ini, semua pada bengong-bengong dirumah masing2 nunggu air surut. Diatas, baying-bayang mendung masih menggantung tipis dengan membawa harapan, semoga hujan tidak turun deras lagi sampai air surut.

Alhamdilllah, sekitar jam 14:00 matahari menampakkan dirinya, mulai terasa hangat dan air didepan rumah sudah surut secara signifikan. Tetangga depan rumah kebetulan suka jual beli mesin pompa air, genset dan lain-lain. Praktisnya, dengan memakai mobilku, dia pergi ke toko mertuanya untuk membawa genset, kita akan hidupkan mesin pompa air (listrik masih mati).

Sekitar jam 11:00 aku keluar sama istri (dengan sebelumnya naik angkot untuk menghampiri mobil yang disimpan diluar). Untuk mencari makanan. Kita makan nasi uduk di Galaxy dan membungkus beberapa juga untuk anak-anak dan pembantu di rumah. Setelah selesai makan dan shalat lohor di Masjid Al Azhar, kita pulang. Mereka yang ambil genset telah pula pulang dan mencoba menghidupkan pompa air. Cuman pompa rumah seberangku saja yang berhasil, punya aku dan tetangga kiriku gak bisa. Aku jadi berfikir, setelah banjir apa aku harus beli pompa baru, kulkas baru dan tempat tidur baru ? Wah berapa duit tuh? Mateng deh….

Jam 22:00 lampu hidup! Syukur Alhamdulillah….

Terang dunia rasanya setelah lampu hidup, nggak sumpek gitu, segala jadi kelihatan lagi. Rasanya semangat jadi tambah…. Tidurpun jadi nyenyak.

Senin, 5/2/07

Pagi-pagi sekali setelah subuh, aku coba utak-utik sendiri pompa airnya, kabel-kabelnya aku urut. Setelah aku rasa siap, takut-takut aku colokin kabelnya ke saklar (takut korsletting…). Wing….. hidup, horeeee…… kita punya air lagi…. Terima kasih ya ALLAH….

Hari ini tidak lagi denger keceprek, keceprek, keceprek ..... dan aku pergi ke kantor lagi hari ini…………………..