Wednesday, January 06, 2010

Nengok Mbak Atiek

Setelah semalaman begadang nggak tidur karena malam tahun baru, paginya kita berangkat ke Klaten ber 13, pake 2 kendaraan.
Malam itu bener-bener blas nggak tidur, selepas Isya menghadiri undangan Pak Nazir, ngobrol-ngobrol, ngobrol ringan saja dimalam tahun baru sampai jam 23.00 - pulang. Di rumah rupanya tetangga juga lagi ngobrol di depan rumah sambil bakar jagung dan ikan laut, ngobrol lagi sampai jam 02:00 dinihari. Giliran mau tidur, kudu nungguin Reza dan temennya yang baru bubar sekitar jam 03:00. Setelah nganter temennya Reza ke Jatibening, sampai rumah udah jam 04:30 dinihari, mau tidur tanggung. Akhirnya ngaji sambil nunggu subuh, lantas subuh di Masjid, begitu pulang subuh harus siap-siap berangkat.

Berangkat 1/1/10 pagi sekitar jam 06:30 kearah Jatibarang, jemput Mr Sudarmanto + nyonya, jumlah orang bertambah dua. Walhasil ada 2 orang yang harus duduk di bagasi! Kemudi digantikan OQ yg sepanjang jalan berusaha tidur. Dipikir perjalanan Jatibarang – Klaten waktu lebaran kemarin yang makan waktu 11 jam itu karena macet lebaran, ternyata hari biasa juga jam tempuh itu sama. Masya ALLAH…. Cape deh… Kalau berombongan, jalan jauh jadi seneng, rame. Karena hari itu adalah hari Jum’at, kita berenti di daerah Brebes, Jum’atan disitu, bubar Jum’atan, langsung buka bungkusan di Depan Masjid untuk makan siang, cuek aja….

Kelar makan siang, hujan deres, kita lanjut ke Klaten lewat Prupuk, perjalanan yang harus ditempuh kurang lebih sekitar 400 km. Jalannya kecil, kebanyakannya hanya cukup untuk 2 kendaraan saja, lewat-lewat tengah sawah yang lagi panen bawang merah. Sekitar jam 15:15 isi bensin di daerah sebelum Purwokerto. Lanjut dan sampai di tujuan jam 21:00. Cape dan setelah sholat Isya, langsung tidur….

Esoknya baru lihat kondisi kakaknya istri, Masaya ALLAH kasihan sekali. Setelah didera sakit tumor ganas di rahimnya selama 5 tahun ini, nampaknya kondisi beliau ini cukup kuat (bahkan mungkin hebat menurutku), berulang kali keluar masuk rumah sakit, chemo dll. Berulang kali juga sembuh dan berulang kali pula jalan ke Bekasi. Kali ini nampaknya kumat dengan tingkat kumat yang serius. Badannya benar-benar hanya tinggal tulang dibungkus kulit saja, kecil sekali. Istri bawa alat ukur tensi darah sampai nggak bisa dipakai karena lengannya kekecilan untuk melingkarkan sabuk tekanan darahnya. Kecil banget….

Malamnya semua isi rumah kumpul di kamar beliau, berdo’a – ngaji yasin dan mengeluarkan isi hati dan perasaan si sakit supaya hatinya plong. Alhamdulillah, nampaknya setelah itu hati dan perasaannya sedikit plong sehingga jadi banyak senyum dan makanan bisa masuk. Mudah-mudahan tambah sehat ya mbak….

Pulang ke Bekasi lewat jalur selatan karena mau nyekar ke makam ibu, sekitar jam 17:00 baru mencapai Ciamis. Cuman agak khawatir juga sebelumnya karena saat melintas daerah Bojong, hujan lebat! Gimana nanti di makam ? Lucunya, karena waktu itu ngantuk-ngantuk, begitu melek lihat tulisan “Departemen Kehutanan” sebelah kiri jalan, lantas :”Q, stop disini, makam Nini kelewatan, balik!”. Setelah memutar dan masuk komplek Departemen kehutanan itu, rada bingung juga karena koq jadi begini? Tempat parkirnya beda, tidak ada tanah lapang disana. Suasananya berubah, ada beberapa rumah diatas dan yang lebih mengagetkan, ada lapangan tenis! Wah, hebat juga perkembangannya wilayah makam ini, padahal beberapa waktu lalu belum ada…? Yang membuat rada yakin adalah, saat nanya ke ballboy di lapangan tenis, dia bilang bener ada kuburan kecil diatas, Tanya aja diatas ada rumah koq katanya.
Ternyata setelah ditanya diatas, disini TIDAK ADA makam atau kuburan katanya. Hah ? “Bapak mau kemana ?” tanyanya.
“Saya mau ke kuburan ibu saya”
“Dimana?”
“Mukalam”
“Oh…. Ini bukan Mukalam, ini Pamalayan. Bapak masih jalan lagi kearah kota….”
Ternyata, salah pintu masuk…………

Setelah keluar dan jalan lagi, sampailah di makam ibu, untung nggak hujan disini, cuman gerimis saja. Karena takut hujan, setelah yasinan dan tahlil, kita langsung lanjut ke Bekasi.
Lewat depan “rumahku” dulu, sedih juga sih menatap rumah tempat aku dibesarkan bersama seluruh saudara kandung yang lain. Sekarang setelah dijual katanya dipakai untuk warnet, mungkin sebelum diiisi penuh kali.

Target berikut adalah makan malam di Limbangan : “RM Sarmila”, bernostalgia, saban pulang ke Ciamis selalu makan disini. Enak, khas sunda dan kita duduk di atas kolam yang ikan masnya gede-gede banget. Makanan favorit : nasi timbel! Isinya : nasi timbel, ayam goreng, jambal roti, sayur asem, tahu goreng, tempe goreng, lalapan dan sambal. Hm....
Jam 18:30 sampai, hampir 2 jam disini, sholat, makan, istirahat, leyeh-leyeh.
Sampai rumah jam 23:00. Alhamdulillah sampai dengan selamat. Tidur…

Wednesday, December 30, 2009

Tahun baru di jalan

Besok, tahun baru 1 Januari 2009, sekeluarga berencana pergi keluar kota, Klaten – Jawa Tengah, to see my wife’s elder sister there. She is now terbaring sudah beberapa minggu ini, kondisinya sudah menghawatirkan. Beliau ini bak kakakku sendiri, kalau datang ke rumah di Bekasi, selalu bicara dengannya soal agama. Satu lagi yang sering dia katakan: “saya sudah menganggap ibunya Dik Dudung itu seperti ibu saya sendiri, banyak hal yang saya dapatkan tentang kehidupan dari beliau” katanya. “Wirid-wirid, sikap beliau yang sudah seperti orang yang sudah kenal lama dan kehangatan yang ditunjukan tanpa dibuat-buat, itu yang membuat saya merasa dekat” katanya lagi.

Jadilah kita mungkin bertahun baru dijalan, rencananya berangkat berempat, mampir dulu di Jatibarang menjemput Mrs Sudarmanto. Hope, jalan yang akan dilalui tidak seperti saat mau lebaran sehingga bisa sampai di Klaten tanpa kecegat macet yang menjengkelkan. Sama seperti mau lebaran kemarin, route yang akan ditempuh adalah, Bekasi – Jatibarang – Prupuk – Purwokerto – Gombong – Kebumen – Jogja – Klaten. Panjang juga ya ? Mudah-mudahan lancar tak kurang suatu apa….. Pulangnya juga pingin kayak waktu lebaran kemarin : Klaten – Jogja – Purworejo – Kebumen – Wangon – Banjar – Ciamis, karena aku lagi ingat ibu terus, aku mau minta maaf di makamnya. Stop disini, nyekar, baru lanjut lagi ke Bekasi. Kita rencananya jalan beriringan lagi persis seperti saat lebaran.

Siang ini, kendaraan service dulu sebelum jalan jauh yang memang sudah waktunya service 70,000 km, tapi sayang, service sudah tak mungkin kalau belum booking sebelumnya, katanya lagi, hari ini adalah hari terakhir buka tahun 2009, buka lagi tgl 4/01/10, jadi cuman ganti oli saja.

Tahun baru dijalan kayaknya kali yang kedua nih, dulu pernah saat persis mau Idul Adha, 2 atau 3 tahun lalu, kita mau ke Ciamis motong sapi disana...

OK, siap-siap ……

Monday, December 28, 2009

Ibu.............

Tiba-tiba ingat ibu…..

Terbayang sosok beliau, duduknya, jalannya, bicaranya…… Semuanya sangat menyentuh, beliau dimataku sangat-sangat lembut. Tak pernah seingatku dia marah yang membuat aku takut. Dia sosok yang mendekati sempurna bagiku sebagai seorang ibu yang ideal. Dengan anak 9 orang dengan rata-rata jarak 2 tahun, bisa dibayangkan betapa sulitnya mengelola anak-anak yang banyak itu. Namun, sebagai seorang ibu yang masih sangat muda, ibu konon menikah di usia yang sangat dini, mengurus banyak anak dilakonin dengan mulus. Belum lagi saat itu adalah saat-saat sulit, baik dari sisi Negara maupun dari sisi internal keluarga. Ayahku sempat dijadikan warga Negara kelas dua di keluarganya, sementara adik laki-lakinya berstatus sangat berlawanan dengan posisi ayah. Mencoba usaha apapun baginya selalu sulit untuk berkembang karena sulit sekali mendapat bantuan dari ayahnya, apalagi bantuan dalam bentuk dana, sepertinya hal itu jauh panggang dari api…..

Namun walau demikian, sebagai seorang ayah yang memiliki tanggung jawab yang besar terhadap keluarga, ayah tak pernah berputus asa untuk menghidupi keluarga. Semua kesempatan beliau coba dengan segenap kemampuannya, namun bila terbentur dengan masalah dana, kembali beliau menyerah karena tidak ada dukungan ayahnya walaupun dari sisi financial, ayahnya mampu memenuhi keperluan modal yang dibutuhkan ayah. Lucunya, saat ayah mulai berhasil bisnis minyak kelapa, saat beliau berusaha untuk mencari supplier kelapa di kampung dekat kakek berbisnis yang sama, kakek tersebut berkonspirasi dengan adik ayah untuk memboikot seluruh pemilik pohon kelapa, jangan menjual kelapa kepada ayahku….

Upaya terakhir ayah adalah merantau ke Jakarta untuk mencari peruntungan. Alhamdulillah, ALLAH mentakdirkan ayah mencari nafkah di Jakarta. Beliau menjadi tentara, KMKB nama kesatuannya waktu itu, entah apa artinya, sampai sekarangpun aku juga nggak tahu. Kuingat waktu kecil dulu saat aku tinggal di Gang Gumbira Dua (daerah sekitar Manggarai, belakang Bappenas sekarang), ayah kadang pulang membawa motor gede, motor Harley Davidson. Huh, bukan main aku takutnya…
Setiap ada anak baru lahir, anak yang diatasnya dikirim ke kampung untuk tinggal dengan nenek dari ibu, dan aku bersama adik perempuanku adalah generasi terakhir yang tinggal bersama ayah sampai ayah pensiun.

Di tempat inilah ayah berkarir sampai masa pensiunnya. Karena pangkat ayah tidak terlalu tinggi, usia 45 ayah telah pensiun. Alhamdulillah, walaupun demikian, saat ayah pensiun ayah baru saja selesai membangun rumah di kampung ibuku, sehingga saat pensiun tiba kami pulang ke rumah baru tersebut.

Dimasa-masa sulit tersebut itulah, ibu yang masih sangat belia harus berjuang membesarkan anak-anaknya ditengah penghasilan ayah yang tidak terlalu besar. Rumah tinggal waktu itu adalah rumah kontrakan bedeng yang berjejer sekitar 6 rumah. Rumah tersebut dindingnya terbuat dari anyaman bambu dan usia anyaman tersebut sudah cukup sepuh sehingga dibeberapa tempat halaman belakang terlihat cukup jelas dari bolongan tersebut. Belum lagi WC-nya yang hanya satu buat dipake rame-rame. Konyolnya, WC tersebut hanya galian tanah seperti sumur kemudian diatasnya hanya diberi balok kayu berjejer untuk nongkrong, atasnya tidak ditutup sehingga kita bisa lihat tumpukan pisang dibawahnya…. Bisa dibayangkan, bagaimana bau dan banyaknya lalat ijo disana…

Tidak terbayang sedikitpun bagaimana sulitnya ibu bertahan hidup di daerah yang asing tanpa ada kerabat dekat. Namun itulah ibuku, beliau sosok yang senantiasa menjadi idola, namun rasanya bukan hanya idola bagiku semata, namun juga bagi 8 orang saudara kandungku. Kuingat, betapa beliau itu mengajari kami dengan lembut, dengan sayang bahkan kadang berlaku seperti teman. Harap diingat, ini jaman dulu, jamannya hubungan anak-ortu tidak seperti saat ini, tapi nampaknya beliau telah mempraktekannya sejak dulu. Sangat monumental….

Dalam hal hubungan antar anak, ibu senantiasa selalu mengingatkan kami untuk akur, tidak saling cakar dan harus menjaga perasaan masing-masing. Juga ajaran beliau tentang melaksanakan perintah-perintah agama, entah bagaimana sampai sekarang aku tak pernah merasa paksaan yang kuat untuk itu walaupun hasilnya saat ini, ke 9 anaknya Alhamdulillah sebagai manusia-manusia yang taat agama.

Dari kondisi yang diciptakan ibu, manfaatnya yang besar sangat dirasakan sampai hari ini. Hubungan diantara kami bersembilan sangatlah erat, sangat dekat dan sangat hangat. Betapa tidak, dari 9 anak yang dilahirkannya, keseluruhannya – ya keseluruhannya memiliki rasa silaturrahim yang baik diantara mereka. Rukun, saling mengunjungi, saling mendo’akan dan saling mengingatkan. Sungguh terasa pengaruh didikan beliau sampai saat sekarang, hanya saja aku agak sedikit kecewa pada diriku yang tak mampu mendidik sebagaimana beliau mendidik aku….

Dari 9 anak yang dilahirkan ibu, 7 diantaranya adalah wanita dan hanya 2 orang yang pria dan aku termasuk golongan yang kedua. Kagumnya aku sama cara ibu mendidik, beliau mendidik ke 9 anaknya “kageroh” semuanya tanpa ada yang luput. Ke 9 anak-anaknya merasa terperhatikan, tak ada yang diistimewakan satupun sehingga karenanya tak ada saling iri. Ke”kageroh”an tersebut terbukti dengan hasilnya saat ini, kesemuanya merasa menjadi satu, satu kesatuan yang terikat erat dengan silaturrahim diantara saudara, sampai-sampai ada tetangga ibu yang mengatakan bahwa ibu menjadi inspirator beliau dalam mendidik anak anaknya. Menurut dia, ibu sangat istimewa, walaupun anaknya banyak, tapi tidak anak yang “nyaliwang” hiji oge.

Waktu anak yang ke 9 lahir, usia ibu masih sangat muda, mungkin baru anak ke 2 atau ke 3 bagi ibu-ibu Jakarta saat ini, masih sangat produktif. Sembilan, bayangkan, sementara yang lainnya masih kecil-kecil.
Yang aku sangat salut dibarengi rasa terharu sekarang, saat ayah pensiun dari tentara, ibu langsung menjadi teramat perkasa. Tanggung jawab membesarkan anak-anaknya mungkin menjadi terasa pindah kepundaknya seiring dengan pensiunnya ayah. Ibu sering subuh-subuh sudah berangkat ke Ajibarang untuk mencari barang dagangan untuk dijual lagi, itu dilakukan sendiri, sendiri, bener bener sendiri. Jaman baheula lagi, bukan jaman kiwari yang berbagai fasilitas kemudahan mudah didapat.
Ibu, maafkan kami yang belum bisa membantu waktu itu. Dan hebatnya, ibu tak pernah mengeluh atau marah-marah!

Belum lagi usaha ibu dalam menambah penghasilan lainnya, yaitu membuat kecap. Kuingat sekarang, ternyata membuat kecap itu bukan pekerjaan gampang, kekuatan fisik sangat dibutuhkan disini. Yang membuat aku trenyuh, ternyata itu dibuatnya malam hari karena saat pagi menyingsing, para penjual keliling kecapnya telah datang untuk membawa jualannya keliling dari kampung ke kampung. Sama siapa ibu bikinnya pekerjaan berat itu ? Lagi-lagi sendiri…. Ibu, betapa mulianya dirimu bagiku…………

Ada cerita yang menyayat sebelumnya, tatkala ibu dalam keadaan mengandung, aku nggak tahu mengandung siapa. Saat itu masih belum merantau ke Jakarta dan ayah memiliki usaha bikin minyak goreng, minyak “keletik” yang produk sampingannya berupa “galendo”. Itu yang aku ceritakan diatas, saat usahanya mulai berkembang dan sangat membutuhkan modal, boro-boro dapat bantuan modal, seluruh pemilik pohon kelapa dekat rumah kakek malah dibujuk jangan jual kelapa kepada ayahku. Duh….
Nah, untuk sampai menghasilkan minyak “keletik”, kelapa-kelapa itu harus diparut terlebih dahulu. Kita tahu kan bagaimana teknologi jaman dulu ? Serba manual, serba butuh tenaga. Ibuku tersayang, ibuku yang sedang mengandung itu harus melakukan pemarutan itu sampai tuntas seluruh kelapa yang akan dibuat minyak keletik tersebut. Lagi-lagi dilaksanakannya itu malam hari, sampai larut malam dan lagi-lagi tugas itu dikerjakan hanya oleh beliau sendiri. Ibu………
Ayah nggak bantuin ? Kata ibu, ayah juga letih setelah seharian keliling, jadi sebagai pendamping ayah, ibu melaksanakan “kewajiban” membantu suami mencari nafkah, harus dengan ikhlas walaupun saat itu ibu lagi hamil.

Saat ibu sudah usia 40 an, aku waktu itu sudah SLA. Beliau aktif di pengajian ibu-ibu bahkan jadi salah seorang ustadzah yang cukup digemari. Beliau juga sering dan bahkan punya jadual rutin mengisi acara di radio daerah, Sturada waktu itu namanya, studio radio daerah. Wah, kalau sekarang rasanya ibu bisa tampil seperti Mamah Dedeh tuh di TV….
Ibu ternyata punya kharisma tersendiri di lingkungannya, beliau itu sangat dihormati oleh para tetangga, akupun merasakan efeknya karenanya. Semua anak ibu dipanggil dengan sebutan atau predikat “Neng” bagi yang perempuan dan “Cep” bagi yang laki-laki dan itu masih berlanjut sampai sekarang walaupun ibu sudah tiada.
Keberadaan ibu dalam kelompok pangajian itu sangat tertancap kuat dibenak para audience-nya atau para muridnya. Jika seandainya ibu berhalangan hadir untuk menjadi pembicara, para ibu-ibu tersebut suka kecewa walaupun sebagai penggantinya adalah adik ibu sendiri.
Kegiatan ibu dalam pengajian itu, mengantarkan ibu menjadi tokoh Muslimat NU tingkat Kabupaten, terakhir beliau adalah salah seorang pengurus inti di organisasi tersebut.

Kecintaan para murid pengajian ibu pada beliau tergambar saat ibu wafat, takziah para ibu-ibu yang sedih, baik yang dekat maupun yang jauh seakan tak pernah berhenti mengalir. Jumlah pengantar jenazah ibu sunguh sangat mengharukan, jalanan didepan rumah yang cukup lebar hampir membuat jalan tertuup total karenanya. Aku suka menyamakan kiprah ibu dengan sebuah pepatah, Ibu telah memetik panen atas semai yang telah beliau tebar!

Ibu, maafkan kami yang belum sempat membalas jasamu yang segunung, yang tak mungkin kami dapat membalasnya….
Selamat jalan ibu, semoga senantiasa engkau ada dalam rahmatNya dan Insya ALLAH dimasukanNYA kedalam SyurgaNYA. Ya ALLAH, kasihanilah kedua orang tua kami sebagaimana mereka menyayangi kami sewaktu kami masih kecil. Amin…..

Saturday, December 26, 2009

ANAK

Anak adalah titipan ALLAH kepada kedua orang tuanya. Setiap pasangan suami istri (pasutri), baik yang baru menikah maupun yang sudah lama menikah, senantiasa selalu berdo’a agar diberi keturunan, utamanya yang sholeh dan solehah, berbakti kepada orang tua dan menjadi kebanggaan keluarga. ALLAH menjawab do’a tersebut dengan memberinya keturunan. Yang DIA minta adalah, didiklah anak tersebut agar dia menjadi manusia yang pandai berbakti kepadaNYA, karena pada prinsipnya manusia dilahirkan dalam keadaan suci bersih, seperti kain putih yang belum ada noda sedikitpun, menjadi tanggung jawab kedua orang tuanyalah apakah anak ini akan menjadi Majusi, Nasrani atau Yahudi (al Hadits).

ALLAH memberi manusia kebebasan mutlak untuk memilih, mau jadi manusia yang baik atau sebaliknya. Kebebasan memilih itu tentunya dibarengi dengan tanggung jawab yang tegas : “tanggung sendiri akibatnya”. Pilihannya benar menurut aturan agama yang dibawa Nabi Muhammad, jurusannya adalah jalan yang lurus menuju syurgaNYA, sebaliknya, bila pilihannya berseberangan, hasilnya adalah jalan yang berliku dan muaranya adalah Neraka Jahannam.

Posisi orang tua disini sangat sentral dan berat. Betapa tidak, setelah dikabulkan do’anya untuk memiliki keturunan, haruslah kedua orang tua tersebut juga memikul tangung jawab atas titipan dariNYA, karena sesungguhnya anak itu adalah titipan. Itulah tadi bahwa, kedua orang tua harus mendidik dan membimbingnya agar sesuai dengan ketentuan agama ALLAH, konseksuensi yang akan didapat kelak adalah 2 kemungkinan, baik atau buruk. Kemungkinan baik, tentu inilah yang diharapkan, tidak saja didunia tapipun di akhirat kelak. Di dunia, orang tua akan merasa hidup tenang melihat anak-anaknya tumbuh sesuai harapan malah di akhirat bisa menolong kondisinya bila ternyata kedua oranf tersebut bertakdir buruk. Sebaliknya, kemungkinan buruk hasil pendidikan buruk akan menuai badai sejak anak tersebut lahir, didunia nyusahin apalagi dk akhirat kelak, bahkan bisa menyeret kedua orang tua tersebut kedalam neraka jahannam walaupun sesungguhnya keduanya telah ditakdirkan masuk Syurga! Atau sebaliknya, anaknya masuk Syurga dan kedua orangtuanya masuk Neraka, repotnya anaknyapun tidak bisa menolongnya. Nah, kita sebagai orangtua harus ingat ini…..

Banyak kita orang tua menyayangi mereka dengan cara yang kurang tepat atau bahkan salah. Kesalahan kecil bisa berakibat fatal bila hal itu berulang dan akhirnya jadi kebiasaan. Contoh kecil, terkadang orang tua suka membiarkan anaknya dibiarkan lalai mengerjakan sholat atau tidak menjalankan puasa wajib Ramadhan, alasannya, biarin lah dia masih kecil, padahal sianak sudah kelas 4 atau 5 SD. Ini adalah tindakan kasih sayang yang salah. Seharusnya justru sejak kecil-lah latihan itu dibiasakan sehingga kalau sudah dewasa, hal itu akan menjadi biasa. Rasulullah dalam salah satu haditsnya bersabda bahwa mengajari anak kalau sudah besar sama halnya seperti menulis diatas air, tidak ada bekasnya, sedangkan mengajari anak sewaktu masih kecil ibarat menulis dibatu, ada bekasnya. Sampai-sampai beliau mengatakan bahwa, pukullah (dengan pukulan yang tidak menyakitkan) anak itu kalau di usia 7 tahun tidak mau
mengerjakan sholat!

Sebagai orang tua, kita harus sudah siap memikul tanggung jawab itu sejak kita berdo’a untuk diberi keturunan. ALLAH penuh kasih sayang, DIA senantiasa mengucurkan rahmat dan nikmatnya tanpa henti kepada makhluk yang bernama manusia. Bayangkan, kita diberi otak untuk berfikir, mata untuk melihat, hidung untuk mencium, mulut untuk makan dan bicara, tangan, kaki, perasaan dan masih ribuan bahkan jutaan nikmat yang kita tak akan mampu menghitungnya, semuanya gratis!!. Kata ALLAH dalam firmannya, bila air dari 7 samudra ini ditambah dengan 7 samudra lain sebagai tambahan untuk sebagai bahan tinta dan kayu pohon-pohonan sebagai penanya untuk menulis rahmat dan nikmat ALLAH, itu tak akan cukup! Maka nikmat ALLAH mana lagi yang akan manusia dustakan ?

Menanam secara baik dan benar, akan memanen dengan hasil yang baik. Menanam dengan cara yang salah dan buruk, panennya sudah dapat ditebak akan jadi apa hasilnya. Itulah hukum sebab akibat dan itulah sunnatulah. Perbuatan kita, baik atau buruk, seluruhnya akan berbalik kepada kita sendiri.

Baik buruknya suatu bangsa berawal dari lingkungan yang baik dan lingkungan yang baik berawal keluarga yang baik. Keluarga yang baik, tidak disangsikan lagi berawal dari didikan yang baik. Parameter didikan yang baik ? Tentu saja sesuai dengan tuntunan agama karena arsitek tuntunan agama adalah DIA sang pemilik kehidupan!
Tapi sungguh, untuk sampai kesitu koq sulit ya? Diperlukan sejuta kesabaran dan sejuta lebih lagi kesabaran. Jadi suka berfikir, bagaimana dulu orang tua kita mengurus kita, padahal jaman dulu para orang tua itu anaknya banyak sekali ? Terima kasih yang Ibu, Ayah yang selama ini telah mendidik kita semua sehingga kita menjadi seperti sekarang ini. Ya ALAH, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kita selagi kita masih kecil. Amin…..

Tuesday, December 22, 2009

Lain padang lain belalang

Bro, baru kusadari bahwa judul diatas adalah benar semata, maksudnya benar-benar cocok bagi kehidupan. Lain padang lain belalang, lain tempat lain adat, lain kondisi lain reaksi.
Terusin lagi, lain usia lain dunia, lain orang lain karakter.
Masih ada, lain generasi lain zaman dan lain keluarga lain masalah.

ALLAH sudah mentakdirkan bahwa manusia disemua waktu, dari detik ke detik, dari jam ke jam, dari hari kehari dan seterusnya selalu diberi cobaan, untuk mendewasakan. Kadar cobaan yang DIA berikan kepada kita berbeda-beda tergantung iman, kekuatan baik fisik maupun mental dan tergantung lainnya lagi. DIA tidak akan mencoba seseorang diluar kemampuannya (diakhir surat al Baqoroh), tentunya DIA juga tahu kemampuan setiap makhluk yang diciptakanNya. Konon, tambah kita beriman, tambah besar DIA memberi cobaan kita. Tapi tentunya tidak ada alasan bagi kita “mengurangi” kadar iman kita agar cobaan berat menyingkir dari kita. Kita justru harus mempersenjatai kita dengan ilmu, bukan ilmu kudu, tapi ilmu beneran yang datangnya juga dari DIA. Setiap seseorang mendapat cobaan, keluarga - teman – kerabat biasanya selalu mengatakan : “yang sabar ya…”.
Nah itulah senjata kita, sabar! Repotnya, kata-kata sabar itu sangat mudah diucapkan namun sangat berat diaplikasikan. Coba deh…..

Menjadi rada sedikit paradox, eh bener nggak ini istilah aku sisipkan, bila cobaan yang membuat kita sedih, susah dan “negative” lainnya, itu yang biasanya kita mengatakan atau menyatakan kalau kita sedang kena musibah atau kita sedang dicoba, padahal cobaan DIA berupa kenikmatan dunia itu juga adalah cobaan? Umumnya kita baru dibuat sadar atas kekurangan atau kesalahan kita pada saat kita diberi cobaan yang “buruk”, namun kita justru malah jadi “melupakan” DIA saat kita dicoba dengan kenikmatan. Jadi, cobaan berupa kesulitan lebih berhasil daripada cobaan kenikmatan, maksudnya berhasil mengingatkan……

Lain padang lain belalang…….
Maksud judul tersebut adalah hanya sekedar mengingatkan diriku akan perbedaan kondisi setiap segala sesuatu. Suatu kondisi cobaan yang hampir 100 % mirip akan menghasilkan reaksi yang berbeda diantara manusia. Yang satu memiliki reaksi positif dan mungkin saja yang kedua negatif. Background-lah yang membedakan……….
Sewaktu cobaan buruk datang, sering seseorang menerima simpati dengan kalimat tadi, yang sabar ya… padahal yang mengatakan demikian, bila cobaan tersebut menghampiri dia, belum tentu dengan mudah dia dapat meng-aplikasikan sabar tersebut.

Bro,
Hal itu sudah kualami, memang sulit sekali kita aplikasikan rasa sabar itu, walaupun kita sudah mencoba ulang berkali-kali dengan mengatakan pada diri sendiri, kau harus sabar ! Namun, rasa sabar itu lebih sedikit timbulnya dibanding dengan rasa marah yang timbul sebelum cobaan itu berlalu…..
Sering kita dengar jawaban : ya, saya sudah sabar koq tapi kenapa cobaan tidak juga berlalu ? Tanpa kita sadari, kata-kata itu menandakan bahwa kita belum berhasil membuat diri kita sabar. Betul ? Tapi apakah kita pernah berdoá, Ya ALLAH, segerakanlah cobaan ini berlalu manakala kita dapat cobaan yang nikmat? Hm….

Bro,
Mohon doänya dari semua, saat ini aku merasa bahwa aku juga sedang ada dalam cobaanNya walaupun cobaan tersebut belum besar menurut ukuranku dan mudah-mudahan walaupun tidak besar, cobaan tersebut akan segera diangkat olehNya, aku khawatir sekali diriku tak mampu menjadi orang yang sabar. Ya, tentu saja ini cobaan yang buruk…..

Lain padang lain belalang, lain cobaan lain reaksi. Mudah-mudahan walaupun sulit aku akan menjadi orang yang sabar dan akan menjadi lebih dewasa. Amin…..

Thursday, February 05, 2009

Barang yang hilang itu.....

Bismillaahir rahmaanir rahiim.

Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah.....

Semua puji memang milik ALLAH, tak ada sedikitpun makhluknya pada hakekatnya memiliki puji tersebut, seluruhnya milik DIA. Dan DIA pun maha kuasa atas segala sesuatu secara absolut.

----------------
Kalau inget peristiwa itu suka jadi merinding.....

Jum'at 30 Januari 09 lalu, untuk membunuh waktu luang, iseng-iseng TV tuner dengan bentuk USB itu dibawa ke Otista untuk disambungkan ke Laptop, ceritanya mau nonton TV, ya itu tadi untuk sekedar menghabiskan waktu agar pada saat waktu luang bisa nonton TV.

Karena hari itu mau buru-buru pergi ke Mal Ambasador, setelah nonton sebentar, Laptop itu dibenahi lagi dan dimasukin ke tasnya untuk dibawa. Praktis nonton TV juga selesai. Hari agak mendung mau hujan, tapi karena mau nggak mau harus pergi, ya jadinya pergi juga. Oh ya, perginya itu naik angkot, Rush-nya lagi dipoles di bengkel 99 karena bumper belakang habis di cat sedikit karena kena seruduk motor beberapa hari sebelumnya. Setelah berkemas selesai, langsung cabut ke Ambas sekalian nengok orrezka.

Setelah selesai tugas, buru-buru balik ke Otista sambil sekalian ambil Rush yang telah selesai di poles dan langsung pulang.

Beberapa hari kemudian, salah seorang tetangga di rumah ada yang meninggal sehingga malam itu harus menghadiri majlis tahlil selepas shalat 'Isya. Disitulah baru ketahuan bahwa TV tuner itu telah hilang.....Malam itu jadi nggak ikut tahlil gara-gara nyari sehingga timbul perasaan bersalah pada beliau yang meninggal, hanya gara-gara barang itu jadi tidak ikut mendo'akan dia...

Dicari ubek-ubekan dan ngosongin tas laptop berulang-ulang, tetap itu si TV tuner lenyap entah kemana. Dipikir lagi, kira-kira keman itu perginya barang, bleng banget, nggak inget...
Besoknya, Sabtu, langsung pergi lagi ke Otista untuk nyari. Semua tempat yang mungkin tergeletak barang itu digeladah, laci, tempat sampah, ruangan-ruangan kosong yang biasa ditaruh barang, nggak ada. Tetap hilang. Bingung deh, kemana itu barang.

Repotnya, sekarang ini lagi kena masalah duniawi sehingga masalah akhirat untuk mendo'akan tetangga saja terganggu oleh sebab hilangnya benda itu. Masalah duniawi itu sepele tapi memang "memalukan", lagi ngikutin cerita bersambung salah satu sinetron di TV nasional. Maksudnya, sinetron itu akan direkam lewat TV tuner itu sementara tahlil jalan. Sepulang tahlil baru sinetron itu di tonton.

Kurang lebih dua hari barang itu lenyap dengan pola pencarian yang sama yaitu mengosongkan tas laptop. Hasilnya tetep sama : nihil....

Kemarin malam, Subhanallah....
Ini malam adalah malam terakhir tahlil (malam ke 7)setelah berhenti pada malam ke 4, 5 dan 6. Tahlil hari ini harus ikut, ketemu atau tidaknya barang itu. Malu sama yang diatas, hanya karena benda itu melalaikan silaturrahim.

Iseng-iseng buka tas laptop sambil berdo'a, "Ya ALLAH, aku berharap benda itu kembali kepadaku sekarang"

Subhanallah..... Subhanallah.... Subhanallah......

Tahu-tahu barang itu ada diujung jari. Aku sampai merinding, terpesona, terkesima, terperangah, tak dapat kupercaya, aneh dan lain-lain. Tak dapat rasanya diungkapkan apa yang dirasakan saat itu.

Berhari hari tas itu dijungkir balikkan, dikosongkan, dirogoh-rogoh untuk mencarinya, dan tetap nggak ditemukan. Sekarang ? Dengan do'a (yang aku juga malu berdo'anya), DIA mengirimkan balik benda itu padaku. Subhanallah.....

Langsung sujud syukur saat itu juga. Tentu saja aku gembira.
Tapi yang lebih aku rasakan lagi adalah, aku gembira bukan karena melulu barang itu dikirim kembali padaku, tapi yang lebih bernilai adalah, ALLAH mengabulkan do'a!

Nah teman, percayalah dengan kekuatan do'a (tentunya do'a yang khusu dan iklas)

Wassalam,

Tuesday, October 28, 2008

Asam urat kumat ?

Alhamdulillah, saya jadi punya resep yang lumayan bagus untuk mengatasi penyakit yang satu ini. Sudah 3 kali saya rasakan manfaatnya ramuan ini dan hasilnya cukup cepet dirasakan. ALLAH telah menyembuhkan saya melalui resep atau ramuan ini dengan cepat. Kurang lebih 2 atau 3 hari keluhan hilang dan sudah bisa beraktivitas lagi dengan baik, rasa sakit yang mengganggu hilang tanpa terasa, tahu-tahu saya sudah dengan mudah melakukan apa yang saya mau tanpa sadar. Begitu sadar, oh .... saya sudah sembuh? Alhamdulillah...........

Ceritanya (keluhan kumat) yang terakhir begini :

Waktu lebaran kemarin 2008 /1429 H, kita pergi ikut nyesekin jalanan, kita pergi ke Ciamis dan lanjut ke Klaten. Sampai di Purwokerto, selepas Jum’atan istirahat dulu sambil makan di rumah makan. Padahal saya tahu bahwa makan tahu itu jika terlalu banyak akan bermasalah untuk saya. Dalam catatan yang diberikan dokter ke saya, maksimum hanya 50 gram jatah tahu yang boleh saya makan sehari! Itu berarti hanya sepotong kan ? Nah, karena suasana lebaran dan tahu itu dimasaknya menimbulkan selera, lupa tuh larangan itu. Cuman 4 sih padahal, tapi ya itu, sampai di sekitar Jogja mulai terasa menyerang. Sikut tangan kanan mulai sakit kalau digerakkan, di bengkokkan lebih tepatnya. Dalam hati bertanya, kenapa ini ? Belum ingat kalau sebelumnya makan tahu kebanyakan. Lama-lama rasa sakit mulai makin terasa. Tangan kanan ini, kalau lepas dari stir mobil, sudah sulit untuk diangkat lagi untuk pegang stir, sakit sekali.......
Akhirnya, sampai di Klaten, stir mobil tinggal pake tangan kiri saja, jadinya jalannya pelan. Sampai di rumah, ada rasa lega juga bahwa saya telah sampai tujuan dengan selamat, walaupun ujung-ujungnya saya tidak bisa ngapa-ngapin karena sakit tangan itu. Walhasil, 2 hari di Klaten nggak kemana-mana, tunggu rumah saja karena tangan kanan itu sakit sekali.

Begitu sampai di Klaten, istri langsung telepon kakaknya yang tinggal di Jatibarang, dia minta resep bagaimana menolong kondisi seperti itu. Dia menyebutkan resep itu dan saya ingat, itu kan resep yang biasa saya pakai kemarin-kemarin kalau kumat. Ya, karena sedikit panik jadi lupa sama itu resep. Maklum, kalau saya keterusan sakitnya, bagaimana pulang ?

Ramuannya begini, nggak sulit atau menjelimet, cukup :

1 ruas jempol tangan temulawak
1 ruas jempol tangan jahe merah
Separo apel fuji (maksudnya satu apel dibagi dua)
1 sendok makan madu

Cara membuatnya adalah dengan cara di blender ketiganya dengan dicampur air sedikit, ingat, apelnya jangan dikupas, di blender berikut kulitnya. Setelah selesai, baru madu ditambahkan dan aduk sampai rata. Minum saat itu juga, sedapat mungkin jangan dibiarkan lama terhidang baru kemudian diminum. Insya ALLAH, dalam waktu 2 hari dengan 3 x sehari akan ada perubahan yang menggembirakan.

Monday, October 27, 2008

Mudik lebaran episode 2

Ciamis - Purwokerto

Hari Jum’at, 3 Oktober 2008 adalah hari “bubaran” para kontingen. Kontingan Pondok Gede, Bintara Jaya, Karawang, Malang rencananya akan jalan pagi ini. Yang tinggal adalah kontingen dari Bambu Apus karena anak-anaknya masih ingin stay di Cintapalah.

Pagi-pagi buta, kontingen Karawang sudah siap berangkat, kulihat mobil Emma sudah siap saat aku, Ua Fe’i, Ua Muhyiddin dan Ua Munir pulang dari Masjid seusai shalat Subuh, untuk menghindari macet katanya setelah dapat info bahwa Nagreg macet se macet-macetnya sejak malam. Nggak tahu apa nekat atau apa boleh buat, Emma sama suaminya tetep pulangnya mau lewat Nagreg, mungkin ibarat rasa pasrah : apapun yang terjadi, pokoknya aku mau lewat Nagreg karena hanya itu yang kutahu. Jam 05:00 mereka berangkat. Pasrah, ini pula yang aku rasakan jauh sebelum Cipularang ada. Waktu itu dalam pikiranku kalau mau pulang ke Ciamis : pokoknya apapun yang terjadi, semacet apapun nantinya, kalau mudik ke Ciamis aku akan lewat Puncak! Lewat toll Cikampek aku rasakan agak lain, driving on this path is a little different compare to Jagorawi. Serasa kering, gersang gitu kalau lewat Cikampek, nggak tahu kenapa. Tapi perasaan itu lambat laun berubah setelah tahun 1998 kantorku pindah ke Cikarang, praktis tiap hari aku lewat situ yang pada akhirnya perasaan kering itu sedikit demi sedikit menghilang. Sekarang ini jalan toll ke Cikampek sudah jauh lebih nyaman, apalagi Jakarta - Cikarang, jalannya lebar walaupun semakin hari nyatanya kendaraan yang lewat situ bertambah terus. Setidaknya ada niat pemilik jalan toll untuk membuat para pengguna jasa merasa nyaman.

Setelah beres-beres apa-apa yang harus diberesin, kontingen Pondok Gede dan Bintara Jaya bubar barengan sekitar jam 07:30. Sewaktu beres-beres, aku mengalami kendala sedikit karena dompet kecil tempat kartu-kartuku tidak ditemukan. Penting banget itu, karena disitu disimpan 2 kartu kredit Citibank, 1 kartu kredit BCA, ATM BCA, kartu asuransi berobat AIA, kartu eazy pay Citibank, kartu member laboratorium Prodia dll. Yang paling penting sih kart ATM, kalau butuh uang nanti gimana semantara di dompet minim ? Ubek-ubekan dicari belum hasil sejak tahun tadi malam waktu mau ke rumah Bi Yayah. Diulang lagi ingatan, ngapain aja sejak kemarin, mana tahu aku lupa atau dompet itu tercecer tanpa sadar, tetap nggak ingat. Yang kuingat adalah, dua dompet itu disimpan diatas box dekat tempat tidur dan istriku merasa mengamankan itu karena letaknya deket sekali dengan jendela yang nakonya terbuka. Pasrah ? Jangan, ini harus ketemu! Nah, disaat-saat terakhir, dalam kepasrahan, aku coba buka kantong-kantong cover laptop, ALHAMDULILLAH, rupanya dia nongkrong disitu, rupanya aku (mungkin) lupa memasukkannya kesitu. Jadilah kita berangkat dengan tenang.

Berangkat pulang iring-iringan sama Xenia merah Ua Fe’i sampai di pertigaan jalan besar Cijantung, disini kita berpisah, Xenia ke kanan kita ke kiri karena kita mau lanjut ke Klaten. Ua Euis sama Ua Muhyiddin bareng kita sampai Majenang karena mau mampir di rumah Oyah, ada yang mau dibawa katanya, ikan gurame kalau tidak salah. Rencananya katanya mau pulang ke Malangnya hari Minggu dari Majenang, jadi masih ada waktu beberapa hari leha-leha disana.

Jalanan enak, sepi dan lancar. Suasana pagi yang cerah ikut membuat suasana hati jadi enteng dan enjoy. Aku yang tadinya waswas apakah bisa nyetir sendiri pake yang manual jadi heran sendiri, koq bisa ? Ya memang, setelah punya pengalaman lutut sakit nggak bisa dibengkokin akhir tahun lalu, aku jadi nggak bisa dan nggak berani bawa mobil dengan transmisi manual, kaki kiriku nggak nyanggup. Itupun dulu (mungkin) disebabkan pake Avanza yang manual, couplingnya keras sehingga menyebabkan kaki kiriku lututnya sakit. Bener-bener nggak bisa dipakai untuk injak coupling, sakitnya nggak tertahankan. Tapi menurut medis sih kayaknya asam urat yang lagi kumat. Waktu Ua Euis tanya, kira-kira berapa lama sampai di Majenang, kujawab sekitar 1 sampai 2 jam, tergantung kondisi lalulintasnya. Sebenernya jaraknya hanya sekitar 50 sampai 55 km ke Majenang dari Ciamis itu, tapi karena jalannya kecil dan cukup banyak kendaraan yang lewat, jarak tersebut harus ditempuh dalam waktu 1 sampai 2 jam.

Suasana sepanjang jalan yang dilewati masih nampak dalam suasana lebaran. Orang masih banyak yang bersilaturrahim ke para kerabatnya. Manusia banyak berderet di pinggir jalan, apalagi di tempat-tempat khusus pemberhentian mobil angkutan umum, mereka kayaknya mau bersilaturrahim ke tempat-tempat kerabatnya yang agak jauh, yang membutuhkan angkutan. Belum lagi mungkin yang akan pergi ke tempat-tempat rekreasi. Suasana hari ketiga lebaran masih terasa meriah. Itulah enaknya kita tinggal di Indonesia, di negara yang mayoritas beragama Islam. Kebetulan kita tinggal di daerah belahan bumi bagian timur yang rasa kebersamaan sesama warga sangat kental dan deket. Bandingkan dengan masyarakat Eropa atau Amerika, mereka sangat individualistis, lu lu gua gua. Di masyarakat kita, kenal nggak kenal, kalau ketemu mesti menyapa, setidaknya senyum. Senyum kan ibadah ? Belum lagi, anjuran agama yang harus senantiasa menyambung silaturrahim, ditambah budaya setempat, hal ini menambah rasa kekeluargaan yang kental . Itulah Islam, itulah Indonesia....

Sering baca di Internet mereka-meraka yang berada di negara-negara non muslim tentang rindunya mereka lebaran di tanah air, maksudnya disini, di Indonesia. Bagaimana ramahnya orang Indonesia, bagaimana meriahnya suasana lebaran,bagaimana tradisionalnya suasana. Ini yang bikin kangen katanya. Subhanallah....
Kembali ke jalan, seperti yang dibilang tadi, suasana lebaran masih terasa. Yang nampak menyolok di jalan adalah sepeda motor. Masya ALLAH...... kayak laron, banyak banget! Lagi asyiknya ngobrol, ada sms dari Emma, dia mengabarkan bahwa jalan ke Jakarta lancar banget, kosong katanya. Lho koq ? Yang macet itu ternyata arah ke Ciamis, bukan arah ke Jakarta, jadi ke Jakarta kosong melompong. Jam 09:30 katanya dia sudah sampe di rumah. Wah, lumayan banget, sementara si Ua pake jalan lewat Cikamurang karena kabar macet Nagreg itu. Tapi hikmahnya, si Ua bisa mampir di Talaga nengok Ua Cecep yang katanya sakit.

Soal mudik motor, dijalanan itu ada yang berombongan, ada yang mencar-mencar. Repotnya kalau kita mau nyusul, dari arah sebaliknya juga banyak itu yang namanya sepeda motor. Ya lucu, asyik, unik tapi ada juga rasa jengkel karena jadi terasa menghambat, belum lagi yang nyosor tanpa sopan, kadang-kadang kita dibuatnya repot. Kenapa dibilang unik, motor yang ikut meramaikan jalan karena lebaran, atau lebih tepatnya motor yang mudik lebaran, punya ciri khas. Yang gampang dilihat adalah tambahan kayu di belakang motor untuk nyimpen koper atau bawaan dalam bentuk kardus, kadang ada yang dibungkus plastik kardusnya, mungkin untuk menghindari basah karena hujan. Di jok belakang biasanya dempet istri sama anaknya. Kalau anaknya sudah besar setingkat SD, biasanya duduknya ngadep kedepan, tapi kalau masih kecil dalam gendongan, biasanya ngadep kebelakang ke ibunya sampil di bungkus kaen sarung untuk menghindari angin. Di depan sang ayah yang bawa motor, biasanya ada anak lagi yang duduk. Kalau motornya bebek mendingan bisa duduk agak rendah jadi nggak menghalangi pandangan sang ayah dari jalan, kalau motor biasa kan repot. Lucunya, anak yang didepan kadang kelihatan tidur dengan naro kepala di deket stang motor diganjel bantal. Kalau udah gini, apa sang ayah nggak kesulitan bawa motornya, jadi agak kaku gitu, misalnya kaku mau belok ? Seru, ngeri kadang lihatnya, tapi kelihatannya enjoy aja tuh. Itulah lebaran, itulah Indonesia.......

Setelah berjalan 1 jam lebih dikit, sampailah kita di Majenang. Ua Euis danm Ua Muhyiddin turun disini. Salam untuk Bi Oyah ya.....

Perjalanan dilanjutkan tinggal bertiga, istri, Enca dan aku. Tujuan berikutnya adalah Purwokerto, rumah kakaknya istri. Udah masuk tahun ke 3 atau 4 dia tinggal disitu. Dia buat radio FM disana dengan nama “Suara Purwokerto FM”. Karena memang didirikannya masih baru, jadi masih berkutat dengan kesulitan, belum lagi katanya pasar di Purwokerto tidak seperti pasar di wilayah lain ditambah dengan kondisi belanja iklan tahun 2008 ini yang sebahagian besar diambil media TV, repotnya lagi TV lokal sekarang sudah banyak, bahkan di Purwokerto sudah ada 2 dan tarif iklannya lebih murah dari radio. Gila kan, betapa sulitnya sekarang bisnis radio? Memang, kehidupan tambah sulit sekarang ini, apalagi ada krisi keuangan global yang dipicu dari kegagalan sistim kapitalis Amerika. Wah, kacau.....

Perjalanan ke Purwokerto bisa dikatakan aman dan lancar, sesuai perkiraan. Saat berangkat dari Ciamis, kita berharap Jum’atan sudah sampai di Purwokerto walaupun kita di jalan nggak ngebut. Dari yang sudah-sudah, perjalanan Ciamis – Purwokerto itu makan waktu antara 2 sampai 3 jam, jadi kalau berangkat jam 07:30 akan sampai di Purwokerto selambat-lambatnya jam 10:30, jadi sempat Jum’atan di Purwokerto.
Lancarnya jalan ke Purwokerto ikut membantu tercapainya target kesana. Sempet dijalan berenti dulu, minggir sebentar, jajan cendol dawet ayu, khas kebumen. Dari awal, kita mau coba lewat jalan lain ke Purwokerto-nya, masalahnya yang hanya kita tahu jalan ke Purwokerto itu masuk dari lampu merah di daerah mana itu, aku nggak tahu, pokoknya nantinya lewat gunung gunung yang dipinggir jalannya banyak orang yang mungutin duit dari orang-orang lemparin duit dari mobilnya. Sebelum mencapai lampu merah tersebut, ada tulisan di jalan : Purwokerto kearah kiri, langsung kita belok. Dari situlah kita tanya-tanya, takut nyasar. Sempet uga sih didalam kota Purwokerto telepon dia untuk minta di guide, tapi akhirnya jam 10:30 sampai juga deh di Purwokerto, di studio radio “Suara Purwokerto FM”.

Aku agak lama juga nggak ketemu dia, tahun 2005 terakhir ketemu waktu pulang lebaran dari Klaten. Memang kelihatan belum normal banget kondisinya, kelihatan dari cara jalan dan bukain/dorong pintu besi yang berat. Mudh-mudahan dengan kesabaran dan tawakal, ALLAH akan mengembalikan kesehatannya. Amin....

Studionya sederhana, terletak di lantai 3. Di studio ini kulihat hanya ada komputer 2 biji, mike dan beberapa gantungan kertas, untuk dibacakan barangkali, lainnya aku nggak tahu karena memang asing dengan peralatan pemancar radio. Antena menjulang di depan setinggi +/- 30 meter yang tersusun dari kerangka besi yang ditumpuk-tumpuk di tunjang oleh tali-tali kawat yang diikat kemana-mana. Katanya pernah waktu musim hujan lalu antena ini tumbang! Untungnya tidak ada korban jiwa, tapi hasilnya sekarang ini jadi trauma, sebentar lagi musim hujan, musim angin lagi.....

Saat kita datang, radionya lagi relay Elshinta Jakarta, jadi bisa ditinggal-tinggal ngobrol. Ternyata simpel yan pemancar radio itu, ngak ribet. Dulu, kupikir pemancar radio itu rumit, banyak alat ini dan itu, harus ruangan tertutup dan persyaratan lain yang njelimet, ternyata dengan sesederhana itu radio bisa on dengan baik, tinggal jangkauannya aja yang diinginkan, jauh atau dekat, tergantung kita maunya apa.

Purwokerto - Klaten

Rencananya dia akan ikut kita bareng ke Klaten mengingat dianya nggak ada kendaraan dan kondisi fisik yang tidak 100 % fit. Baru saja dia “sembuh” dari stroek setelah dideritanya cukup lama, udah bisa jalan lagi sekarang walaupun masih agak diseret-seret. Ternyata yang berangkat cuman dia sama Dinda anaknya, sang istri tidak ikut karena studio nggak ada yang jaga. Karena Masjid agak jauh dari situ, akhirnya kita memutuskan shalat Jum’atnya dijalan saja sambil lewat. Gurame goreng ditinggal disini satu sebagai oleh-oleh.

Berangkat jam 11:00, berlima. Kali ini jalan yang akan ditempuh keluar Purwokerto adalah jalan yang lewat gunung-gunung itu. Kurang lebih 24 km untuk sampai ke jalan “selatan” yang menuju ke Jogja. Setelah berhenti sebentar masih di dalam kota karena Enca beli pulsa, kita langsung lanjut menuju ke gunung itu setelah sebelumnya berhenti lagi untuk shalat Jum’at. Kirain khutbah Jum’at mau pake bahasa jawa, ternyata pake bahasa Indonesia, jadi aku ngerti apa yang didakwahkan. Mobil diparkir di komplek kantor kepolisian, nggak tahu dimana tuh, yang jelas belum naik gunung.
Lepas Jum’atan kita cari rumah makan untuk ngisim perut yang terasa lapar. Rumah makan Padang, warteg atau apapun yang ada kita akan mampir. Sampailah kita disuatu tempat, masih sebelum gunung, yang tempat parkirnya agak luas. Makanan khas Kebumen katanya. Masuklah kita, cari-ari tempat duduk yang enak walaupun saat kita masuk, cuman kita doang yang ada, kosong. Setelah dapat tempat duduk yang dirasa enak, si pelayan rumah makan bilang, makannya cara prasmanan, ambil sendiri katanya. OK....
Pilih sendiri, ada irisan gurame goreng, lele goreng, ceplok telor, sayur tahu yang mengkilat airnya, lalap, mendoan, tempe goreng dan lain-lain pokoknya. Ngiter deh kita cari yang disukai, aku makan pilih tempe goreng, sambal goreng kentang dan tahu anmil 4 biji. Tapi disinilah aku mendapat “malapetaka kecil”, karena salah pilih dan lupa akan pantangan. Makan berlima dengan perut kenyang, tapi tarif makannya murah banget, cuman abis dibawah Rp. 50,000, Bayangin!

Setelah +/- satu jam disini, perjalanan dilanjut ke Klaten. Nah, mulai deh perjalanannya sulit, mulai antri, ngerayap sampai ke Wates! Bis, angkot, kendaraan pribadi dan ....motor tumplek plek di jalan. Di Gombong Rushnya disenggol kijang butut, itu srikandi keluar sambil sewot, kalau mampu itu sopirnya ditelen kali ama dia. Untungnya nggak apa-apa, cuman emblim (logo) Toyota-nya aja yang nempel di “konde” belakang copot, tapi masih bisa ditempelin lagi.

Di Kutoardjo sempet beli bengkuan, Rp. 10,000.- 3 iket. Lumayan bakal rujak aku, aku kan menunya makan rujak tiap hari, maksudnya makan buah-buahan, tapi karena kalau dimakan telanjang begitu takut bosan, maka suka dibuatin bumbu rujak supaya lancar. Murah juga bengkuangnya, banyak ternyata 3 iket itu. Makannya dicampur mangga yang tumbuh dihalaman rumah Klaten, kebetulan lagi musim.
Mulai sekitar Purworejo, tangan kanan mulai terasa kaku, sakit banget. Digerakin sedikit saja sakit. Kenapa sih ? Aku pikir-pikir, abis ngapain aku, rasanya nggak ngapa-ngapain, koq begini ? Anehnya sakitnya kalau digerakin dengan menekuk atau dilurusin. Digoyang kiri ke kanan is no problem, kenapa ya ? Repotnya, kalau tangan jatuh dari stir ke kaki, udah nggak bisa lagi diangkat pegang setir lagi, harus ditolong tangan kiri untuk menaikannya kembali ke stir. Tambah lama tambah parah. Sampe di Klaten nyetirnya tinggal sebelah, pake tangan kiri doang. Duh.... Begitu sampae jam 19:30, langsung sholat, tiduran dan istirahat. Tangn kanan udah hampir “pensiun” dari aktifitas biasa, menyulitkan. Dipikir-pikir kenapa begini, oh ternyata..............karena makan tahu! Itulah yang kumaksud “malapetaka kecil”. Sudah kedua kali ini gara-gara makan tahu, asam uratku kumat secara spontan. Di menu yang ditulis dokter memang makan tahu hanya diizinkan hanya 50 gram sehari, itu kan berarti hanya 1 buah! Nah siangnya aku makan 4 buah.... Kalau sakit begini, bagaimana nanti kalau mau pulang? Aku khawatir kalau istri yang bawa, ini kan jalan diluar kota bukan dalam kota, situasinya lain, ganas !

Mbak Watty langsung telepon kakaknya yang di Jatibarang, resepnya ternyata seperti yang beberapa bulan aku minum, ramuannya nanti aku posting tersendiri. Saat aku minum itu di Klaten, aku hanya tidak ingin mengecewakan istri saja yang sudah susah-susah telelpon ke Jatibarang, aku minum biasa saja tanpa harapan bisa sembuh toh aku juga bawa obat dokter untuk obat asam urat. Ajaib, dalam waktu 2 hari a 3 kali sehari, eh ALLAH memberi kesembuhan aku melalui ramuan tadi. Alhamdulillah, aku bakal bisa pulang dengan wajar.

Rumah Klaten ternyata belakangnya sudah dibuat 3 kolam besar untuk pelihara ikan lele, waktu lebaran itu ada 1 kolam yang baru kurang lebih 4 atau 5 hari diisi anak lele, yang dua lagi belum. Kolam yang satu hanya diisi air dan yang satu lagi malah kosong nggak diisi apa-apa, bocor katanya. Waktu mau diisi lele, dasar kolam diisi pupuk kandang. Entah karena itu atau karena hal lain, dari 70 kilo anak lele yang diisikan, tiap hari ada anak lele yang mati, katanya kalau dikumpulin mungkin lebih dari 5 kilo yang mati. Air kolam disupply dari sumur bor yang sengaja dibuat disamping kolam, besar katanya airnya, maklum disitu kan pohon-pohan masih rindang, jadi debit air nampaknya nggak masalah, terbukti dengan pembuatan kolam renang di rumah boss Mujaeroni yang airnya dari sumur bor.

Praktis, selama libur di Klaten aku nggak kemana-mana. Tangannya sakit nggak bisa digerakin. Ada sms dari pak Ari Hartanto Bintara juga yang diminta untuk mampir, aku nggak bisa penuhin, sementara istri memuaskan keinginannya pergi ke pasar Bringharjo dengan leluasa. Kayaknya kalau pergi ke Joga tanpa mampir di Bringharjo dia merasa tidak lengkap.... Siangnya hari minggu, Pakle Kardi dari Magelang datang bersama anak menantunya sekeluarga yang dari Palembang.

Wednesday, October 22, 2008

Mudik Lebaran

Hari ini, Selasa 30 September 2008 adalah hari terakhir bulan suci Ramadhan 1429 H. Setelah 29 hari berpuasa, mudah-mudahan ikhlas dan berserah diri, hari ini adalah hari terakhir kita bersama bulan yang sangat dinantikan ini. Sedih sih, ada perasaan itu terselip di dada. Rasanya koq sebentar sekali, tahu-tahu bulan yang dinantikan ini akan cepat berlalu. Masih bisakah aku ketemu dengan bulan ini tahun depan ? Ya ALLAH, mungkinkah aku dapat bertemu kembali dengan bulanMU yang suci ini, yang penuh dengan banjirnya pahala? Betapa tidak, ibadah sunat dibayar dengan pahala wajib, wajibnya sendiri dibayar dengan pahala berlipat-lipat....

Yang lebih menyesakkan hati lagi, justru di periode ke 3 terakhir, maksudnya 10 hari terakhir, rasanya ibadahku menurun! Duh....kenapa ya? Tahu sih, bahwa itu sedang menurun, kenapa tidak diperbaiki? Kayaknya syetan berhasil menguasaiku, rasa enggan kadang menyergap bila mau melakukan ibadah. Yang jelas, dalam 20 hari puasa (2 periode atau 2 masa), 2 x aku khatam Al Qur’an, rata-rata 1 hari dapat 3 juz. Dalam masa ke 3, aku hanya bisa menyelesaikan 6 juz! Konyol.... Ya ALLAH, ampuni aku....

Hari ini adalah hari keberangkatan mudik aku bersama keluarga. Agak istimewa mudik sekarang ini sebagaimana istimewa mudik beberapa tahun silam. Hari ini mudik pake mobil baru, Toyota Rush, jenis SUV ber cc kecil (tapi berbadan SUV biasa) dari Toyota. Baru 1 bulan lebih dipake. Penyerahan dari dealer Toyota pake tanggal yang unik, penyerahannya tanggal 08-08-08, unik kan ? Tahun 2004 lalu pake mobil baru Avanza, juga baru 1 bulan lebih dipakai. Tahun berikutnya tahun 2005 pake mobil baru lagi, Kijang Innova, lucunya lagi baru 1 bulan lebih juga dipakainya! Lumayan, performa Rush juga nggak mengecewakan, tenaganya cukup besar walau hanya 1500 cc, katanya engine-nya sama dengan engine Avance yang 1500 cc. Rush ini kita ambil yang manual, soalnya kalau mau yang matic kudu ngerogoh kantong 14 juta lagi. Larinya boleh juga, cuman body-nya saja yang agak enteng. Rush nya ambil warna hitam, sama seperti SUV yang satunya, jadi dua-duanya hitam. Konsumsi bahan bakarnya boleh dibilang lumayan irit, bisa 1 liter berbanding 12 km kalau keluar kota (tanpa macet). Jadi kalau ke Klaten yang berjarak 650 km hanya perlu 55 liter, itu sama dengan cukup 1 kali isi saja, full tank.

OK, rencananya kita ke Ciamis dulu sebelum kita ke Klaten. “Perabot” yang kubawa adalah Laptop berikut Wimode-nya. Ingin kujajal apakah Esia sampe di Ciamis atau Klaten sekalian sebagai teman dan cek email, siapa tahu ada yang penting untuk dilihat. Di Ciamis, seperti telah ditetapkan pertemuan keluarga setahun sebelumnya, adalah tempat kumpul keluarga besar MA Nawawie untuk lebaran 1429 H ini, dirumah Ua Een. Pertemuan akan diadakan pada hari kedua, artinya tanggal 2 Syawal 1429 H atau Kamis, 2 Oktober 2008. Setelah sebelumnya di confirm, Insya ALLAH semuanya akan dapat hadir pada pertemuan tersebut. Pertemuan ini, yang seterusnya akan diadakan, mengambil momentum Lebaran, disamping ber-halal bi halal juga dipakai untuk bersilaturrahim antara semua keluarga besar MA Nawawie.
Sejak meninggalnya Ibuku tercinta, kegiatan ini wajib rasanya dilakukan mengingat kita telah berpencar ke delapan penjuru angin. Bila ini tidak diadakan atau tidak dipaksakan, khawatir kita akan jadi jauh karena sulit untuk berkumpul secara utuh dalam satu waktu. Tempat pertemuan silaturrahim diadakan urut menurut silsilah keluarga, dari yang paling sulung turun ke bawah. Tahun lalu diadakan di rumah Ua Lilih di Pondok Gede.

Alhamdulillah, kayaknya mudik kali ketiga ini kita ambil waktu yang tepat. Maksudnya, mudik ketiga ini tidk dipertemukan dengan jengkelnya macet-macetan di jalan. Setelah nonton di TV bahwa macet jalan raya sejak hari H-5 yang cukup panjang, baik lewat utara maupun selatan, aku berfikir, apakah aku juga akan menemui hal yang sama ? Bayangkan, saking macetnya, Jakarta – Cirebon ditempuh dalam waktu 17 jam yang biasanya cukup dengan 4 jam! Belum lagi ke Ciamis, biasanya 3 sampai 4 jam, ditempuh dalam waktu 12 jam.

Kita berangkat berempat, aku, istri, Enca sama Ua Lilih. OQ nggak ikut karena alasan masih kerja. Ua ikut aku karena Ua Fe’i sama Ang Ade dan Teh Neneng akan berangkat pada hari H selepas shalat ‘Ied. Pagi-pagi sekali sudah didrop sama Ua Fe’i dan Ang Ade Heri ke rumah. Alhamdulillah, rupanya pilihan waktu mudik H-1 adalah waktu yang tepat. Sejak berangkat dari rumah, tidak nampak tanda-tanda heboh mudik lebaran. Begitu masuk toll firasatku mengatakan : sampai Ciamis jalan akan seperti ini, lancar. Ternyata betul! Berangkat jam 06:00 pagi, tapi sempet baik lagi karena waktu sampai di Metropolitan Mall, Enca bilang bahwa Charger HPnya ketinggalan. Praktis baru jam 06:30 kita berangkat, sampai di Ciamis jam 10.45. Yang seru Ua Fe’i, berangkat hari H, kirain mau kosong, wah nggak tahunya kayak H-3 atau H-2. Kusut! Sementara kita di jalan tidak menemui kendala, cuman di Tasik aja Ua Lilih rada takut gara-gara aku sedikit panas saat ada mobil Gran Max tanpa sopan nyelip didepan. Aku kejar dia, rupanya Ua Lilih sama istri khawatir, takut kecelakaan. Untung aku reda......

Sampai di Ciamis, ada beberapa spanduk yang memberitahukan bahwa pada H+1 Mamah Dedeh akan hadir dalam suatu kenduri di Masjid deket Ua Een dan Endang suami Euis jadi panitia disana. Lagi laris Mamah Dedeh.... Kerabat yang sudah datang duluan adalah Yati dan Emma adikku, mereka datang malam sebelumnya. Nikmat, bener nikmat kalau ketemu saudara kandung itu walaupun sebelumnya misalnya kita dihalangi dengan bermacet ria yang parah, namun begitu ketemu sama semuanya, rasa jengkel dan cape hilang seketika, entah kenapa. Kayaknya hubungan emosional yang berperan. Nikmat....
Rumah Ua Een sudah siap menampung kita semua, maklum disamping rumahnya yang besar juga ditambah dengan rumah ke 3 anaknya yang berhadap-hadapan, rumah Euis, Ai dan Asep yang ketiganya cukup besar juga. Rumah Euis jadi tempat kumpul para bujang-bujang sementara rumah Ai tempat kumpul para cewek-cewek yang masih imut. Bujang-bujang itu adalah anaknya Euis ada 2, Anak Ai 1, anakku 1, anak Nunung 2, belum Ang Herri yang kadang gabung disitu. Anak ceweknya adalah anak Euis 1, Ai 1, Asep 1 sama anak Emma 1.

Jadi soal penginapan tak jadi masalah, lain soal kalau giliran pertemuan di Bekasi, mau diapakan kerabat segitu banyak sementara rumahnya cuman seuplik? Mikirnya nanti aja deh masih 2 atau 3 tahun lagi. Enca yang biasa nempel terus ke ortunya sekali gabung ke bujang-bujang langsung kaclep nggak pernah nongol-nongol ke kita lagi. Paling-paling nongol hanya untuk tanya sesuatu saja. Sayangnya karena memang belum musim penghujan, soal kebutuhan air yang rada sedikit mengganggu. Kadang nggak ada air ! Tapi ada untungnya juga lebaran lebaran kali ini, karena masih belum musim hujan, jadi suasana bisa lebih ceria tanpa harus ngurung terus dirumah karena hujan dan becek. Terima kasih ya ALLAH.

Saat senggang, kucoba nyambung internet, tapi rupanya Esia nggak sampe ke Ciamis. Jadi untuk sementara, laptopnya nganggur, siapa tahu di Klaten bisa berfungsi.

Silaturrahim

Seperti diceritakan diatas, silaturrahim ini diadakan setelah ibuku tercinta wafat. Adalah sangat sulit untuk mengumpulkan semuanya dalam satu saat yang sama tanpa ada sosok pemersatu. Ibu sebagai sosok pemersatu telah tiada, siapa lagi tokoh yang akan menggantikan beliau ? Itulah sebabnya ajang silaturrahim ini (harus bin wajib) diadakan, setidaknya setahun sekali dengan mengambil tempat secara bergiliran sesuai urutan silsilah keluarga. Aku rindu sekali untuk berkumpul saudara kandung, nikmat. Cerita-cerita kehidupan sehari-hari, guyon sampai urusan serius terjadi disitu. Kalau sudah kumpul, apalagi saat ibu masih ada, suka lupa waktu. Tanpa sadar tempat kongkow berpindah, dari ruang tengah, depan sampai dapur kadang-kadang ceritanya nyambung tapi tanpa sadar tempatnya sudah bergeser! Lucu kan ? Saat-saat itulah yang paling sulit dicari padanannya. Betapa tidak, kita ketemunya juga setahun sekali, itupun kalau nggak ada halangan.

Lebaran kali ini tempat yang kebagian jadi tuan rumah adalah tempat Ua Een. Syukur, beberapa saat sebelumnya sawahku di Lakbok panen, jadi lumayan bisa disisihkan untuk makan kita rame-rame. Para cucu sudah saling rangkul, walaupun cucu Ua Een dari Euis dan Ai setiap hari ketemu, tapi tak urung saat lebaran ini (mungkin) lain, namanya lebaran. Ada suasana berbeda. Apalagi ditambah Maya anak Emma bergabung, rame deh.... Para cucu dan keponakan yang bujang-bujang bukan main banyaknya, mereka kumpul dirumah Euis sambil main PS2.

Ua Munir, tuan rumah, mengusulkan untuk pergi ke makam diundur saja bukan seusai shalat ‘Ied mengingat belum kumpul semua “warga”nya. Ua Fe’i dan Ua Euis, mereka akan datang sore harinya setelah ‘Ied di tempatnya masing-masing. Ua Euis di Dayeuhluhur dan Ua Fe’i di Jakarta. Saat malam takbiran, kita ngobrol rame-rame, aku, Yati, Ua Lilih, Ua Een, Ua Munir dan para anak dan mantu. Esoknya, “para pendatang” melaksanakan sholat ‘Ied di Kertasari sementara tuan rumah di Cintapalah. Sedih lihat rumah di Kertasari, kosong, sepi dan dingin. Kayak angkuh gitu, mungkin dia marah sama kita-kita karena kita nggak tidur disitu. Lagian kayak agak kusam lagi karena memang sudah setahun lebih tidak dihuni. Sebenernya ingin sekali aku beli rumah itu tapi nggak punya dana lebih. Kalau aku beli nantinya aku nggak punya duit lagi bakal buat usaha.

Tak banyak temen yang aku jumpai di Masjid, hanya satu dua. Kangen juga sih kalau ada.....Seusai sholat ‘Ied, sewaktu mau pulang, ternyata di depan rumah banyak orang. Siapa dan ada apa ? Hey, ternyata para Bibi dan sepupu yang sengaja menunggu kami untuk berlebaran! Ada Bi Enok Mukalam berikut anak, cucu dan menantu, Bi Neneng Desa juga demikian. Setelah berlebaran, saling memaafkan, kami bubar ke rumah masing-masing. Yang sedih, kita pulang ke Cintapalah, tidak stay di Kertasari. Ibu, maafkan kami....
Pulang sholat ‘Ied, seusai pada makan pagi, kita semua pergi ke makam Dhany, anak Ua Een/Ua Munir yang meninggal 16 tahun lalu karena kecelakaan lalu lintas. Dia anak yang aktif, pintar dan ganteng. Hobby-nya hiking.... Karena tempatnya deket, kami berangkat rame-rame jalan kaki. Rupanya disana ada lahan bekas Ua Munir melihara ayam negeri untuk diambil telornya.

Ada kejadian “kecelakaan” sedikit yang menimpa Ua Lilih. Setelah jalan agak jauh (setidaknya bagi Ua Lilih), rupanya cukup memakan energy juga, makanya saat naik tangga undak-undakan beton, kaki kanan si Ua kejeduk badan tangga yang pada ujungnya membuat kaki kanannya terkilir. Untungnya saat pulang belum begitu terasa sakitnya. Rasa sakit dan timbul bengkak muncul saat sore hari, jalan jadi susah, diseret-seret. Kasihan Ua. Malamnya, dipanggil tukang urut. Kebetulan, tukang urutnya sudah berpenglaman, sekali urut kayaknya si Ua mendingan, sakitnya berangsur hilang, tinggal bengkaknya saja.
Makan siang disuguhin ikan Gurame, rendang sapi, sayur pepaya, lontong atau ketupat yang masih tersisa. Karena rame banyak orang, nikmat sekali rasanya, kalau nggak takut cholesterol, mungkin segala dimakan deh...

Sorenya rombongan Ua Fe’i datang, katanya muacet banget di Nagreg. Total perjalanan makan waktu 8 jam. Anggota rombongan, Ua, Ade Herri, Enun, Ata dan Teh Neneng. Menjelang Maghrib Ua Euis datang dianter ponakannya, anak Onah. Suasana jadi rame karena Ua Euis, biasa, ngoceh terus ceritain ini dan itu. Tidur baru terjadi lewat jam 23.00. Tinggal Ua Cecep yang belum datang, katanya sih mau datang. Suasana tambah rame. Setelah dihubungi via telepon, katanya Ang Cecep nggak bisa ikut hadir, sakit katanya. Sayang, pertemuan silaturrahim ini tidak lengkap jadinya. Belakangan diketahui, dia lagi terbujur di tempat tidur karena sakit. Dia akhir-akhir ini mengeluh sering sakit, kayaknya sakit yang berhubungan dengan jantung. Kabar dia sakit didapat dari Ua Fe’i yang waktu pulang kembali ke Jakarta lewat Cikamurang, Ua sekeluarga sempat mampir ke Talaga.

Esoknya, pagi-pagi kita ke makam Apa dan Ibu tercinta, Ua Munir yang memimpin tahlil dan do’a di makam. Naik ke makam kita lewat jalan memutar karena jalan masuk yang biasa digembok. Kupikir sombong juga orang yang punya tanah makam ini, biasanya juga boleh tapi kali ini seolah olah dilarang keras. Padahal kalau diruntut dari silsilah, dia itu masih saudara sama ayahku. Ya sudahlah.... Selepas dari makam, kita berlebaran ke rumah Bi Neneng atau Nini Bageur di depan Kodim, anak-anaknya yang diluar kota belum ada yang datang, katanya besok, jadi kasihan saat lebaran masih sepi. Lanjut ke rumah Bi Enok di Mukalam, disini lain, semuanya sudah kumpul semuanya, termasuk yang di Medan. Yang tidak hadir hanya satu, anaknya yang tinggal di Australia, tapi ketidak hadirannya bisa diwakili oleh 2 anaknya yang sekolah di UGM dan ITB.

Sudah lama sekali tidak bermukim di tempat yang kiri kananya tumbuh pohonan yang bila bangun tidur terdengar gemericik air pancuran di kolam. Duh....
Tidur di Cintapalah membangkitkan kenangan itu, betapa sejuknya, betapa enaknya. Ada sih suara pancuran gemericik air di rumah Bekasi, tapi tidak menggantikan suara aslinya di kolam, bagaiamanapun itu suara alam yang asli, tak tergantikan... Belum lagi suara kokok ayam waktu membangunkan malam, embun pagi yang tebal, dan suasana yang hening menyambut pagi. Yang hilang dari masa lalu adalah hilangnya penjual kayu bakar yang dipikul subuh-subuh. Aku ingat, sebelum beduk subuh berbunyi, ibu sudah berdiri dipinggir jalan nyegat tukang kayu bakar, aku lupa berapa harga sepikul kayu bakar. Biasanya, selain tukang pikul kayu bakar, ada juga tukang penjual bambu, ada yang dipikul atau ada juga yang pake gerobak. Atau kadang-kadang tapi sangat jarang, tukang jual bilik / gedek. Cara jualnya kadang lucu, dia memikul gedek dengan cara dilengkukkan sehingga membentuk huruf U sementara dianya sendiri ada didalam lekukan tersebut sehingga bila berjalan pikulannya, tukang bilik tersebut tidak kelihatan. Bisa dibayangkan beratnya beban yang dibawa, tapi toh mereka tetap lakukan juga demi menghidupi anak istrinya. Berat banget ya ?

Subuh-subuh berangkat ke Masjid bareng Ua Munir, Ua Fe’i dan Ua Muhyiddin. Masjidnya deket rumah, jadi sebentar saja sampai. Seperti Masjid di Kertasari, sebelum masuk Masjid kita dihadang kolam yang sengaja dibuat, pinggirnya dibuat cetek hanya cukup sampai mata kaki sehingga bila kita masuk Masjid, dipastikan kaki kita telah basah oleh air kolam dan kaki kita telah bersih untuk menginjak lantai masjid.

Isi pertemuan silaturrahim

Setelah pulang dari makam dan berlebaran dengan Nini bageur dan Nini Enok, pertemuan silaturrahim dibuka sekitar jam 10.00 pagi. Jadi yang hadir pada pertemuan itu ada 7 keluarga :
1. Ua Fe’i sekeluarga. Yang ikut hanya Ade Heri dan Neneng saja. Nina, Iwan dan Agus tidak bisa ikut karena ada halangan. Iwan tidak bisa karena istrinya tugas terbang ke China, Nina karena suaminya piket di kantor kelurahan dan Agus karena Omanya menjadi sesepuh yang ada dalam clan-nya sehingga hari H harus stay di rumah.
2. Ceu Een, tentu saja semuanya hadir.
3. Ceu Euis datang beserta Kang Emuh. Nggak ada yang ikut, maklum jauh di Malang. Teteh lagi sekolah lagi di Jogja untuk S3-nya, Apip lagi bersiap mau ke States dan Elsa punya anak kecil, repot.
4. Aku datang hanya bertiga, aku, istri sama si kecil Enca. OQ nggak ikut karena waktu berangkat masih dinas dan rencananya hari Jum’at, 3 Syawal masuk kantor yang baru.
5. Yati datang berikut Yangyang dan Sansan. Lingling lebaran di Lampung, Fangfang lagi kumat penyakit kanak-kanaknya.
6. Yayah datang utuh seluruhnya
7. Nunung tidak ada wakil, Mang Dudin tugas di Pangandaran dan anak-anaknya merasa belum saatnya kumpul bareng para orang tua
8. Ema juga sekeluarga datang
Berhubung aku adalah anak laki-laki satu-satunya, Ua Fe’i minta aku yang buka pertemuan ini. Setelah do’a pembuka dibacakan, aku mereview atau lebih tepatnya membacakan hasil pertemuan sebelumnya di Jakarta di rumah Ua Fe’i. Namun karena tidak ada tertulisnya, aku berusaha mengingat-ingat isi apa saja yang telah dibicarakan waktu itu.

1. Soal penjualan rumah Kertasari

Sejak aku menundurkan diri dari kesediaan membeli rumah tersebut, harga jual telah ditetapkan nilainya. Jumlah tersebut adalah net, tidak disebutkan lagi potongan ini dan itu, pokoknya jumlah tersebut adalah jumlah net yang harus diterima.
Pernah sebelumnya, waktu itu kurang lebih bulan Agustus 2008 lalu ada tetangga di Ciamis yang datang ke rumah, katanya sih dia minat untuk membeli rumah tersebut. Datangnya saja rada ditutup tutupi, malah katanya jangan sampai kakakku yang di Pondok Gede tahu akan kedatangannya. Tujuannya cuman satu : nego!
Aku katakan sama dia, akan menjadi percuma jauh-jauh datang dari Ciamis untuk bernego sama aku, karena aku bukanlah penentu jual tidaknya rumah tersebut (mungkin sangkanya siapa tahu aku bisa diajak damai dengan harga yang dia tawarkan karena menurut dia akulah pemegang kunci penentu!) Aku katakan, rumah itu milik kami bersembilan dan kami sudah sepakat rumah akan dilepas dengan harga yang telah ditentukan. Datang ke siapapun akan mendapat jawaban yang sama karena ini adalah kesepakatan bersama. Tidak akan satu orang menyetejui untuk kemudia disampaikan ke saudaranya yang lain bahwa harga telah disetujui sekian tanpa berunding dulu sebelumnya.
Dalam pertemuan silaturrahim ini, disepakati bahwa harga jual tetap sekian tidak dirubah walaupun sebagian orang menilainya terlalu mahal. Tak soal, biar saja. Siapa tahu salah satu diantara kita ada yang mampu membelinya sehingga rumah tersebut tidak jatuh ke orang lain.

2. Soal anak Nunug yang sulung, Ari.

Bi Yayah dan Ua Een diserahi tugas untuk menanyakan ke Ari tentang status sekolah dia yang katanya sedang menyusun skripsi. Kita khawatir dia berbohong, padahal dia sudah drop out tapi dia ngaku belum. Kejelasan yang diharapkan dari Yayah dan Ua Een tentang dia diharapkan kita dapat tahu apa yang seharusnya kita buat untuk dia. Kasihan, setelah ibunya tiada, anak-anak ini dua-duanya seperti anak ayam yang kehilangan induk. Bila ditanya, dia selalu menghindar, jadinya kita tambah yakin bahwa dia menyembunyikan sesuatu dari kita, sementara ayahnya agak acuh ke mereka. Katanya sih, anak-anak itu kalau diajak bicara belum apa-apa sudah pada sewot. Mungkin sewotnya anak-anak itu karena ayahnya pacaran sama cewek yang mereka tidak setuju. Saat ini Ari jadi luntang lantung saja dirumah, tanpa ada kegiatan lain, kasihan. Jangan sampai, ibunya tiada, anaknya terlantar. Beruntung adiknya masih semangat untuk sekolah yang saat ini menjadi mahasiswa baru di Unsud Purwokerto.

3. Soal next silaturrahim.

Bubar pertemuan, Boss Endang, suami Euis buka panggung Karaoke di depan rumahnya. Saat kami pertemuan, musik sudah mengalun dari organ Yamahanya, kirain itu Endang sendiri, nggak tahunya Ade Heri yang mainin. Eh bisa juga dia ya.....
Mulai deh berturut turut nyanyi. Kebetulan siang itu barus selesai acara tampilnya Mamah Dedeh di dekat Masjid besar deket rumah. Mamah Dedeh manggung di tempat ponakannya yang nyunatin. Lagi laris tuh Mamah Dedeh, dia tampil dimana-mana.
Setiap orang suruh nyanyi, akupun disuruhnya, tapi karena nggak ada text-nya aku urung untuk ikutan nyanyi. Akhirnya yang nyanyi dia sendiri diiringi pemusik Ang Ade Heri, paling-paling selingannya Eneng yang nyanyi. Kita nggak tahu deh, tetangga keberisikan apa nggak mengingat soundnya kayak orang lagi hajatan, kenceng banget.
Silaturrahmi berikutnya di rumah Ang Cecep seharusnya, tapi karena dia nggak hadir, diusulkan untuk diadakan di Malang. Kita charter nanti bus yang cukup untuk mengangkut sekitar 30 – 40 orang. Berangkat dari Jakarta lewat Ciamis supaya yang Ciamis dapat diangkut sekalian. Kelihatannya akan sangat menarik.......... Belakangan baru diketahui bahwa Ang Cecep bener-bener sakit. Waktu ditengok Ua Fe’i, dia lagi terbairing di tempat tidur, katanya sakit ini disebabkan oleh dicabutnya gigi ?

Sore-sore, hampir semuanya kita pergi ke rumah Yayah di Werasari, daerah ini terdapat di ketinggian, karenanya daerah ini cukup sejuk setiap harinya. Pergi kesini dari Ciamis mendaki terus, berkelok-kelok dan jalannya kecil sehingga kalau berpapasan dengan kendaraan lain kadang-kadang perlu stop dulu salah satunya untuk memberi jalan. Karena letaknya dikaki gunung, air bukan masalah disini, uniknya, air PDAM melimpah nggak tanggung-tanggung, bahkan terbuang-buang! Seberapa borospun pemakaian air, bayarnya sebulan cuman Rp. 15,000.00! Mana bening, sejuk. Kabarnya sih itu air langsung dari mata air di gunung. Dulu sebelum dibentuk PDAM, air dialirkan melaui slang plastik dan....... tak pernah ada kran untuk stop, jadi ngalir terus, tumpah-tumpah. Saking sejuknya, istriku bilang katanya dia merasa rugi kalau berkunjung ke rumah Yayah tanpa mandi! Enak sih.... Usai maghrib, kita dijamu makan sama ikan gurame, peyek kacang dan lainnya. Kita duduk sembarang saja, ada yang diluar, di teras, ditengah rumah, wah pokoknya nyebar. Dan ternyata disitu enaknya. Makan rame-rame dan suasana lebaran setelah seharian merasa capek, makan malam begini jadi nikmat banget....

Cucu Bi Yayah dari Asep udah berumur 8 bulan, udah bisa bercanda. Main sama Ata anak Ang Ade ajrut-ajrutan sampai terpingkal-pingkal, kita khawatir setelah kita bubar dia akan sakit karena kecapean ketawa. Rumah Bi Yayah ini bentuknya memanjang karena letak tanahnya yang memanjang. Jadi rumah Bi Yayah ini hampir seluruhnya menghadap ke “jalan”. Kebetulan pula letaknya di jalan buntu, jadi tidak terganggu lalu lintas kalau toh kita duduk diluar rumah, sementara depannya rumah kaknya Mang Rahman, suami Bi Yayah. Sejuk, dingin dan hening disini, maklum tempatnya agak didalam. Tapi tinggal disini kayaknya tenang sampai-sampi istri bilang : “Pah, kita beli rumah disini, enak kayaknya, tenang” katanya. Sehabis makan malam yang nikmat, kita bubar pulang ke Cintapalah.
Bersambung.........

Tuesday, June 10, 2008

Al Ittihad, Tebet....

Sejuk, syahdu, hening, aman, tentram. Itulah yang dirasakan saat sholat Jum’at 6/6/08 yang lalu di Masjid AL Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan.

Kenapa ya? Padahal sudah sekian banyak masjid yang disambangi untuk sholat Jum’at tapi masjid ini begitu syahdu? Jujur, bener-bener nggak tahu kenapa......

Mauk masjid sekitar jam 11:15 siang itu, parkiran masih sepi karena memang biasanya di Jakarta ini kalau makmum sholat jum’at baru terisi penuh saat Azan sudah dikumandangkan. Sibuk di kantor kali.

Ruang yang dipakai untuk sholat adalah dibawah dan atas. Dibawah adalah ruangan serbaguna, bisa dipakai untuk resepsi, seminar dan atau lainnya. Lantai atas ini cukup luas, angin cukup masuk sepoi-sepoi menerpa badan, sejuk. Lantai dilapisi karpet warna hijau lembut, rapi dan bersih. Sound system diisi dengan lantuan ayat-ayat suci Al Qur’an surat Yaasin – Al Waqiah dan Ar Rahman berulang-ulang.

Saat mau duduk, saking kosongnya, bisa pilih tempat dimana mau duduk. Aku duduk tiga saf didepan mimbar. Tapi karena aku lagi sakit kaki kiri yang tidak sempurna kalau duduk tahiyyat awal, akhirnya pindah ke sisi kiri masjid agar bisa paling kiri sehingga kaki kiri nggak bisa bersinggungan dengan kaki orang.

Setelah sholat wudhu dan lanjut dengan tahiyyat masjid, disitulah aku tiba-tiba dihinggapi perasaan tadi : Sejuk, syahdu, hening, aman, tentram......... Kayaknya masjid ini sangat sering dipakai untuk pengajian dan atau lainnya sehingga karenanya dia menyimpai banyak sekali energi positif yang menyebar ke sekeliling ruangan masjid. Sambil dzikir, asli aku menangis, kalau tida ditanan mungkin keluar suara. Air mata terus bercucuran, ingus terus turun. Nikmat..........

Ya ALLAH, apakah ini rasanya bila dekat denganMU? Padahal baru sedikit, lebih kecil dari inti atom, tapi koq rasanya nikmat sekali ? Berilah aku rahmatMU ya ALLAH, sinarilah aku dengan NurMU, berkahilah aku dan keluarga dan golongkanlah aku dan keluarga kedalam golongan orang-orang yang Engkau rhidoi!

Amin.....

Thursday, June 05, 2008

Global Amnesia

Amnesia.

Apa itu Amnesia ? Lupa ingatan ya? Orang gila?

Minggu terakhir April 2008 lalu tanpa diduga kena serangan global amnesia..... Mudah-mudahan sih bukan katagori orang gila ya?

Hari itu, Kamis 24 April 2008, katanya (he..he. katanya, karena memang nggak tahu!) aku sakit dan harus dibawa ke RS, hari itu juga, karena kalau terl;ambat bisa serius. Jadi tidak boleh tidak! Cukup mengkhawatirkan, katanya.....

Sebenernya “masa lupa” itu dari seitar jam 13:00 sampai jam 22:00 barangkali karena dicoba di-ingat-ingat sampai sekarang masa-masa itu, jam-jam itu tidak ada di memori. BLANK!

Masih inget pagi itu, seperti biasa Subuh ke Masjid, pulang Subuh biasa ngaji Qur’an surat Al Waqi’ah, Al Mulk dan melanjutkan baca tiap Juz, biasanya satu juz. Nah setelah itu mulai agak remang-remang sampai pada sekitar (katanya jam 13:00) karena mulai berperilaku agak aneh. Aneh disini adalah keluar pertanyaan itu-itu saja ditanya berulang kali. Baru selesai dijawab sudah nanya lagi hal yang sama. Pertanyaannya : “ Pin, coba tolong ceritain apa saja yang saya lakukan dari pagi sampai sekarang?”. Pipin (pembantu di rumah) sampai nggak tega dan sedih (dan mungkin bosan) jawabnya, karena jawaban tersebut kayaknya nggak masuk di memorynya saya. Pertanyaan itu di-ulang-ulang setidaknya sampai istri pulang dari kantor sekitar jam 16:00. Saking bingungnya si Pipin kudu ngapain, dia akhirnya telepon istri di kantor :

“Bu, bapak kepana ?”

“Lho, kenapa ?”

“Bapak agak aneh hari ini”

“Aneh gimana?”

“Iya, Bapak nanya saya berulang-ulang dengan pertanyaan yang sama. Coba deh ibu bicara langsung dengan Bapak”

Telepon berlaih ke saya, anehnya komunikasi nyambung. Dalam awal pembicaraan katanya saya bilang begini : nggak tahu Mah, saya koq lupa semuanya. Blank. Sekarang hari apa, bulan apa, tahun berapa ? – artinya ada pembicaraan yang nyambung gitu, tanya A dijawab A dst. Malah istri menghubungi temannya yang dokter dan kita conference call bertiga, katanya aku nyahut : oh gitu ya.... heeh... Kayak orang lagi “bener” gitu. Padahal sedetik kemudian kalau ditanya tadi siapa yang telepon, jawabannya adalah: nggak ada yang telepon, siapa ? Nah lho.....

Saat istri datang, katanya dua pembantu saya itu lagi tangis-tangisan lihatin saya kayak orang kebingungan.

Yang bikin istri agak khawatir adalah saat ada telepon dari temen atau partner usaha, dia bilang uangnya sudah diterima jadi bisnisnya tinggal run.

Gagang telepon diambil istri, dia langsung telepon baik dengan redial (karena dia telpon ke HP). Ditanya sama istri : “Pak, tadi bicara apa sama suami saya ? Dijawab : “Nggak bu, saya cuman ngasih tahu bahwa dana yang ditransfer bapak sudah masuk.” Kata istri: “Begini Pak, bapak tolong telepon balik ke dia pasti dia nggak ingat apa yang dibicarakan tadi. Suami saya lagi blank”

“Masa sih Bu?” katanya.

Waktu dia telpon balik, ternyata katanya saya bilang “Transfer? Transfer apaan ?” Belakangan saya ingat (setelah saya pulih tentunya), paginya saya kirim bukti transfer ke dia! Dia jadi bingung, waduh gimana nih ? Lebih gawat lagi kata temen itu karena istri saya minta uang itu dibalikin lagi! Sementara uang tersebut telah dipake....

Ada banyak telapon yang masuk dan hebatnya saya bisa ngobrol (katanya) sambil tertawa-tawa, tapi begitu di-redial istri dengan penjelasan saya lagi blank, mereka kaget. Ternyata memang begitu keadaanya.

Sebetulnya keadaan blank tersebut bolah dikatakan on-off, soalnya ada beberapa kejadian atau scene lah yang sempat terekam di otak. Misalnya, istri saya pulang lebih cepat karena urusan saya, saya tidak tahu, itu artinya lagi off. Anehnya, saat parkir mobil di rumah sakit, karena lahan yang sempit, saya ambil alih dari istri dan saya yang parkir !

Kemudian saat antri ambil nomor periksa dokter, itu ingat tapi off lagi. Ingat lagi saat dibawa ke ruang Poli darurat, dibaringkan di brankar. Minta sholat Magrib di musholla saja tidak diruang itu. Itu ingat. Terus didorong lagi ke ruang dokter praktek, nah ini mulai abu-abu. Di ruang praktek katanya saya banyak bicara, ngobrol sama dokter, tanya jawab. OK punya gitu, tapi....... saya pikir-pikir sekarang saya merasa tidak pernah ngobrol dengan dokter saat itu!! Bingung kan? Antri ambil obat di Apotik, ingat.

Sebetulnya ada beberapa atau bahkan banyak kejadian, perilaku, omongan yang saya lakukan tapi dengan keras saya coba ingat-ingat, hasilnya nihil. Tak satupun rupanya terekam di otak. Belakangan istri bilang bahwa saat saya masuk, tensi darah 193 – 123 ! Tinggi sekali. Karena apa ? Waktu malamnya sahur, saya makan rendang barang 3 potong dan sesudahnya menggado empal! Memang sebelumnya tekanan darah agak tinggi kurang lebih sejak 2004.

Habis periksa, sebetulnya dokter menganjurkan untuk dirawat, tapi saat itu (katanya) aku bilang :”nggak usah dok, besok juga sembuh!”

Pulanglah kit dengan masih sempetnya saya setirin mobil pulang! Itu namanya lago on. Begitu sampai dirumah, aku off lagi. Ya ALLAH.....

Untung bukan dijalan saat aku bawa mobil, kalau dijalan,apa yang akan terjadi ?

Sampai dirumah, kakak dan adikku sudah dirumah dari Pondok Gede dan Cilangkap. Ada dialog lagio disitu katanya, lagi-lagi aku nggak tahu......

Waktu mau dibawa ke RS (dengan susah payah membujuknya, katanya) aku disuruh sholat dulu. Kata istri, OK wudlunya, OK sholatnya, pake berdoa panjang lagi katanya.

Nah saat balik ke RS untuk opname, anakku yang kecil ikut satu mobil, kembali disitu (katanya) aku minta diceritain lagi apa saja yang telah aku lakukan dari pagi sampai sekarang!. Kata Reza : “Cape deh.....”

Baru setelah jam 22:00 malam, rasanya pikiran (atau otak lah) mulai pulih. Kumpul gitu.....

Hari Jum’at besoknya dilakukan MRI (itu kayak Head CT Scan tapi katanya ini lebih teliti), hasilnya ternyata seperti ada sumbatan di otak. Menurut pendapat saya sumbatan itu akibat adanya cairan yang berasal dari rongga hidung, atau lebih tepatnya sinusitis. Kenapa aku sinusitis? Karena rupanya akar gigi yang sudah tinggal akar itu sudah bercokol lama banget dan saya tidak cabut (karena malas)! Nah, kepada siapa yang punya gigi yang sudah patah, cabutlah akar giginya sesegera mungkin sebelum malapetaka terjadi!

Berangsur-angsur kondisi membaik dan setelah 5 hari nginap di RS aku boleh pulang. Tapi......

Sebelum pulang sempet makan anggur banyak sekali dan hasilnya, sebelum pulang malamnya nggak bisa tidur! Kepana ? Tersiksa sakitnya kaki karena Asam Urat!! Rupanya makan anggur bikin asam urat naik. Pingin nangis rasanya malam menjelang pulang itu, sakit sekali, gerak sedikit saja sakitnya na’udzu billah! Mana pingin pipis melulu lagi harus mondar mandir ke kamar mandi...

Alhamdulillah, dengan kasih sayang ALLAH sekarang saya sudah sehat dan beraktivitas lagi.

Terima kasih ya ALLAH....

Tuesday, January 01, 2008

Met taon baru....

Selamat pagi,

"SELAMAT TAON BARU / WILUJENG TAUN ENGGAL / HAPPY NEW YEAR 2008"

Semoga ALLAH meridhoi kita, Amin...

Saturday, December 29, 2007

Assalamu’alaikum,


Apa kabar?

Setelah sekitar 5 boelan, baru hari ini bisa update blog lagi. Kangen juga...

Banyak peristiwa yang telah terjadi selama itu, maklum 5 boelan.

1. Mulai dari pengajuan pengunduran diri dari kantor di awal September 2007 untuk mundur awal Oktober 2007. Awalnya pengunduran diri itu kurang lebih karena :

a. Memang sudah jenuh

b. Memang sudah hampir waktunya, kurang lebih 1 tahun lagi retire

c. Memang sudah mulai rada “malas” kerja setelah menerima surat pemberitahuanh bahwa 1 tahun lagi anda pensiun

d. Memang sudah ingin belajar usaha untuk melanjutkan “kehidupan” setelah pensiun

e. Memang sekarang saatnya untuk mulai, dan mungkin...

f. Memang ALLAH telah menentukan rizki saya dari tempat lain lagi.

2. Setelah dirumah, mencoba membuka usaha toko kecil jualan baju muslim di Mall Ambassador di daerah Karet Kuningan Jakarta. Seru juga, masalahnya nggak punya pengalaman sama sekali bisnis beginian, kan kata orang bilang bisnis itu harus ada bakat. Untungnya tetangga tidurku hobby jualan, biasanya suka bawa ke kantor macam-macam barang – dari mulai yang kecil-kecil sampai yang rada mahal, jadi tersalurkan. Alhamdulillah, dengan merangkak sedikit demi sedikit (gerainya sudah berjalan hampir 3 bulan) ada peningkatan dari bulan ke bulan. Sudah banyak pelanggan setia yang setiap saat datang belanja atau pesan untuk dicarikan. Terima kasih ya ALLAH ...

3. Jadi tahu tempat-tempat jualan dalam partai besar untuk dijual lagi di toko kecilku. Asyik..kalau belanja berdua sama tetangga tidurku itu, dia yang belanja dan tugasku adalah membayar. Kalau berangkat kesitu? Pagi, kadang jam 05:30 pagi sudah jalan, enak – jalanannya masih sepi...

4. Dengan usaha kecil-kecilan ini ternyata dapat teman banyak, dari mulai produsen sampai sesama agent atau retailer. Rencananya akan ada pertemuan para retailer nanti akhir bulan depan.

5. Awal Desember ini, tahu-tahu kena serangan vertigo. Masya ALLAH, ternyata yang namanya vertigo itu sakitnya bukan main. Kepala rasanya muter nggak keruan. Kalau lagi kumat, rasanya badan ini dipelintir 180 derajat, tangan pegangan kuat menjaga takut terlempar – padahal sih disitu-situ saja nggak kemana-mana, enek mau muntah terus. Pernah lagi sholat dhuhur, lagi mau sujud tahu-tahu gedebuk jatuh karena kepala rasanya muter banget. Rasanya seperti nyemplung ke pusaran air kencang dan ikut diputer barengan air tersebut. Tangan rasanya mencari-cari pegangan takut ikut pusaran. Dada enek mau muntah-muntah. Astagfirullah, ya ALLAH jangan sampai aku diberi cobaan seperti itu lagi....

6. 3 hari yang lalu, datang lagi cobaan. Lutut kiri tahu-tahu sakit. Mula-mula nggak bisa diluruskan, berikutnya nggak bisa juga dibengkokkan. Masya ALLAH.... Rasanya? Hm.... sakitnya buan main. Nggak bisa sholat tuma’ninah karena kaki kiri nggak bisa diapa-apain. Jadinya sholat juga sambil duduk dengan kaki kiri slonjor kedepan. Periksa ke dokter di Rumah Sakit Mitra, katanya ada tulang penyangga tempurung lututnya yang pecah. Pecah? Kenapa dok, padahal saya tidak habis macam-macam, maksudnya exercise yang berat gitu? Bisa saja kata dokternya. Bisa sembung pecahnya nggak dok? Dokternya geleng.... Maksudnya nggak bisa seperti sediakala katanya tapi mungkin bisa pulih dalam arti nggak sakit lagi cuman setelah itu harus hati-hati. Hari-hari ini sedang berobat jalan, masih berlangsung, fisioterapi.

OK, selamat tahun baru ya, semoga kita tambah umur tambah wise, tambah deket sama yang membuat kita sehingga bila tiba saatnya nanti kita tidak menyesal telah menyia-nyiakan waktu....

Saturday, August 04, 2007

Hayang Sehat

Poe-poe ieu, geus aya kana 22 an poe, kuring keur nyoba dahar “Melilea”, eta cenah daharan organic anu sama sakali henteu kacampuran zat kimia (misalna anti hama, penyu bur atau liana), pokona mah bersih bae tina ha-hal kawas kitu.

Ari daharnya wungkul bae kawas kieu:

. minggu ka hiji : Melilea jeung buah-buahan
. minggu kadua : Melilea, buah-buahan jeung lamun hayang, dahar saparo
. minggu katilu : sarua kawas minggu kadua
. minggu ka opat : sarua kawas minggu kadua

Caritana ayeuna kuring the aya di minggu kaopat. Alhamdulillah kuat geuning awak teh ngan ukur ngadahar Melilea jeung buah-buahan wungkul, da sama sakali kana sangu mah luput! Da ayeuna kana sangu teh mani poho, tara aya cual coel. Hasilna, ayeuna berat badan molorot mani begang deui (keur mah geus begang nya), calana teh pada ngolomprot kudu di ganjel. Aya meureun kana 2 atawa 3 kilo turun, tapi enak di awak. Basa acan melilea mah rek make kaos kaki oge mani hese unggah enggeh, eungap!

Nuntaskeun kana minggu kaopat, sigana masih keneh kuat, Insya ALLAH. Keun bae, pokona mah sehat da cenah mah sakalian detox eusi beuteung…

Cag……

Friday, June 29, 2007

Selamat Jalan Mang ujang

Handay…., kukumbu……shach mat……warkanu langkung langkeng, warhanu hiban-hiban, ilimdoho kalinuli….

Mang Ujang, sosok yang sangat teguh pegang prinsip. Beliau tidak peduli dengan akibatnya bila prinsipnya berbeda dengan yang lain, ini prinsip saya dan saya tidak ambil peduli dengan akibat atas perbedaan prinsip tersebut, apakah akan baik atau malah akan merugikan saya. Teguh.

Adik ibuku yang satu ini, yang aku kenal memang agak sedikit sunyi, maksudku nggak rame kayak Mang Cengceng dulu. Cenderung pendiam dan gemar membaca.

Aku ingat waktu dulu masih SD, orang satu-satunya yang punya gelar BA (mungkin Bachelor of Art – setingkat SM kali) di kampungku adalah beliau. Sebagai keponakannya, tentu saja aku bangga. Jaman dulu sarjana itu langka, sangat sedikit. Mangkanya aku bangga sekali akan beliau.

Perjalanan kair beliau yang panjang, yang umumnya punya kedudukan, tidak dengan sendirinya beliau menjadi sombong. Direktur SPG, anggota DPR/MPRS, pejabat Depdikbud tingkat Jawa Barat dan ketua DPRD Kab. Ciamis pernah dilaluinya. Tapi nampaknya saat beliau jadi ketua DPRD Ciamis kurang sreg, masalahnya mungkin scope cakupannya jauh berbeda dengan MPRS yang skalanya nasional, belum lagi dengan intrik dan segala sesuatunya yang jauh dari karakter beliau. Cuman satu periode dilakoninya dan emoh untuk pegang yang selanjutnya.

Waktu kecil dulu, aku inget ada orang yang meremehkan beliau, katanya gak mungkin Maman Achdiat jadi Direktur SPG (orang yang meremehkan itu adalah murid SPG), begitu kenyataannya memang begitu, dia malu sendiri dan berusaha mendekatkan dirinya. Nggak kena yang begituan sih buat Mang Ujang.

Satu hal yang inuk dari seorang Mang Ujang, dia gemar sekali main catur. Asal ketemu, pasti disodorin papan catur, dan itu kita kudu mau……Pulang sekolah cape-cape (maklum dulu sekolah itu jalan kaki 2 x 4 km setiap hari), diajakin catur. Waduh gilu leh…

Saat aku nganggur dulu selepas SMEA, aku sempat diminta Mang Ujang untuk jadi “Pengusaha”. Mang Ujang jualan pupuk urea, STP dan lain-lain yang sehubungan dengan tanaman padi. Lokasinya di rumah haji apa gitu yang disewa. Tapi lantaran ilmu usaha itu gak ada waktu itu, ya bubar… kasihan Mang Ujang, soalnya mungkin rugi…

Kalimat-kalimat pembuka diatas itulah ciri khasnya beliau. Kalau ketemu suka nanya :”sareng naon tuang ayeuna, kukumbu ? Wah, handay…..” katanya. Itu sering berulang sehingga kita cuman mesem aja kalau ada pertanyaan itu. Kukumbu itu, sayur kacang merah yang dibuat agak kental. Sedangkan kalimat warkanu langkung langkeng dst, itu kalimat turunan dari aki Akhmad Huzaemi. Gak tahu apa artinya….

Hari Minggu sore waktu itu, Pondok Gede yang kasih kabar kalau Mang Ujang telah tiada, kaget banget aku mendengarnya. Memang aku tahu, Mang Ujang itu, namanya sudah sepuh, ada saja yang dirasakan. Yang aku tahu, beliau itu punya keluhan, kadar gula nya yang tinggi. Dari hari ke hari, itu yang dikeluhkan – sama dengan keluhan ibuku tercinta. Tapi, keluhan itu boleh dikatakan tidak terlalu “digubris” sama beliau. Pantangan makanan dan lainnya untuk penderita diabet, ditabrak terus. Ingin menikmati hidup kayaknya, gak mau dikekang oleh pantangan dokter

Minggu malam, langsung berangkat ke Ciamis bareng ua Isa Pondok Gede. Ua Lilih gak ikut, dia lagi dirawat di rumah sakit Haji Pondok Gede, katanya kena penyakit Steven Johnson, aku baru dengar seumur hidup ada penyakit namanya itu. Katanya sih kekebalan tubuh yang mendadak turun drastis.

Berangkat berempat, aku, ua Isa, Yati, yangyang anaknya yati dan Asep Ua Een. Sampe di Ciamis jam 02:00 dinihari. Jenazah sudah didalam kurung batang dan sudah rapi, sudah selesai disholatkan pula. Amang, hapunten saya ya Mang, Amang orangnya baik, ngak macam-macam, teguh pendirian dan banyak melakukan hal-hal bermanfaat bagi lingkungan. Maafkan saya Mang………. Insya ALLAH, amang khusnul khotimah, apalagi amang meninggalnya mudah sekali, sudah suci lagi karena sebelumnya mandi, wudhu karena mau sholat. Sholatnya gak jadi karena keburu meninggal. Amang, selamat jalan, mugia ALLAH menempatkan amang disisiNYA dengan baik dan memasukkan amang ke SyurgaNYA. Amin…..