Bismillaahir Rahmaanir rahiim,
Kita peduli ?
Kita peduli?
Kasus yang masih hangat diakhir tahun adalah…video porno yang terhormat anggota DPR dari Golkar yang katanya hampir menjadi Menteri Agama! Na’udzubillah…
Tapi ?
Kita peduli?
Amin….
bakal numpahin isi hati, seneng-sendu-sedih-catatan harian dan bila perlu sebagai sarana untuk diskusi dan komunikasi sama yang lain, blogger ato siapapun
Bismillaahir Rahmaanir rahiim,
Kita peduli ?
Kita peduli?
Kasus yang masih hangat diakhir tahun adalah…video porno yang terhormat anggota DPR dari Golkar yang katanya hampir menjadi Menteri Agama! Na’udzubillah…
Tapi ?
Kita peduli?
Amin….
Kemarin sore 17/12/06 aku bersama istri tercinta datang menemui Ua Een Ciamis yang akan berangkat ke Baitullah bareng bersama putri tercintanya Euis Dini. Aku bertemu mereka di Asrama Haji Bekasi (karena mereka jamaah asal Jawa Barat). Rombongan dari Ciamis datang sekitar jam 17.30 ke Asrama Haji Bekasi, aku sudah menunggu bareng Ua Lilih, Ua Fei dan Ade Herry dari jam 17.00
Sebagaimana biasa, begitu rombongan masuk (11 Bus), kita agak sulit untuk menemui (aku tidak sempat pergi ke Ciamis sewaktu acara walimatusy syafar karena acara itu dilaksanakan pada hari kerja, Selasa 12/12/07). Untung sang menantu Ua Een, Endang, adalah petugas Jamaah Haji di Ciamis, jadi kita dapat kemudahan untuk menemui mereka barang sebentar.Menurut rencana, sore ini terbang ke Mekah.
Assalaamu’alaikum,
Hari ini pulang kantor aku menerima pelajaran yang sangat berharga dan “terima kasih ya ALLAH atas pertolonganMU”
Jum’at 25 Agustus 2006 aku pulang kantor seperti biasa. Kali ini jam 17.00 sudah pulang. Setelah mampir sebentar lihat lomba karaoke di ruang rapat besar, sebagaimana biasa aku mendatangi tempat parkir kendaraanku jauh diujung pelataran parkir, kurang lebih 150 meter dari lobby kantor. Setelah memanaskan mobil sekitar 1 menit, aku mulai bergerak keluar untuk pulang. Antara menyadarinya atau tidak, aku merasa bahwa mobil ini agak berat sedikit, tapi aku jalan terus (jalan pelan sekitar 10 – 20 km per jam, biasa bubar kantor jalannya penuh)
Setelah berjalan kurang lebih 2 km, maih dalam antrian, kulihat ada motor, perempuan yang duduk dibelakang dan laki-laki yang duduk didepannya terus-terusan ngelihatin sesuatu di mobilku sambil menunjuk-nunjuk. Aku jadi heran ada apa gerangan, apa mobilku bumper belakangnya mau copot? Dalam keherananku, aku meminggirkan kendaraanku, berharap si motor itu berlalu di sebelah kananku. Sambil kubuka jendela, dia lewat disebelah kananku, dia berkata:”Ban-nya kempes!” katanya. Astagfirullah, aku turun. Masya ALLAH, ban belakang kiri mobilku kempes pes total, nggak ada anginnya sedikitpun. Wah bagaimana ini, rumahku masih jauh sekitar 30 km? Setelah berfikir, aku ingat di mobilku ada pompa listrik yang disambungkan ke lighter di dalam. Aku buka bagasi, kuambil pompa anginnya dan aku pompa itu ban. Tanpa sengaja, yang membuat banku kempes ternyata “ranjau” (orang-orang bilang demikian). Ranjau itu adalah semacam paku yang dibolongin tengahnya, jadi walaupun bannya tubeless, ban akan langsung kempes tanpa lama-lama! Itu biasanya kerjaan tukang tambal ban pinggir jalan yang sengaja menyebar paku tersebut supaya mobil mobil pada kempes. Walhasil, ban itu tak jadi aku pompa, percuma. Terpaksa aku berjalan pelan sambil berharap tak jauh dari situ ada tambal ban. Aku jadi berfikir, dari rumah waktu berangkat pagi tadi bagaimana, sudah kempes begini atau tidak?
Kurang lebih 1 km, aku behenti di tempat tambal ban (untung ketahuannya masih di jalan raya, bagaimana kalau di jalan toll? Ruwet!)
Rencananya aku pingin tuker aja sama ban serepnya, tapi nggak jadi berhubung ngeluarin ban serepnya nggak tahu caranya dan nggak ada alatnya (tahunya cuman ngegelindingin aja….)
“Di tambal aja bang” kataku. Si abang tukang tambal ban ini, belakangan kutahu namanya Manalu (keturunan Tapanuli), langsung membuka roda yang bocor untuk ditambal. Setelah hampir selesai, aku cari dompetku untuk menyiapkan pembayaran. Astagfirullah, rupanya aku nggak bawa dompet! Kucari ubek-ubekan di kantong laptopku, nggak ada, dicari dimana-mana nggak ada. Aku mulai gugup. Betapa tidak? Bagaimana aku harus membayar? Dompet, ATM, Kartu kredit tak satupunh yang aku bawa, bagaimana ini? Panik!
Aku hubungi istri, dia juga nyerah. Aku hubungi juga anakbuahku barangkali ada yang bisa nolong, rumahnya pada jauh. Astagfirullah, aku bakal menanggung malu? Setelah diketrukin (ceuk sunda mah diketrukkeun) duit yang ada di kantong cuman ada Rp. 13,000.00 itupun yang seribu terdiri dari uang logam dua biji masing-masing 500 san.Mau ngomong ama si abang tukang tambal ban, dia lagi ngerjain deket sama orang-orang, malu mau ngomong. Wah bagaimana ini? Akhirnya aku “nekad” ngomong sama dia :
” Bang, nambal ban ini berapa sih biayanya?” tanyaku.
”Lima belas ribu” katanya.
Peng aja kepalaku puyeng…. Aku nggak bisa bayar! Mau terus terang belum berani.
Mau nggak mau, tambal ban akan selesai dan aku harus bayar!
Bismillaah,
“Bang terus terang, aku lagi nggak bawa dompet, boleh nggak aku bayar sebagian dulu?” tanyaku harap cemas. Aku lihat roman mukanya berubah cemberut.
“Maaf deh bang, beneran aku nggak bawa dompet”
Dia diam. Wah gawat nih…
“Boleh bang?”
Dengan pertolongan ALLAH, walaupun dengan sulit dia berkata :”Iya, boleh deh”
“Ah, terima kasih bang, besok aku bayar dilebihin. Maaf ya bang” kataku.
Si abang diem aja. Aku jadi nggak enak hati.
Begitu selesai, aku kasih dia Rp. 10,000.00, yang tiga ribu aku tahan karena aku harus pulang lewat jalan toll dimana toll fee nya Rp. 3,000.00. Aku lihat dia berikan uangnya sama istrinya sambil menegok kearahku yang sdh di mobil siap untuk pulang, sang istri aku lihat ketawa. “Terima kasih ya ALLAH yang telah membukakan hati si abang tambal ban sehingga dia mau kubayar sebagian. Tanpa menoleh lagi aku buru-buru pergi. Malu……….
Note: Aku nggak bawa tas yang dompetku ada didalamnya, aku hari ini cuman bawa laptop aja. Dompet aku lupa bawa!
Setelah 5 hari libur total (kamis - senin), hari ini baru masuk kerja lagi.
Relax dulu aja ah.... ngomongin jalan-jalan yang pernah aku jalani. Ini catatan pribadi, mau dibuang sayang, hitung-hitung disimpan aja di server. lumayan.
Jalan-jalan kedua kali ini terjadi Akhir September 2004, 3 bulan persis sebelum tsunami. Sama yaitu naik “Star Virgo”, cuman routenya yang lain. Kali ini routenya Singapura, Pulau Penang/Malaysia dan Pukhet/Thailand.
Begitu sampai di Singapura, kesan yang duluan nampak adalah kebersihannya, selanjutnya ya biasa saja kota ini. Cuma kota ini kita kenal sebagai kota tempat orang berbelanja saja. Mangkanya, begitu mendarat keduakalinya ini, koq disergap rasa bosan, padahal yang pertama dulu aku sempat sms istri, you suatu hari harus menyempatkan diri suatu hari kesini! Orchard Roadnya yang terkenal tempat belannja itu, sama saja dengan di Jakarta daerah kota atau Mangga Dua, dia menang bersih dan kita menang jujur para penjualnya nggak “nipu” kayak mereka. Pedestrian-nya lebar, luas, mangkanya cocok banget untuk jalan-jalan. Kalau kita masuk Pusat perbelanjaan besar terkenal, jangan heran kalau yang belanja itu pada bicara bahasa Indonesia! Mungkin lebih dari 50 % yang belanja adalah wong Indonesia….
Nipu? Iya, di Lucky Plaza (Shopping Center), kurang hati-hati kita, bakalan dikerjain, ditipu. Beli barang, apa yang ditunjuk, yang dibungkus barang yang lain. Balik lagi untuk minta ganti? Bakal berantem and nihil. Mungkin karena mereka tahu kita datang dari Indonesia. Menurutku, penduduk negeri singa ini agak sombong, mentang-mentang tingkat ekonomi mereka udah maju. Menurut survey katanya, mereka sudah sejajar dengan Eropa, mangkanya gaya hidup mereka, fasilitas dan sosialnya sudah hampir seperti Eropa. Katanya lho…
Pergi kemana-mana sangat mudah menggunakan sarana transportasi yang tersedia, bis, taxi dan MRT (kereta bawah tanah). Beli karcis RMT dilakukan melalui mesin, masukkan uang, keluar karcis. Begitu sampai ditujuan, masukin lagi ex karcis ke mesin ticket, keluar deposit uang kita yang ditahan saat beli ticket tadi (sekitar 2 SGD). Teratur sekali mereka, bahkan saat hendak naik taxi. Taxi berderet di pinggir jalan di tempat-tempat keramaian, kalau kita mau naix taxi, jangan harap bisa naik taxi sembarangan kayak di Jakarta tanpa mengantri. Ditolak! Kita harus antri.
Kalau soal makan memang harus hati-hati, salah-salah kita makan barang yang haram. Ada sih tulisan, misalnya “muslim food”, “halal” atau lainnya yang memberi tahu kita bahwa makanan itu layak untuk dikonsumsi umat muslim. Disebelah (timur atau barat, aku nggak begitu jelas), ada daerah muslim besar, disana ada masjid, rumah-rumah makan Pakistan, Timur Tengah dan lain-lain. Makan disini aman, cuman kebanyakannya makanan timur tengah, maklum penduduknya kebanyakan keturunan arab. Disana ada pusat perbelanjaan kecil tapi isinya padat banget, namanya Mustapha kalau nggak salah. Segala barang ada disini, elektronik, baju, tas, koper cendera mata dan lain-lain. Biasanya kita kalau ke Singapura, ini salah satu tempat favorite yang harus dikunjungi. Murah dan baik.
Begitu naik kapal, karena kapalnya itu-itu juga, tiba-tiba seperti waktu menginjakkan kaki di Singapura, merasa bosan dengan sendirinya padahal kali ini kamar tempat menginapnya di kelas balkon (mungkin bintang 5 kalau didarat). Pemandangan lautnya bagus karena kamarnya di balkon kebetulan menghadap laut.
Seperti yang dulu, kapal ini bagus banget dalam mengarungi perjalanannya, hening tidak gemuruh seperti kapal penumpang biasa. Kalau nggak nengok keluar kita nggak berasa bahwa kita lagi berjalan. Mungkin karena usia kapalnya masih baru ya? Kalau lagi iseng, pernah menelusuri badan kapal dari ujung ke ujung, dari depan ke belakang. Panjang banget. Ada lapangan Golf mini di lantai paling atas, Kolam renang, Fitness Center dan lain-lain. Yang asyik adalah waktu matahari mau tenggelam, cahaya disekeliling didominasi oleh warna kekuning-kuningan yang mantul ke laut. Orang-orang pada duduk di geladak sambil ngobrol, becanda dan foto-foto atau ambil gambar melalui handy camera. Disebelah kiri kanan kapal terlihat kapal-kapal tangker yang berjalan pelan karena beratnya. Kalau kita mau, banyak acara sebetulnya dikapal ini kalau mau diikuti seluruhnya, ada karaoke, film, kabaret dan roulet!
Kali ini penumpangnya kebanyakan dari India, mungkin 1/3nya India. Kabarnya mereka memang datang dari India langsung ke Singapura untuk kemudian langsung berlayar. Hebatnya, mereka sempat-sempetnya buat sinetron! Itulah peluang ya, jadi lebih murah kan?
Waktu masuk ke ruang kemudi, wah semuanya sudah serba digital, asyik banget deh.
Waktu mendarat di Penang, suasananya sama seperti Kuala Lumpur, cuman di Penang ini karena kotanya lebih kecil jadi agak lengang. Di Malaysia ini budaya Chinese sangat mencolok dengan berbagai atributnya, mulai dari gedung khasnya sampai kelentengnya yang banyak banget dan ada yang jadi objek wisata. Kehidupan agama cukup kental disini, baik Islam, Kong hu Cu dan lainnya berdampingan kayak kita di Indonesia dengan damai. Aku sempat shalat ‘Asar sendiri, cari mesjid sendiri, pada saat teman-teman lagi masuk ke salah satu kelenteng, kupikir dari pada masuk kelenteng – mendingan masuk mesjid! Mesjidnya di pinggir pantai, kecil. Padasannya diluar, melingkar dengan keran kurang lebih 4 buah. Mesjidnya sama dengan kita, kebetulan waktu itu berhenti di daerah pinggiran kota, jadi mesjidnya, maksudnya suasana, interior dana apa-apanya itu mirip banget dengan mesjid yang ada di kampung-kampung di pulau Jawa. Serasa di Indonesia, belum lagi ngomongnya hampir 90% mirip. Berbicara soal bahasa, 90 % memang sama, bedanya cuman cengkok aja kali. Tapi ada hal-hal yang lucu, aku baca plang di gedung-gedung baik itu pemerintah maupun swasta, banyak istilah-istilah yang bener-bener asing bagi kuping. Aku lupa istilah-istilah itu, tapi bener-bener jadi senyum saat membacanya. Satu lagi yang unik, mungkin kalau di Indonesia pasti dianggap keren, sopir-sopir bis yang disewa, bacaannya koran berbahasa Inggris! Kota ini pada saat Tsunami kabarnya kena dampaknya pula.
Guide yang membawa kita cerita bahwa, Tuan Mahathir itu bagus, dia sangat mendorong warga negara Malaysia untuk maju. Dia bebaskan biaya sekolah untuk orang yang berprestasi, orang yang pintar. Dia sangat menyokong upaya-upaya terobosan baru, riset-riset, dia bikin kawasan yang berteknologi tinggi di Kuala Lumpur (iya itu memang ada, kita sempat melewatinya). Pokoknya tuan Mahathir bagus katanya. Namun, hal yang menarik adalah, pada saat orang-orang berbicara mengenai politik, seperti kita dulu jaman Soeharto, sebelum bicara celingukan dulu takut ada yang nguping. Rupanya sistim politik jaman Mahathir hampir sama dengan jaman Soeharto, kritik-kritik yang pedas berakibat penjara! Cari makan disini juga harus rada hati-hati mengingat restoran restoran yang tersedia banyak sekali restoran chinese, jadi urusan B2 pasti tersedia. Tapi, meskipun nggak ada babi, maksudnya masakan melayu, belum tentu lidahku ini cocok. Repot memang aku ini soal makanan. Pernah lagi jalan mau cari makan, aku berdua temen lewat kantor polisi, ada papan pengumuman besar, begitu didekati, ada pengumuman “Wanted”, siapa yang di”wanted”? Ternyata Dr. Azahari sama Nurdin M Top, buron yang dicari yang sedang berada di Indonesia.
Sambil iseng habis makan, mata jelalatan lihat-lihat sekeliling. Eh, ada mobil Kijang? Di Malaysia dikasih nama lain, aku lupa namanya. Banyak juga sih mobil-mobil yang beredar juga di Indonesia. Yang mendominasi disana adalah mobil-mobil kecil, kabarnya memiliki mobil disana memerlukan banyak uang, masalahnya biaya pemeliharaan dan bahan bakarnya sangat mahal sekali. Itu berarti, kalau seseorang punya kendaraan roda empat, dia sudah kaya banget. Jelas, merek mobil yang mendominasi pasar adalah merek “Proton”, mobil buatan lokal Malaysia, kebanggaan Malaysia. Lalu lintasnya teratur, pada taat hukum lalu lintas. Hampir tidak ditemukan jalanan macet, mungkin karena jumlah mobilnya tidak seheboh di Indonesia? Yang menarik, kalau kita mau isi BBM, ada pom bensin yang nggak ada orangnya, kita datang, isi, nah bayarnya aku nggak tahu gimana caranya. Maklum cuman lihat dari bis. Tapi apapun, itu menandakan bahwa, rakyat Malaysia bisa dipercaya, tanpa pengawalan pun dia tidak berbuat curang.
Yang ke Pukhet aku simpan ke servernya besok lagi..
Lihat gambar diatas, itu foto lama, tahun 2001. Waktu itu perusahaan mengadakan gathering dengan model “jalan-jalan” naik kapal pesiar mewah “Star Virgo” yang melayani route Singapura sampai ke Pukhet (Thailand), tapi waktu itu kita ambil distination hanya sampai ke Kuala lumpur. Biasa jalan-jalan karena mencapai target tahun yang lalu. Semenara yang jalan-jalan sampai ke Pukhet aku lakukan di tahun 2004 lalu berdua sama temen.Abis tiarap nih seminggu.
Hehe.. sehabis tiarap, terbitlah diskusi.
Bismillaahir rahmaanir rahiim,
Sesuai firmanNYA didalam Al Qur’an, naiknya Malaikat untuk menyerahkan “laporan” atas diri manusia memerlukan waktu satu hari untuk mencapai ‘Arsy, dan waktu satu hari itu menurut ukuran manusia adalah sama dengan 1,000 tahun.
· QS 22:47 :”……Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti 1,000 tahun menurut perhitunganmu.”
· QS 32:5 “ DIA mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNYA dalam 1 hari yang kadarnya adalah 1,000 tahun menurut perhitunganmu”
Mari berhitung.
Malaikat adalah mahluk energial, maksudnya dia diciptakan oleh ALLAH dari energi yaitu cahaya, bukan sebagaimana kita, mahluk material, mahluk yang diciptakan dari materi. Karena Malaikat diciptakan dari cahaya, maka pasti kecepatan geraknya adalah sama dengan kecepatan cahaya, atau bahkan mungkin lebih.
Kecepatan cahaya menurut ilmuwan adalah 300,000 km perdetik, itu artinya cahaya mampu mengelilingi bumi di garis khatulistiwa sebanyak 7.5 kali dalam 1 detik!. Dalam 1 hari kita punya 24 x 60 x 60 detik, sama dengan 86,400 detik. Jadi dalam sehari cahaya kita akan menempuh jarak 86,400 x 300,000 km atau sama dengan 2,592,000,000 km (dua milyard lima ratus sembilan puluh dua juta km). Jadi Malaikat dalam hal ini menempuh perjalanan 2,592,000,000 x 365 x 1,000 = 9,460,800,000,000,000 (itu berapa km namanya ya ? sembilan nggak tahu namanya empat ratus enam puluh triliun delapan ratus milyard km) dalam 1 hari saja. Itu analoginya. Kenyataannya ? Wallahu ‘alam.
Atau ada lagi firman ALLAH, orang-orang miskin yang bertaqwa akan masuk ke syurga lebih dulu setengah hari dari orang-orang kaya yang bertaqwa, yaitu kalau menurut hitungan dunia adalah sebanyak 500 tahun! Persamaannya kan setengah hari sama dengan 500 tahun, jadi kalau 1 hari sama dengan 1,000 tahun.
Ada lagi, saat manusia yang telah meninggal dibangkitkan dari alam kubur saat setelah qiamat yaitu alam mahsar, manusia ditanya olehNYA, berapa lama kamu tinggal di bumi, manusia menjawab (QS 20:103)::”…..kami tidak berdiam melainkan hanya sepuluh hari…” padahal itu telah berlangsung ribuan tahun! Ini relativitas waktu atau beda waktu karena dimensinya yang lain?
Kembali ke perhitungan hari tadi, ALLAH menyampaikan bahwa perjalanan Malaikat ke ‘Arsy memakan waktu 1 hari yang dalam perhitungan manusia adalah 1,000 tahun. Dari konteks ini saya berpikiran bawa, dunia Malaikat memiliki dimensi waktu yang berbeda dengan kita. Analogi saya mengatakan bahwa, kalau satuan hitung dunia yang namanya satu hari itu sama dengan berputarnya bumi pada porosnya sehingga setelah 24 jam, si bumi ini berputar dia akan kembali ke “posisi semula terhadap matahari” dan setelah melewati 360,25 kali berputar, si bumi ini akan kembali pada titik dimana ia berada, karena ia disamping berputar pada porosnya, juga “terbang” mengelilingi matahari. Mengapa saya memberi tanda kutip pada kalimat “posisi semula terhadap matahari”? Karena saat ia bertemu lagi pada matahari, ia telah jauh dari posisi kemarin karena “terbang”nya si bumi ini dalam perjalanan mengelilingi matahari. Iya kan ?
Nah itulah disebut hari, disebut tahun. Tegasnya, hitungan hari dan tahun didasarkan pada bola dunia ini berputar pada porosnya dan berjalan/mengorbit matahari. Hanya itulah yang kita tahu untuk menghitung waktu.
Sekarang ALLAH berfirman bahwa, 1 hari Malaikat naik ke langit sama dengan 1,000 tahun menurut perhitungan manusia. Menurut saya jelas definisinya berbeda. Maksud saya, waktu didunia dihitung berdasarkan berapa lama bumi berputar pada porosnya dan berapa lama bumi “terbang” mengelilingi matahari, nah kalau waktu Malaikat? Mungkinkah disitu dihitung berdasarkan sesuatu yang berputar pada dirinya sendiri dan sesuatu itu juga mengelilingi sesuatu . Atau mungkin yang sederhana adalah tetap, waktu dunia yang dipakai, hanya jarak yang sedemikian jauh yang bila dilakukan oleh manusia naik kendaraan angkasa yang kecepatnnya sama dengan 300,000 km bagi Malaikat hanya butuh 1 hari ? Menurut saya ini tidak, karena ayat ini kan diturunkan 1500 tahun yang lalu dimana teknologi belum seperti saat ini sehingga kita tahu ada suatu kecepatan yang dapat melaju sedemikian cepatnya yaitu cahaya. Saya yakin, bila ada wahana yang dapat sedemikian cepat melaju dan manusia naik kendaraan cepat seperti itu, tak akan ada mampu yang mampu duduk anteng didalamnya, mungkin badan manusia bisa akan berantakan tak berujud! Bukankah kendaraan wahana antariksa sekarang baru mencapai kecepatan 20,000 km/jam? Jadi menurut saya tetap pada kemungkinan pertama, yaitu sesuatu yang berputar pada dirinya sendiri dan sesuatu itu juga mengelilingi sesuatu. Kalau yang itu menurut hipotesa saya berlaku, bisa dibayangkan, berapa besarnya sesuatu itu, baru sekali putar pada porosnya saja sudah memakan waktu bumi 1,000 tahun! Sekarang, berapa besar sesuatu yang dikelilinginya, atau, berapa jauh sipengeliling itu memiliki jarak dengan pusat yang dikelilinginya? Bisa membayangkan ? Jika bisa dibayangkan, berapa lama si sesuatu itu sampai pada titik yang sama dalam kurun perputarannya mengelilingi sesuatu itu? Hanya DIA yang mengetahui....
Kalau bisa dibandingkan, ini hanya semacam perbandingan, di dunia saja, ada yang mengatakan, garis tengan alam semesta ini katanya memiliki panjang 30 milyard tahun cahaya? Itu baru di alam nyata ini. Kalau memang bisa di”duga” benar sekian, jadi berapa km ya? Subhanallaah...kalkulator saya nggak mampu menghitungnya!. Subhanallaah.... Dan DIA tidak merasa berat dengan memelihara itu semua (QS 2:255)! Subhanallaah...
Saya yakin sekali disini bahwa, ALLAH telah menyatakan dalam firmanNYA bahwa Malaikat tadi memerlukan 1 hari untuk sampai di Arsy’, itu artinya bahwa, ALLAH menginformasikan kepada kita bahwa Malaikatpun butuh waktu untuk sampai ke Arsy’. Tentunya DIA dalam meyampaikan informasinya tentang waktu tersebut didasarkan pada sesuatu, yaitu waktu itu sendiri.
Saya juga jadi rada bingung nih mengungkapkannya.
Begini, Kalau ALLAH menyatakan bahwa Malaikat perlu 1 hari untuk mencapai Arsy’, itu artinya ALLAH membagi-bagi atau memenggal menggal waktu, artinya penggalan waktu kemarin, hari ini, besok dan seterusnya. Betul ? Pertanyaannya maka, waktu yang di informasikan ALLAH itu berdasarkan apa? Menurut saya, ya itu tadi sesuatu yang berputar pada dirinya sendiri dan sesuatu itu juga mengelilingi sesuatu
Benar kata pepatah, janganlah kita menyia-nyiakan waktu, membuang-buang waktu, rugi! Nampaknya sepele ya waku 1 detik, padahal dengan 1 detik itu, cahaya bisa mengelilingi bumi sebanyak 7.5 kali dan atau yang lebih sederhana, 1 detik itu bumi telah berputar pada porosnya sejauh 1,600 km lebih, atau sejauh 170,000 km bumi ini melayang di angkasa mengelilingi matahari. Fantastis kan? Itu hanya 1 detik!
So, sampai saat ini, dibenak saya selalu menggantung tanya, jadi di dimensinya yang lain itu tetap ada “orbit”, sesuatu yang berputar pada dirinya sendiri dan sesuatu itu juga mengelilingi sesuatu, dan tentunya jauh lebih dahsyat ?. Saya pernah posting di blog ini, DIA menciptakan bumi ini dalam 6 masa, dan kata para ilmuwan sampai saat inipun berpendapat bahwa pembentukan alam semesta ini belum selesai. QS 7:54: “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah ALLAH yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu DIA bersemayam di atas 'Arsy’ Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-NYA. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak ALLAH. Maha Suci ALLAH, Tuhan semesta alam.” Jadi kita ada di masa yang keberapa saat ini? Ke satu, dua, tiga atau yang mana? Ya ALLAH, betapa mutlaqnya ENGKAU, taqdirkanlah senantiasa aku ini selalu ingat kepadaMU, selalu menyebut namaMU, selalu tasbih atasMU. Jadikanlah aku sebagai hambaMU yang engkau panggil dengan ulil albaab.....

Foto-foto yang nampak adalah:
Kiri, lukisan enca waktu dia SD kelas 3, katanya gambar hutan. Dia sebenarnya punya bakat seni yang baik, kalau menggambar, gambarnya bagus (stidaknya untuk ukuran usia dia), sayangnya sekarang dia nggak pernah lagi gambar. Waktu psycho test, nampak memang dia
punya rasa estetika yang baik, misalnya untuk kesenian, menggambar dll. sementara abangnya mengakui bahwa dia gak bisa gambar.
Nah Gambar sebelah kanan adalah gambar yang masih gress, OQ, mamah, enca. Diambil baru-baru ini di studio. Udah pada gede ya?
Kadang kalau kumpul dirumah suka rada kesel melihat mereka disuruh melakukan yang kita inginkan lelet banget, tapi kalau lagi jauh, terus ditelepon, mendengar suaranya di telepon rasanya trenyuh banget, kangen, suka pingin nangis..
Senengnya kalau lagi kumpul itu, pergi kemana gitu, makan di luar atau apa lah, wah rasanya gembira banget.
Nak, semoga kalian jadi anakn yang sholeh ya...